Agent of change, itulah julukan yang disematkan kepada para pemuda bangsa ini (red- mahasiswa). Melihat posisi pemuda yang sangat strategis, khususnya mahasiswa dengan daya nalar dan semangat yang tinggi, tak heran jika masyarakat menaruh harapan besar kepada mahasiswa sebagai agen perubahan. Perubahan seperti apa yang mampu mahasiswa perbuat untuk bangsa ini? Tentu saja, masyarakat mengharapkan perubahan ke arah lebih baik di segala bidang dalam menjawab tantangan global. Indonesia membutuhkan pemikiran-pemikiran kritis para intelektual muda ini untuk bersaing di tingkat dunia.

Sebagai icon intelektual, mahasiswa diharapkan mampu menyampaikan gagasan melalui proses kritik dan memiliki kredibilitas tinggi. Untuk mencapainya, mahasiswa perlu membudayakan literasi dalam kehidupannya, paling tidak dalam proses perkuliahan. Besnier mengatakan literasi adalah komunikasi inkripsi yang terbaca secara visual, bukan melalui saluran pendengaran dan isyarat. Sedangkan intelektual, menurut Bottomore, diartikan sebagai kelompok kecil yang secara langsung memberikan kontribusi kepada pengembangan, transmisi, dan kritik gagasan-gagasan. Jadi, dapat dikatakan bahwa mahasiswa bertugas menyuarakan gagasan kritis tersebut serta menuangkannya dengan pena. Tentunya kemampuan menulis perlu didukung dengan budaya membaca. Melihat kondisi mahasiswa dan kehidupan kampus saat ini, sudahkah mahasiswa menjalankan tugasnya sebagai icon intelektual?

Dalam kehidupan kampus, idealnya budaya literasi dapat dihidupkan dengan budaya membaca buku, berdiskusi, dan membuat tulisan. Di kampus saya—UNY—ini, nampaknya budaya diskusi antarmahasiswa sudah terwujud. Walaupun memang topik diskusi mereka tidak selalu berkaitan dengan perkuliahan atau hal-hal berat seperti masa depan bangsa. Hal-hal ringan seperti kegiatan ormawa, kebijakan kampus, atau hanya sekadar curhatan galau bisa menjadi bahan perbincangan. Hidupnya budaya diskusi juga terbukti dengan banyaknya kegiatan diskusi publik, kajian, atau seminar di lingkungan kampus.

Berbeda dengan budaya diskusi, nampaknya budaya membaca kurang hidup. Kampus seharusnya menjadi lingkungan strategis untuk mengembangkan budaya baca buku. Namun kenyataannya minat baca di kalangan mahasiswa masih rendah. Terbukti dengan keadaan perpustakaan di kampus saya—Pespustakaan Media FT—kebanyakan pengunjungnya memenuhi meja baca, meja yang seharusnya digunakan untuk membaca buku, namun malah digunakan untuk melakukan akses WiFi kampus dengan gadget masing-masing, sedangkan di sekitar rak-rak buku terlihat lebih sepi. Jumlah buku yang dipinjam pun tak lebih dari 10 eksemplar setiap harinya.

Padahal, semestinya buku seringkali dijadikan acuan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, seperti membuat makalah, jurnal, atau esai. Mahasiswa tentu sepenuhnya sadar bahwa tugas-tugas tersebut baiknya dikerjakan dengan mengacu pada buku-buku sebagai bahan pustaka. Dengan buku, mahasiswa juga terlatih melakukan analisis lebih dalam dan ilmiah, serta menyajikan hasil pemikirannya dalam tulisan yang baik. Namun, sebagian mahasiswa yang berdaya juang rendah (red-nggak mau repot) hanya mengandalkan copy-paste, atau bisa dibilang asal ngumpul tugas.

Makalah atau jurnal yang sudah dikumpulkan biasanya akan dipresentasikan di depan kelas. Kemudian ada sesi tanya jawab, dan selesai. Menurut saya, sistem tugas perkuliahan semacam ini kurang tepat untuk membangun budaya literasi di kampus. Memang, sesi tanya jawab di kelas membuat mahasiswa lebih aktif dan membangun budaya diskusi. Tetapi saya pernah menemui beberapa kasus seperti adanya kesepakatan (red-kongkalikong) antara pihak penanya dan pihak presentator, yang sudah diatur sebelum kelas dimulai. Dengan sistem ini, mahasiswa juga tidak tahu apakah tugas yang dikumpulkannya sudah memenuhi standar keilmiahan atau belum.

Karya yang besar tentu membutuhkan perjuangan dan pengorbanan besar pula. Sebut saja Oxford English Dictionary, kamus acuan paling otoritatif. Pembuatannya memakan waktu sekitar 70 tahun, melibatkan banyak tokoh, banyak volunter, dan mengacu pada ribuan karya sastra dari berbagai abad. Tentu saja, mahasiswa sekarang tidak perlu melakukan perjuangan seekstrem itu hanya untuk menyusun makalah, jurnal, atau sekadar beberapa lembar laporan praktikum. Terlebih sekarang berbagai literatur acuan sudah terhimpun di perpustakaan yang memudahkan mahasiswa untuk mengaksesnya. Harus diakui memang, koleksi buku di perpustakaan kampus saya ini kurang lengkap, mungkin ini juga salah satu hal yang membuat minat baca mahasiswa rendah. Tapi koleksi buku yang terbatas ini masih bisa dimanfaatkan secara optimal. Jika memang buku yang dibutuhkan tidak tersedia di perpustakaan fakultas, mahasiswa bisa mencari di Perpustakaan UNY yang lebih lengkap.

Bagaimanapun, budaya literasi yang mencakup budaya diskusi, membaca buku, dan membuat tulisan, perlu dioptimalkan di kalangan mahasiswa. Melihat kondisi saat ini, yang sangat perlu digiatkan adalah budaya membaca. Tulisan-tulisan berisi pemikiran kritis akan terbentuk dengan kebiasaan membaca yang kuat. Seperti yang sudah dijelaskan, pemikiran-pemikiran kritis ini dibutuhkan agar Indonesia mampu bersaing di tingkat dunia. Dengan mengoptimalkan budaya literasi, para mahasiswa bisa menjadi opinion leader hingga tingkat global.