IMG_0337

Kasus kekerasan dalam pacaran semakin marak terjadi baik kepada pihak perempuan maupun laki-laki. Hal ini menjadi fokus pembahasan dalam diskusi beranda wanita yang diselenggarakan oleh LPMT Fenomena bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta serta LSM Satunama. Diskusi yang mengangkat tema “Hari Valentine, Hari Tanpa Kekerasan dalam Pacaran” tersebut menghadirkan tiga pembicara, yaitu Edwin Widianto, aktivis jurnalis dari LPMT Fenomena, Bhekti Suryani, pengurus AJI Yogyakarta serta Arsih Suharsih, aktivis perempuan yayasan Satunama Yogyakarta.

Menurut Edwin, kekerasan yang dialami oleh pihak laki-laki dalam pacaran lebih kepada kekerasan mental dan materi, sedangkan kekerasan fisik dan seksual lebih banyak dialami oleh pihak perempuan. Seperti data yang dilansir oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, berdasarkan kasus yang diproses oleh pengadilan agama, kekerasan terhadap perempuan terus terjadi dan cenderung meningkat setiap tahun, misal pada tahun 2008 sebesar 77 % sedangkan pada tahun 2014 meningkat secara drastis sebesar 96 %. Namun Edwin Widianto meyakini masih banyak kasus kekerasan dalam pacaran yang belum terdata. “Ini adalah fenomena gunung es, karena saya yakin masih sangat banyak kasus yang tidak terdeteksi,” ujarnya.

Sementara itu, Arsih Suharsih mengungkapkan maraknya kekerasan dalam pacaran disebabkan karena dua hal, yaitu relasi yang tidak setara serta kapasitas perempuan yang masih minim. Masih kuatnya budaya patriarki ditambah kurangnya kesadaran perempuan akan kesetaraan posisi semakin menumbuhsuburkan kekerasan dalam pacaran. Kekerasan dalam pacaran sendiri merupakan awal sebuah siklus fenomena sosial, dimana dampak selanjutnya akan mengarah kepada kehamilan tidak direncanakan hingga pernikahan dini. Arsih Suharsih sangat menyayangkan fenomena tersebut, pasalnya akan berdampak buruk bagi masa depan bangsa. “Ini satu siklus yang akan berdampak besar terhadap masa depan Indonesia,” ujar Arsih.

Bhekti Suryani juga menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak lagi sebuah fenomena, namun sudah menjadi sesuatu yang wajar. “Saya sering meliput ada bayi dibuang di tempat sampah, bahkan sampai di TPA, sama pemulung dipungut atau diambil puskesmas, itu hampir setiap bulan,” ujarnya.

Solusinya jelas, kaum perempuan harus berani berkata tidak (say no). Terhadap apa? Terhadap ajakan sang pacar yang dianggap menyimpang dan merugikannya. Kita semua juga berkewajiban untuk melerai jika melihat pertikaian antar pasangan, guna mencegah terjadinya tindakan kekerasan. Karena menurut Edwin Widianto, cinta itu bukan untuk saling menyakiti, tetapi untuk bahagia bersama. [Widi Hermawan]