Merokok, kata yang mudah diucapkan dan dilakukan. Tetapi dampak yang ditimbulkan tidak sesederhana seperti kata dasarnya tersebut. Saat ini problematika rokok di lingkungan kampus menjadi trending topic yang tak kunjung menemukan solusi cerdas. Idealnya, lingkungan kampus yang katanya tempat orang-orang berintelektual haruslah bebas dari asap rokok, atau bisa dikatakan kawasan bebas asap rokok.

            Melihat realitanya saat ini, wilayah kampus tidak sepenuhnya steril dari asap rokok. Masih banyak dijumpai mahasiswa yang merokok di lingkungan kampus, meskipun tidak dalam kelas atau dalam ruangan, tidak luput dari mahasiswa juga petugas keamanan atau karyawan bahkan dosen pu masih melakukan aktivitas merokok di lingkungan kampus. Merokok di lingkungan kampus tentu sangat mengganggu warga lain yang terdekat, mengingat bahaya merokok tidak hanya pada pelaku aktifnya, tetapi pelaku pasifnya juga terkena imbasnya.

             Dalam label rokok pun sudah terpampang dengan jelas risiko yang ditimbulkan karena merokok. Nampaknya si perokok tidak pernah melirik peringatan tersebut dalam rokok yang dibeli, alhasil kesehatan pun tak dipikirkan. Dalam konteks wilayah kampus, sterilisasi lingkungan kampus agar tidak tercemari asap rokok harus dilakukan secara tuntas dan menyeluruh. Beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk kampanye kampus bebas asap rokok yaitu dengan menanamkan sikap sadar diri akan lingkungan, dan menyediakan smoking area (tempat merokok).

Menumbuhkan sadar diri terhadap lingkungan kampusnya bukan hal yang mudah, ini berkaitan dengan kepribadian masing-masing individu. Untuk itu sosialisasi dan pengertian mengenai program kampus bebas asap rokok harus disampaikan pada seluruh elemen yang ada di kampus. Semua elemen kampus pun harus mengupayakan hal ini tanpa terkecuali, ketika mahasiswa tidak boleh merokok di lingkungan kampus, perlakuan itu pun harusnya berlaku untuk dosen, karyawan, petugas lain yang masih berkepentingan di wilayah kampus tersebut.

               Berkaitan dengan smoking area, hal ini harusnya bisa menjadi solusi cerdas agar kampus steril dari asap rokok. Jadi ada tempat tersendiri yang disediakan untuk perokok, seperti yang sudah berjalan di rumah sakit. Smoking area menjadi pilihan alternatif yang sangat menjanjikan jika mampu direalisasikan setiap universitas. Smoking area ini haruslah jauh dari aktivitas perkuliahan, dan juga areanya agak lebar, sehingga asap-asap rokok tersebut langsung terbawa hembusan angin. Kalau bisa di area terbuka yang warga kampus jarang beraktivitas di area tersebut.

            Di lain sisi dan yang lebih penting adalah, merokok merupakan kegiatan bodoh yang dilakukan manusia, menghabiskan uang, waktu, kesehatan, kegiatan sosial, dan masih banyak hal lain yang merugikan. Dalam segi apapun merokok tidak memberikan manfaat bagi pelakunya. Orang yang cerdas tentu akan mengambil keputusan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok sedini mungkin.

Oleh: Hesti Ariyani