Yogyakarta – Seminar Nasional Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan yang merupakan salah satu agenda Civil Explosion 2015 digelar pada Sabtu (14/11) di Gedung KPLT lantai 3 Fakultas Teknik UNY. Tema yang diangkat kali ini adalah Peran dan Perkembangan SNI Menuju Infrastruktur Berkelanjutan dengan menghadirkan tiga pembicara yakni Suradjin Sutjipto, Andreas Triwiyono, serta Wiryanto Dewobroto. Acara yang diikuti 200 peserta dari berbagai kalangan ini dimoderatori oleh Dian Eksana Wibowo untuk membahas lebih detail Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait baja untuk bangunan tahan gempa yang lebih baik.

        Perjalanan SNI 1729-2002 kini alami perkembangan lebih detail dari sebelumnya. Menurut paparan Suradjin Sutjipto jika ditinjau dari sumber yang dianut, SNI 1729-2002 masih belum jelas arahnya mengingat terdapat standar acuan dari tiga negara berbeda digunakan dalam penyusunan. Tak hanya itu, perkembangan SNI 1729-2002 juga bertujuan untuk meng-upgrade dan pelengkapan sistem struktur gedung tahan gempa. Oleh sebab itu, dengan menganut standar Amerika (AISC-red) kini terbit tiga buku SNI terbaru meliputi bangunan baja untuk tahan gempa yang lebih detail penjelasannya.

        Proyek-proyek bangunan baja tahan gempa sekarang marak digalakkan. Tujuannya jelas agar bangunan yang berdiri nantinya bisa aman dari gempa dan tahan lama. Suradjin Sutjipto pun memberikan sebuah trik kepada peserta yang notabene mahasiswa teknik sipil untuk membuat bangunan baja tahan gempa. Menurut beliau, selain perencanaan yang bagus harus dipikirkan juga bagian mana yang akan dibolehkan rusak dengan adanya kontrol seperti adanya penguatan di bagian yang lain. “Cari tumbalnya!,” ujarnya dengan lantang.

        Tantangan ke depan untuk bangunan baja seperti penjelasan Andreas Triwiyono bahwa program capacity building, kelengkapan regulasi, sosialisasi terkait manfaat, serta pengembangan industri harus direalisasikan secara masif. Alasannya agar pemanfaatan baja bisa ter-support dan infrastruktur yang terbangun di Indonesia lebih baik lagi daripada sebelumnya. Melalui edukasi kepada engineer mengingat mereka sebagai subyek dan obyek terwujudnya mutu infrastruktur diharapkan dapat menjadi langkah tepat terciptanya pergeseran pandangan pemanfaatan beton menuju baja dikemudian hari.

        Sementara itu, Seminar Nasional Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan 2015 diakui oleh peserta merupakan kegiatan yang memberikan edukasi terkini terkait pentingnya penggunaan baja untuk suatu bangunan. Selain itu, acara yang dibalut dengan nuansa musik dan budaya ternyata dapat membuat pikiran peserta  rileks sebelum menerima materi. “Kekinian banget materinya dan acaranya menarik” ungkap Siti Julaeha dengan semangat. [Edwin]