Angkutan massa jelas dapat menjadi salah satu solusi mengurangi kepadatan dan kemacetan di jalan raya. Angkutan bus yang menampung 60 penumpang misalnya, hanya membutuhkan dimensi kira-kira panjang 15 dan luas 4 meter. Sehingga luas jalan yang dibutuhkan tentu lebih kecil dari pada 60 penumpang itu masing-masing memakai satu mobil. Itu belum menghitung pemakaian BBM, investasi infrastruktur jalan, akibatnya bagi kesehatan karena polusi, lalu biaya perawatan kendaraan yang juga harus dikeluarkan.

Kini telah banyak kota di Indonesia sudah memakai angkutan massa yang menawarkan inovasi, sebut saja TransJogja atau Batik Solo Trans yang berbasis angkutan bus. Moda tranportasi bus dipilih karena nilai investasinya tidak sebesar moda Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rail Transit (LRT). Infrastrukturnya pun bisa mamakai jalan yang telah ada dengan menambahkan koridor halte di titik-titik tertentu.

Namun transportasi massa tersebut seperti jalan di tempat, bahkan kurang dilirik. Hal itu bisa jadi karena banyak faktor, seperti kurangnya investasi tambahan, minat masyarakat, serta fasilitas dan inovasi yang ditawarkan. Kemudian masih adanya perusahaan angkutan kurang mementingkan pelayanan dan kenyamanan penumpang.

Beralihnya masyarakat ke kendaraan pribadi membuat angkutan massa tidak lagi populer. Keunggulan kendaraan pribadi yang dapat point to point memang menawarkan kemudahan. Sepeda motor contohnya, dengan harga relatif murah, dapat dengan mudah berpindah lokasi kapan saja, serta mudah bermanuver untuk mengatasi kemacetan.

Banyak kiranya pertanyaan dan pekerjaan rumah guna mendukung gerak angkutan massa khususnya Jogja, dan juga untuk melihat prespektif luas seperti Indonesia. Pertanyaan yang mungkin muncul seperti bagaimana inovasi angkutan massa di masa depan, syarat-syarat ideal sebuah angkutan massa, pola investasi yang paling tepat, rencana penambahan armada, rencana penambahan moda angkutan, efisiensi angkutan massa dibanding kendaraan pribadi, eksistensi dan pembinaan perusahaan angkutan, serta peranan yang diharapkan dari pemerintah juga masyarakat.

Inovasi dapat berupa penambahan koridor baru dan moda transportasi, atau mungkin melebur perusahaan angkutan menjadi konsorsium, sehingga dapat menyeragamkan pelayanan. Bila dilihat kultur, tata kota dan geografis Jogja moda angkutan massa yang cocok seperti apa? Juga dalam skala Indonesia moda apa saja yang dapat diaplikasikan? Jadi harapannya  diskusi dapat dibawa untuk memberi pemahaman angkutan massa yang tepat diaplikasikan baik di kota Jogja, juga daerah lain di Indonesia. Serta perlunya pembahasan aturan-aturan yang mendukung, agar makin berkembangnya moda transportasi massa ini. Sehingga masyarakat tergerak untuk beralih, dan dapat memberi pilihan alternatif saat bepergian.