Masyarakat Yogyakarta, tentu sudah tidak asing dengan sunday morning (sunmor). Pasar dadakan ini berada di Jalan Notonegoro atau lebih dikenal dengan lembah Universitas Gajdah Mada (UGM). Lokasi sunmor ini mudah ditemukan karena berada di tengah kota dan lingkungan kampus UGM, akses menuju lokasi pun mudah di jangkau dengan kendaraan roda dua, roda empat, maupun kendaraan umum.

        Aktivitas di hari minggu, seperti olahraga, jalan-jalan, lari-lari kecil, atau menyalurkan hobi bersama komunitas di sekitar Grha Sabha Pramana (GSP), melatarbelakangi terbentuknya sunmor ini. Sesuai dengan namanya, sunmor hadir setiap hari minggu mulai pukul 05.00 sampai 12.00 WIB.

        Semula, sunmor didominasi oleh pedagang kuliner, hal ini disebebakan karena melihat kondisi orang-orang yang letih setelah berolahraga, sehingga dapat membeli makanan, minuman, atau cemilan sembari berbincang bersama teman. Namun, seiring berjalannya waktu, tidak hanya kuliner yang ditawarkan, melainkan pakaian, mainan, peralatan kebutuhan sehari-hari, sampai pernak pernik dan buah tangan.

        Wagiyo, salah satu penjual belut goreng di sunmor selama 7 tahun mengatakan bahwa berjualan di sunmor punya keuntungan yang lebih. “Saya mendapatkan keuntungan per hari tidak menentu, saya menghitung setelah gorengan belut yang saya buat habis, berkisar 3 sampai 3,5 juta,” ungkap bapak yang juga berdagang keliling ini.

        Sama halnya dengan Wagiyo, Anita salah pegawai toko pakaian wanita mengakui mendapatkan keuntungan yang lebih ketika berjualan di sunmor. “Untuk jualan jilbab saja kami bisa mendapatkan keuntungan 2,5 juta per hari. Itu hanya jilbab, belum keseluruhan dari penjualan busana wanita yang ada di toko kami,” ujar Anita.

        Untuk pengeluaran Wagiyo dan Anita hanya mengeluarkan uang kebersihan 5.000 rupiah. Ketika berdagang harus waspada dan berhati-hati dengan pelanggan jika tidak, bisa saja menjadi korban penipuan. Wagiyo sempat tertipu oleh seorang nenek-nenek yang membeli dagangan dalam jumlah banyak namun tidak membayar, tapi meminta kembalian dengan modus mengantri dan mengeluarkan uang 50 ribu sampai 100 ribu.

Penulis: Fairuz, Yohana