Oleh Nanang Yuniantoro

         Perhelatan akbar pemilihan mahasiswa (pemilwa) akan segera digelar dalam beberapa bulan kedepan. Pemilwa menjadi ajang bagaimana mahasiswa dapat berdemokrasi layaknya pemilihan umum yang terjadi di Indonesia. Jika di Indonesia pemilihan umum untuk memilih mulai dari kepada desa sampai presiden ataupun anggota dari DPRD sampai DRR RI, maka di tingkatan pemilwa untuk menentukan ketua hima, ketua dan wakil ketua BEM, serta anggota DPM baik tingkat fakultas maupun universitas.

         Mahasiswa dapat ambil bagian dalam pemilwa ini, seperti menjadi peserta pemilwa, menjadi pemilih, menjadi panitia penyelenggara, simpatisan peserta, ataupun tim sukses dari peserta pemilwa. Tentu jika mahasiswa tidak diam dalam perhelatan ini akan mendapatkan pembelajaran perpolitikan, minimal tahu bagaimana kondisi ketika masa-masa pemilwa. Keterlibatan mahasiswa secara utuh merupakan impian bagi semua, karena mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol sosial perlu turut serta dalam pembelajaran politik di kalangan mahasiswa.

          Perlu diperhatikan bahwa pemilwa adalah ajang pembelajaran berpolitik bagi mahasiswa, bukan ajang untuk mencari kekuasaan atau ajang untuk mencerai berai kekeluargaan yang sudah terjalin. Dapat dilihat pemilwa di fakultas teknik beberapa tahun terakhir, selalu ada hal yang mengubah persahabatan menjadi pertengkaran karena beda pilihan, saling beradu argumen, suasana kampus menjadi tegang, barisan mahasiswa mulai terbagi dalam kelompok, dan konflik-konflik bermunculan dalam proses pemilwa.

         Perubahan dinamika kampus dalam pemilwa, sebenarnya merupakan hal yang dinanti, meskipun bersifat internal kampus namun sangat berdampak kepada mahasiswa. Mahasiswa yang jarang membicarakan politik pun, akan terbawa dalam mendiskusikan atau mencari tahu proses pemilwa. Kekentalan suasana dalam berpolitik inilah yang sebenarnya dirindukan, suasana kampus menjadi lebih hidup dan suara-suara mahasiswa mulai terdengar, entah untuk mendukung atau mengkritisi jalannya pemilwa.

         Namun, diperlukan profesionalitas setiap insan yang terlibat dalam menghadapi setiap permasalahan yang terjadi. Patuh terhadap aturan yang sudah disepakati adalah hal yang seharusnya dapat dilakukan oleh kaum intelek, tidak mencoba merekayasa atau mengakali peraturan yang ada. Demokrasi mahasiswa seharusnya merupakan demokrasi yang benar-benar ideal karena tidak membawa kepentingan politik dari luar ataupun ormas. Kemurnian demokrasi mahasiswa seharusnya dapat terbangun jika semua pihak turut mengawasi serta menggunakan pemikiran mahasiswa. Saling menghargai pendapat, mampu mengakui kekalahan, saling membangun satu sama lain, saling berjabat tangan setelah selesai pemilwa, mampu mengilhami proses pemilwa adalah hal yang dapat dipahami oleh mahasiswa dalam berdemokrasi.

         Sudah saatnya semua pihak baik organisasi mahasiswa ataupun mahasiswa mempersiapkan diri untuk ajang demokrasi ini. Belajar berpolitik ala mahasiswa dapat dipelajari sendiri ataupun lewat diskusi-diskusi kecil, supaya siap dalam menghadapi atau menanggapi berbagai hal yang akan terjadi. Mahasiswa juga harus waspada terhadap ormas atau parpol  yang ingin memanfaatkan momen untuk menitipkan kader untuk mengubah tatanan keorganisasian mahasiswa. Mahasiswa harus dapat menjaga independensi diri, dan memposisikan diri sebagai seorang mahasiswa.