Judul Buku                                            : Ronggeng Dukuh Paruk

Penulis                                                   : Ahmad Tohari

Penerbit                                                 : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit                                         : Cetakan 7, 2011

Dimensi                                                 : 14,5 cm x 20,5 cm

Tebal Buku                                            : 406 halaman

        Konon, mahkluk Tuhan yang paling indah itu adalah seorang wanita. Dimana, kesempurnaan dan keindahan yang tak dimiliki makhluk lain ada padanya. Perihal luar biasa yang dapat memikat siapa saja yang memandangnya. Namun itu juga tergantung dari sudut pandang apa kita melihat. Dari cara bicaranya, tingkah lakunya atau sifatnya. Wanita pedesaan yang tulen memperlihatkan keindahan wanita yang masih murni, layaknya tokoh wanita utama, Srintil, pada novel Ronggeng Dukuh Paruk.

        Kecantikan Srintil inilah yang membuat dirinya sangat dikenal sebagai penari ronggeng di lingkungannya. Cerita kebudayaan lewat seni tari inilah yang nantinya akan membawa nasib Srintil, dari gadis desa, sang penari, sampai tahanan politik. Profesi yang dijalani Srintil nampaknya tidak mudah, meski segala kebutuhan telah terpenuhi.

        Ronggeng Dukuh Paruk merupakan novel roman lama terbitan 1982, namun baru-baru ini diterbitkan kembali, menyongsong pemutaran film sang penari. Terbitan terbaru ini menggabungkan trilogi dukuh paruk menjadi satu buku.

        Novel ini menceritakan sebuah dusun yang tetap mempertahankan kebudayaan dan ciri khasnya. Meski zaman telah berkembang, kebudayaan itu tetap dipertahankan sebagai sebuah kebanggaan, dimana ronggeng dikisahkan sudah menjadi bagian hidup warga disana.

        Itulah dukuh Paruk pada periode tahun 1950-an. Setelah kehilangan ronggeng selama 11 tahun, mereka akhirnya menemukan seseorang yang benar-benar telah dihinggapi indang ronggeng dalam dirinya. Srintil tak lain adalah cucu dari kamitua (kepala dukuh-red) di dukuh itu. Srintil dikisahkan memiliki keahlian menari, bak daun yang lemah gemulai ditiup angin dan suara yang membuat orang merinding saat mendengarnya bersenandung. Diusianya yang masih relatif muda, Srintil dengan suka rela menjadi seorang ronggeng. Bahkan bukan hanya itu saja, bisa dikatakan dia juga menjadi sundal (pelacur-red).

        Pada perjalan hidupnya Srintil berteman dengan seorang pemuda yang bernama Rasus. Dimana, Srintil sempat menolak cinta pemuda itu, meski pada akhirnya dia malah jatuh cinta kepada Rasus. Kisah roman kedua manusia tersebut yang nantinya menjadi inti dari cerita buku ini. Saat zaman telah membalik keadaan dan semuanya berubah, justru tak ada kesempatan lagi untuk mereka mencapai kebahagiaan yang nyata. Hal itu bisa dimengerti karena novel ini diakhiri dengan cerita bad ending.

        Ahmad Tohari sebagai penulis mampu menuangkan imajinasinya dengan sangat apik dalam novel ini. Bisa dikatakan dia seorang pendongeng yang hebat. Ceritanya terkesan nyata, peristiwa-peristiwa yang terukir di dalam novel ini seolah memang nyata dan ada, mungkin ada beberapa peristiwa yang memang diambil dalam perkembangan sejarah Inodnesia.

        Permainan kata yang beragam dan cara penyusunannya sangatlah teratur. Setelah membaca novel ini, bisa dikatakan novel ini tidak melalui lembaga sensor terlebih dahulu. Bahasa kasarnya terasa sekali dan mampu memberi kesan seorang warga dukuh yang notabene tidak punya aturan saat berbicara atau memang bahasa seperti itulah yang digunakan dalam keseharian mereka.

        Dilihat dari cara penulisan, pemilihan kata, dan tata bahasanya, buku ini masuk kategori bacaan dewasa. Namun, bagi pecinta novel buku ini layak baca dan dikoleksi. Meski novel lama, cerita-ceritanya masih relevan untuk saat ini, yang tentunya dalam bentuk berbeda. Lalu dibanding novel sejenis, ronggeng dukuh paruk jelas memiliki keunikan tersendiri.