Oleh Edwin Widianto

Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai – Pramoedya Ananta Toer.

        Masa Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) memang menggetarkan hati mahasiswa untuk berpartisipasi lebih kepada negeri. Suara-suara teriakan agen perubahan, iron stock, agen intelektual, dan sosial kontrol yang dahulu menggema di hati mahasiswa kini terlihat memudar. Mereka dikepung kesibukan akademik dan dunia baru di kampus, tanpa mengingat tanggung jawab atas status mahasiswa yang telah diterimanya.

        Memang bernar fungsi mahasiswa ialah belajar, tetapi tak hanya di bangku kuliah semata. Banyak hal yang bisa dipelajari di luar kelas, seperti halnya ilmu menulis. Ilmu yang sangat membantu mahasiswa untuk urusan laporan hingga skripsi. Tak hanya itu, menulis juga dapat membantu mahasiswa dalam menyuarakan pemikiran untuk kondisi kampus hingga Indonesia pada umumnya.

        Uniknya, kebanyakan mahasiswa kini lebih suka menuliskan pemikirannya melalui akun sosial media yang lebih dikenal membuat status. Sesi diskusi saat dibuka oleh dosen pun sering dijumpai mahasiswa yang asyik bermain gadgetnya ketimbang mencatat hasil tukar pikiran dengan yang lain. Alhasil, lahir mahasiswa yang inginnya instan dengan melakukan copy paste untuk menyelesaikan permasalahan kesulitan menulis tugas laporan, makalah, hingga resume. Alasan yang mendominasi munculnya budaya copy paste adalah waktu mengerjakan yang mepet (deadline) dan malas untuk menulis sendiri dari pemikiran yang muncul dari hasil membaca buku. Sulit ditemui mahasiswa yang aktif menuliskan pemikirannya di media pribadi semisal blog atau lebih jarang lagi di media cetak. Entah karena budaya membaca mahasiswa yang menurun atau disibukkan untuk memainkan gadget mereka.

        Menulis memang pekerjaan yang mudah diucapkan namun sulit dilakukan. Disadari atau tidak mahasiswa mengeluhkan membuat awalan paragraf yang pas dengan pemikirannya. Permasalahan tersebut dapat teratasi hanya dengan memperbanyak membaca. Bisa membaca buku fiksi maupun non-fiksi hingga berita yang ada di media cetak ataupun online. Budaya membaca sangat penting dilakukan sebelum menulis, karena akan memupuk berbagai macam kosakata di otak dan membentuk gaya penulisan. Tak terlepas juga budaya dialektika yang disebabkan efek samping dari membaca akan tumbuh dengan sendirinya.

        Bicara soal membaca, jarang sekali mahasiswa membaca buku bacaan untuk mengisi waktu longgar saat di kampus. Mereka kebanyakan asyik bermain dengan gadgetnya, entah selfie-selfie atau sekedar chat dengan temannya. Mereka lebih khawatir jika hand phonenya tak ada kuota internet daripada tidak memiliki buku bacaan. Pepatah yang berbunyi “dahulu manusia ada karena berpikir dan sekarang manusia ada karena eksistensi” cocok sekali untuk perumpamaan keadaan mahasiswa sekarang yang gemar mencitrakan diri di dunia maya.

        Saat ini, jarang mahasiswa mengenal sang maestro sastra Indonesia yang bernama Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan Indonesia pertama yang dinobatkan menjadi kandidat penerima nobel. Selain menjadi kandidat nobel, beliau juga menorehkan berbagai prestasi. Beliau meraih semua itu tak lepas dari sejarah kejam yang dialaminya, penyiksaan, kerja paksa, hingga pengasingan ke berbagai daerah. Saat diasingkan ke Pulau Buru, beliau menyempatkan membuat sebuah mahakarya yaitu Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca). Penulisan karya tersebut pun penuh perjuangan, pasalnya saat pengasingan beliau dilarang menulis karena ada instruksi dari pemerintahan orde baru (tak bebas bersuara-red) bahwa dirinya dianggap berbahaya. Karya tulis beliau juga hampir tak terselamatkan karena ulah tentara yang membakarnya. Adanya bantuan dari pastur Jerman dan orang Australia Max Lane akhirnya bisa menyelamatkan beberapa karyanya dan diterbitkan di luar negeri. Perlu diketahui, beliau menulis kurang lebih menghasilkan 200 karya sastra dan sudah diterjemahkan dalam 36 bahasa.

        Mahasiswa era 60’an juga muncul seorang aktivis yang giat menulis. Sebut saja namanya Soe Hok Gie. Mahasiswa jurusan sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini  rajin membaca buku dan menulis catatan harian semasa hidupnya.  Sampai-sampai catatan hariannya diterbitkan oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Gie juga dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun waktu Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995). Tesis dan skripsi sarjana mudanya pun tak luput dari incaran penerbit. Pasalnya, diakui gaya penulisannya bisa mengantar pembaca berimajinasi ke arah kejadian sesungguhnya.

        Jadi mulai sekarang mahasiswa jangan malas lagi mencoba menulis. Awali dengan menyisihkan uang jajan atau mengalihkan biaya membeli kuota internet untuk membeli buku bacaan. Tentunya agar kosakata bertambah serta menjadi teman bacaan saat ada waktu luang di kampus. Jangan lupa juga untuk membeli buku khusus guna membiasakan diri menulis catatan harian yang sepele tapi bermanfaat melatih gaya penulisan. Efek samping dari hobi menulis yang dibarengi dengan gemar membaca sangat terasa jelas bagi mahasiswa. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Ingatlah! menulis tanpa membaca adalah sebuah kemunafikan.