Yogyakarta – Minggu (6/9), mahasiswa baru (maba) FT UNY kembali menjajaki kampus setelah OSPEK selesai dilaksanakan, maba dipertemukan dalam forum follow up kapita selekta yakni Student Development Program (SDP). UKMF LPMT Fenomena UNY yang notabene bergerak dalam bidang pers dan jurnalistik di FT menyambut 13 maba kapita selekta jurnalistik dengan kreasi baru di ruang sidang PKM. Konsep yang diusung yakni penyajian materi menggunakan metode ceramah, diskusi lotis dan nonton bareng film Soe Hok Gie yang membuat mahasiswa semakin terpacu untuk berfikir kritis dan mengenal lebih dekat dasar-dasar pers mahasiswa.

        Acara SDP jurnalistik dibagi 3 sesi. Pertama yakni materi. Materi disampaikan oleh Nanang Yuniantoro yang menjelaskan hubungan hakikat mahasiswa dengan pers mahasiswa (persma). Idealnya mahasiswa dalam melakukan sesuatu hal harus mengutamanakan mengunakan pikiran atau logika daripada perasaan, hal ini dijelaskan ada kaitannya dengan budaya persma yang selalu berlandaskan pemikiran kritis. Tak lupa juga, Nanang memberikan motivasi bahwa maba yang telah memilih kapita selekta jurnalistik adalah orang-orang visioner karena siap untuk berkembang pola pikirnya. “Kalian yang memilih jurnalistik adalah orang-orang yang siap berkembang pola pikirnya,” ujar Nanang Yuniantoro.

        Kedua, acara diisi dengan diskusi lotis. Awalnya, 13 maba dibagi menjadi 2 kelompok yang nantinya masing-masing membuat lotis dengan bahan dan alat yang sudah disediakan oleh UKMF LPMT Fenomena. Perwakilan satu maba dari masing-masing kelompok mengambil bahan dan alat, kemudian mendistribusikan ke kelompoknya sehingga mulai digarap. Kerjasama diperlukan pada sesi ini agar cepat jadi dan segera dinilaikan kepada tim lawan. Alhasil masing-masing kelompok berani berargumen saat lotisnya diberi komentar oleh lawan. Suasana ceria dan menyenangkan terlukis dari maba yang antusias menjalani sesi ini. “Ini berbeda dari yang dibawah itu mas, mereka seperti tegang dan hanya ceramah saja isinya,” ujar Siti Julaeha peserta SDP jurnalistik.

        Sesi terakhir, nobar film Gie menjadi pilihan kawan-kawan UKMF Fenomena untuk mengenalkan lebih dekat pers mahasiswa. Tokoh utama Soe Hok Gie dengan karakter berani melawan kesewenang-wenangan melalui tulisan dianggap cocok menjadi pelajaran awal maba di dunia jurnalistik. Harapannya, peserta SDP jurnalistik berani dan mampu mengutarakan pemikirannya  untuk kondisi kampus melalui tulisan-tulisan yang mereka buat sendiri. “Memang film ini agak berat bagi maba, namun bisa jadi pelajaran baik untuk menumbuhkan rasa berani mengutarakan pendapat atas kondisi yang ada,” ujar Widi Pradana Riswan Hermawan selaku pengurus UKMF Fenomena. [Edwin]