Karya: Im

        Matahari mulai jatuh, menimbulkan bayangan yang mulai memanjang dan miring, para penjual gorengan sudah mulai berjejer dengan gerobaknya. Terlihat manis tapi sebenarnya kosong. Begitu lah suasana saat Aku menunggu Iwan di taman Pancasila. Aku tak akan lupa saat-saat menunggu dimana gelisah mulai mencapai klimaks. Aku terbayang semua kenangan-kenangan sebelum kami sama-sama menyadari bahwa kita terkait entah oleh apa, saat di bangku, di kantin, di taman, saat Iwan bercerita tentang Tan Malaka, tentang Musso, Hitler, Soe Hok Gie, tentang orang-orang yang tak ku kenal sampai Aku mengenalnya. Aku beradu argumen dengannya di manapun selama masa kuliah. Aku tahu ada yang aneh, Aku bodoh karena tak paham betul apa itu. Setelah empat tahun kami berjalan bersama tapi di jalan masing-masing, dan Aku menemukan cinta palsu yang silih berganti. Tapi beberapa bulan ini Aku baru menyadari, tentang sosok yang benar-benar mengacaukan suasana hati dan ekspresiku, mengusik rasa sadar yang membuat jantungku berdegup keras, dia yang selalu berada sedekat ini denganku. Iwan. Begitu dekat. Lalu mengeras.

        Aku menyingkap lengan kemejaku, jam tangan menunjukkan pukul 4 sore dan jarum panjang di angka11. Aku sengaja datang lebih awal, agar Aku bisa lebih tenang saat bertemu Iwan. Padahal kami janjian pukul 5. Aku tak tahu Iwan akan datang atau tidak. Tapi Aku selalu yakin Iwan akan datang dan inilah waktu yang tepat untuk pura-pura bersikap biasa.

        “Ah, mana mungkin dia juga merasakan yang sama”, gumanku sambil melirik ke arah jalan.

        Pukul 5 tepat Iwan datang dan menghampiriku, Aku tahu itu dia, Aku tahu betul cara dia berjalan dan suara sepatunya. Aku segaja tak menoleh ke arahnya. Aku ingin dia dulu yang menyapaku.

        “Hay Nay, wah padahal kukira Aku datang duluan, tadi mampir dulu ke toko buku, liat liat sih sebenernya, tapi gara gara Madilog-nya Tan Malaka, jadi gak sengaja kebeli, nih buat kamu aja”, kata Iwan sambil mengambil buku di tas pinggang cokelatnya, dan meletakannya di depanku.

        “Yey, ngomong aja kalo sengaja beli buat Aku, kan Aku cinta mati sama buku”, sahutku sinis ke Iwan. Belum sempat tanganku menyentuh buku itu, tanganya lebih dahulu menyambar buku itu lagi. Tangan kami bertabrakan, Aku merasakan tanganya yang dingin. Jantungku berdegup. Matanya yang tajam melihatku cukup lama, Aku pura-pura tak mengerti apa yang dia rasakan.

        “Ah, gak jadi kalo gitu, kamu cintanya sama buku sih, gak sama Aku”, jawab Iwan sambil memalingkan mukanya.

        “Udah sini, sini bukunya yang nggak sengaja kebeli. Biarin lagian kamu kan gak suka sama Aku”, jawabku sambil menyambar buku itu dari tangan Iwan. Aku berharap lebih pada makna tersirat dari kata kataku tadi.

        Kami terdiam cukup lama, Aku sengaja tak menoleh ke Iwan, Aku pura-pura fokus pada buku itu dan membolak balik halaman. Aku tak tahu apa yang Iwan pikirkan. Aku berharap dia mengatakannya. Tapi untuk sekarang Aku tidak mempunyai jawaban.

        “Nayla”

        “Apa ??”, jawabku. Aku tak menoleh, Aku takut dia akan tahu yang sedang Aku rasakan dari degup jantungku yang makin keras. Suaranya begitu berat, menyelusur derap ke aliran darahku.

        “Aku sayang kamu, Nayla. Aku tahu itu mengacaukanmu, begitupun Aku”.

        Aku menoleh kearahnya, dia memandangku tajam, entahlah karena apa Aku tak menjawab dan berpaling lagi. Handphoneku menyala, kulihat ada sms dari kak Gani.

        “ Kak Gani ??”, gumanku dalam hati.

         “Nayla, kamu di mana ? Aku harap bisa bertemu”.

        “Di Taman Pancasila, iya”, tulisku melalui tombol tombol handphonku. Aku tak menolehkan muka sedikitpun ke arah Iwan, tapi dari sudut mataku, Aku tahu Iwan masih memandangiku. Dia tetap diam. Menunggu jawabanku yang tertahan dikerongkongan. Dan begitu menyakitiku. Dia menyalakan rokoknya. Memainkan asapnya. Tak berpola. 15 menit kami tak saling bicara, Aku tak tahu cara memulai mengatakannya. Begitu hening dan hancur, tapi suasana hari itu begitu ramai dan riuh dengan suara kendaraan yang sesekali mengklakson berebut jalan. Aku melihat mobil kak Gani yang mulai diparkirkan di kiri jalan. Pandanganku sepenuhnya kuarahkan pada Kak Gani yang turun dari mobil dan berjalan dengan sedikit berlari ke arah kami.

