Parade organisasi mahasiswa (ormawa) mewarnai hari pertama Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) pada Senin (22/8) kemarin di gedung olahraga (GOR) UNY. Ormawa Fakultas Ilmu Sosial (FIS) yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa FIS (AMF) mengangkat isu terkait Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dinilai memberatkan. Seperti yang sudah diketahui, bahwa UKT tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Deby Hermawan selaku koordinator dalam aksi tersebut mengungkapkan bahwa UKT yang diterapkan UNY sangat memberatkan, ditambah lagi adanya perjanjian bahwa maba tidak bisa menurunkan UKT-nya.

Deby juga mengungkapkan bahwa sistem UKT tersebut bertolak belakang dengan tema ospek tahun ini yaitu Wujudkan Mahasiswa Emas UNY sebagai Pionir Indonesia yang Bertaqwa, Mandiri, Cendekia. “Kan tema univ itu untuk menuju Indonesia emas, mananya yang emas kalau pendidikan saja susah, pendidikan mahal”, ujarnya. Dalam aksi itu mereka juga menuntut adanya transparansi UKT seperti pengauditan UKT yang dinilainya tidak jelas sama sekali. “Kita sangat dibodohi tentang masalah pengauditan UKT dan lain sebagainya. Pokoknya sistem UKT yang nggak ada jelasnya”, tambahnya.

Menanggapi adanya perjanjian mahasiswa baru untuk tidak menurunkan UKT, Deby sendiri merasa sangat prihatin. Sebab menurutnya keadaan ekonomi keluarga mahasiswa tidak pasti, bisa saja di tengah perkuliahan perekonomian mereka memburuk, dan itu dapat mengancam status mereka sebagai mahasiswa. “Kalau saya itu merupakan sebuah keironian dari dunia pendidikan sendiri”, ujarnya menanggapi masalah tersebut.

Aksi tersebut diharapkan dapat menjadi pemantik bagi fakultas lain untuk ikut bergerak mengangkat isu UKT, sehingga tidak hanya menjadi isu fakultas, tapi juga isu univresitas. Selain itu, semua fakultas juga harus menyadari, bahwa UKT benar-benar memberatkan mahasiswa. “Keinginan saya, semua fakultas ini tersadar bahwa UKT ini benar-benar mencekik mahasiswa”, tutupnya. [Fairuz]