Yogyakarta – LPMT Fenomena kembali melakukan kunjungan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), kali ini Lembaga Pers dan Penerbitan Mahasiswa (LPPM) Nuansa UMY menjadi pilihan tempat kunjungan. Bertempat di sekretariat LPPMP Nuansa pada Rabu (15/6), acara berjalan cukup meriah dengan bahan diskusi tentang permasalahan literasi di kalangan pers mahasiswa. Kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkuat jejaring antara LPMT Fenomena dengan persma-persma lain di Yogyakarta. “Yang pertama untuk menyambung silaturahmi, selanjutnya kita juga ingin diskusi terkait gairah menulis,” ujar Mukhamad Fairuz Zaman selaku penanggung jawab kegiatan.

Gairah literasi memang sudah menjadi permasalahan klasik di kalangan persma, berbagai wacana memang sudah ada, namun realitanya belum mampu memecahkan persoalan itu. Menyikapi gairah menulis anggota yang masih lemah, Nuansa melakukan penjadwalan, dengan begitu anggota lebih tertib dalam menulis. Kesannya memang dipaksa, namun pemaksaan kadang dibutuhkan untuk membuat anggota terbiasa menulis. “Kita ada jadwal, jadi yang menulis hari ini siapa, edisi bulan ini siapa,” ujar Yusuf salah satu pengurus LPPM Nuansa.

Selain lemahnya budaya menulis, menurunnya budaya membaca dan berdiskusi juga tidak lepas dari diskusi kedua LPM. Kedua pihak menyadari bahwa budaya membaca dan diskusi merupakan penunjang gairah menulis, sayangnya keduanya juga mengalami penurunan seiring bergulirnya waktu. Untuk meningkatkan budaya membaca, Fenomena dan Nuansa sudah menyediakan perpustakaan yang menyediakan bayak buku bacaan, sedangkan untuk meningkatkan budaya diskusi keduanya juga sudah memfasilitasi dengan mengadakan diskusi rutin. Akan tetapi semua kembali pada individu masing-masing, sebaik apapun fasilitas yang disediakan lembaga, jika tidak ada kemauan tiap individu untuk belajar, hasil yang diharapkan tidak akan tercapai. “Semua kembali ke individu masing-masing,” ungkap Kamal pemimpin umum Nuansa.

Hingga diskusi selesai, keduanya belum menemukan solusi yang benar-benar ampuh untuk memecahkan permasalahan literasi di kalangan pers mahasiswa. Lemahnya gairah menulis seakan sudah menjadi benang kusut, sehingga sangat sulit dicarikan solusinya. [Widi]