        “Loh Wan, ada di sini ?”, Tanya kak Gani sembari duduk di sampingku, Iwan hanya tersenyum.

        “Oh ya Nay, keluar yuk, aku tahu tempat yang keren, kamu pasti suka”, ajak kak Gani kepadaku.

        Aku mengangguk pelan, tanda setuju. Iwan tahu Aku menyukai kak Gani. Kak Gani adalah seniorku, saat masa ospek dialah yang menolongku saat dihukum karena boneka barbieku lepas kepang rambutnya. Aku menceritakan padanya tentang kebaikan Kak Gani. Dia hanya menjawab “orang baik dan teramat baik kadang tidak baik”. Dingin dan begitu rapuh. The other side Iwan.

        “Eh, Aku pergi dulu ya Nay, Gan, soalnya mau ada acara nih”, pamit Iwan, dan dia beranjak dari tempat kami. Aku menangkap bayangan tubuhnya yang menghilang di persimpangan jalan dalam bus. Begitu cepat. Kalimat seperti itu terasa sangat sakit, entah oleh sebab apa. Tapi ada perasaan takut akan Iwan tak akan sedekat dulu denganku.

        Diam seperti benda yang menyakiti kami.

        “Udah ayo, nanti keburu malam”, kata kak Gani sambil mengenggam tanganku. Dan kami pun berangkat ke tempat yang dimaksud Kak Gani. Sebuah perpustakaan baru di persimpangan kantor polisi. Dia bercerita banyak denganku tentang perasaan, tapi aku tak tahu apa yang ada di benakku. Kak Gani dan semua buku-buku itu, seperti menjelma menjadi wajah-wajah baru yang tak kukenal, dan mereka bicara lewat bahasa-bahasa baru yang tak sanggup kumengerti. Benar mereka tidak mengenaliku. Aku hanya mengingat Iwan. Sepertinya Tuhan mempermainkanku.

        Hari hari kulewati bersama kak Gani, Aku seperti kehilangan semangat dan sayu. Kak Gani orang yang baik. Dia selalu berusaha ingin masuk ke dalamku. Menembus the other side-ku. Tapi ada satu hal dan satu alasan pembenaran atas sikap diamku. Aku hanya simpati dengannya. Bukan untuk ke dalaman rasa dan Cinta.

*****

        Siang ini setelah kuliah, kak Gani mengajakku having lunch. Dia menungguku di gerbang seperti biasa. Selama perjalanan dia bercerita banyak tentang psikolgi dan logika bengkok. Inti dari diriku sebenarnya tidak terima. Aku hanya menjawab sekenaku, Aku tak ingin berdebat.

        “Nay, kamu mau jadi pacar kakak ??”

        Aku masih ingat, Sentuhan tangan kak Gani yang dingin dan berkeringat itu seperti memaksaku.

        “Maaf kak, dunia kita tak berkaitan satu sama lain. Aku mencintai Iwan”, kataku sambil keluar dari mobil.

        “Nay.. Nayla !!”, teriak kak Gani mengejarku, tapi aku tak mempedulikan lagi. Aku menjadi antipati dengan semua.

        Setelah kejadian di Taman Pancasila itu, Aku belum bertemu Iwan. Iwan seperti hilang begitu saja, dan hari-hari setelah itu sungguh menyakitkan untuk dilewati. Aku benar-benar menyakitinya sekaligus menyakitiku. Ini membuatku lemah dan tidak terfokus. Aku tak cukup berani terus terang. Aku tak berani.

*****

        Kelas bahasa selesai, satu satunya tempat adalah Taman Pancasila. Sore itu tidak biasanya Taman Pancasila begitu sepi dengan matahari lirih beradu dengan lampu taman yang mulai menyala. Lalu lintas yang lengang. Burung walet dan kelelawar mulai berterbangan mencari hidup. Aku masih ingat.

        “I..Iwan”, gumanku dalam hati. Dia sedang duduk di kursi kedua taman dan memegang buku, tapi dia bukan sedang membaca karena dia tidak membalik halaman bukunya dan pandangannya kosong. Aku lama mengamatinya. Putung rokoknya bercecer. Langkah kakiku memberat. Aku sudah berada di depannya. Matanya menatap mataku. Wajahnya gusar tapi senyumnya tetap manis. Aku tak bisa menahan pecahnya air dari mataku.

        Dia berdiri dan memelukku erat. Aku memeluknya lebih erat. Bahu kemejanya basah karena air mataku.

        “Aku mencintaimu sejak lama, tanpa alasan yang jelas kamu yang selalu memenuhi pikiranku”.

        Dari arah punggung Iwan, aku melihat kak Gani. Aku masih mendengar degup jantung Iwan. Yang tersengal mengerang mulai sayup dan lembut. Dia memelukku erat sekali. Bahu kemejanya basah karena darahku beradu dengan lukanya. Lukaku beradu dengan darahnya. Lambungnya robek menembus lambungku. Aku memeluknya erat sekali. Aku masih merasakan kental aroma rokoknya. Aku ingat, aku masih bernapas saat kak Gani menutup kami dengan tanah dan semen. Aku masih tetap dipelukannya. Diam seperti benda yang menyakiti kami sekali lagi.