Sumber gambar: www.processserverscanada.com

Berbicara tentang sosok pemimpin saya langsung teringat Muhammad SAW sebagai cerminan seorang pemimpin yang ideal. Sosok manusia biasa yang tidak biasa. Seorang kaisar agung tanpa mahkota, tidak juga meminta gaji apalagi istana. Sebenarnya bisa saja Ia meminta semua itu, namun tak pernah dilakukan. Ia lebih memilih tinggal di rumah ukuran 4.80 x 6.62 meter, tidur di atas tumpukan dedaunan, menambal sendiri sepatu kumuhnya, serta menjahit sendiri baju lusuhnya yang robek. Coba bandingkan dengan sosok penguasa di era sekarang. Baru memiliki jabatan kecil saja sudah merasa paling berkuasa, minta diberikan penghormatan, mobil harus mewah, rumah harus megah, seragam harus bermerek, makan tak sudi yang sederhana, apalagi di pinggiran jalan, petantang-petenteng sok perlente di depan rakyatnya. Mereka membaur dengan rakyat jika ada maunya saja, kepentingan citra untuk kampanye, setelah itu lupa.

Tidak jauh beda dengan para birokrat kampus, yang seharusnya bisa menjadi panutan mahasiswa di saat sedang krisis teladan seperti sekarang ini nyatanya “setali tiga uang”. Misalnya saja beberapa hari ini, saya hendak menemui salah seorang jajaran dekanat sekitar pukul setengah tiga sore, tapi saya hanya menemui anak magang yang berkata kalau pejabat yang bersangkutan sudah pulang. Padahal setiap kali berpidato selalu dikatakan bahwa Ia siap menerima mahasiswa yang hendak menyampaikan keluh, kesah, serta aspirasinya sampai sore. Nyatanya sama saja dengan janji para politikus, gombal!.

Sudah sangat jarang ditemukan birokrat yang ngemong seperti ajaran Ki Hajar Dewantara, adanya birokrat yang sewenang-wenang, tidak tahan kritik, sok berkuasa, serta bersikap kekanak-kanakan. Walhasil mahasiswa harus “bercumbu” dengan tokoh-tokoh yang tidak pernah mereka kenal, hanya tahu dari buku-buku serta bermodal katanya. Miris memang keadaan generasi yang katanya emas ini. Tapi tidak bisa sepenuhnya kesalahan kita tujukan kepada pemuda, karena bagaimanapun baik tidaknya kualitas pemuda juga sangat dipengaruhi oleh didikan dan ajaran generasi tua.

Meski demikian optimisme dalam diri saya kembali hidup ketika melihat sosok para pemimpin muda, yaitu mereka yang memimpin organisasi-organisasi mahasiswa (ormawa). Mereka yang sedang idealis-idealisnya, mencoba untuk meniru para tokoh yang mereka baca dari buku-buku biografi. Bagi saya, merekalah sosok pemimpin ideal untuk saat ini. Bukan karena saya mantan ketua organisasi, tidak se-subyektif itu, saya memiliki argumen yang kuat dan logis untuk menjelaskan pernyataan saya itu.

Pertama ketua ormawa adalah jabatan yang berasaskan keikhlasan dan ketulusan, mengapa demikian? Sebab ketua ormawa tak pernah digaji, berharap untuk digaji saja saya rasa tidak berani. Bagi ketua ormawa, sudah tidak tombok saja syukur, tak perlu berharap lebih. Bayaran paling indah bagi ketua ormawa adalah program bisa berjalan sesuai harapan, serta anggota lembaganya merasa bahagia dipimpin olehnya. Melihat senyum bahagia anggota saat jalan atau main bersama sudah cukup untuk menghilangkan rasa lelah dalam menjalankan roda organisasi. Kebersamaan adalah yang utama, apalagi bagi mereka yang merantau, organisasi sudah menjadi keluarga kecil baru yang teramat hangat.

Meski tidak pernah digaji, bukan berarti ketua ormawa kalah sibuk dibandingkan pejabat-pejabat yang setiap bulan digaji secara rutin. Karena selain memimpin lembaga, mereka juga memiliki kesibukan utama, yaitu kuliah. Tidak jarang mereka kuliah dari pagi sampai sore, setelah itu dilanjutkan untuk mengikuti kegiatan di lembaganya. Tidak jarang sehari rapat tiga kali, seperti jadwal minum obat. Jadwal bertabrakan juga tidak jarang, walhasil sering ada yang dikorbankan, dan yang paling sering menjadi korban adalah kuliah. Jadi jangan pernah lagi menghina ketua ormawa yang agak tersendat perkuliahannya, karena kita tidak tahu bagaimana perjuangan dia di belakang.

Tidak seperti pejabat atau birokrat kampus yang memiliki jam kerja, bahkan tidak jarang jam kerja belum habis namun sudah lenyap dari ruangannya. Ketua ormawa memiliki jam kerja 24 jam nonstop, istirahat jika sedang tertidur saja. Berangkat paling awal, pulang paling akhir, itupun karena petugas keamanan sudah menjemput, tanda jam besuk sekretariat sudah habis. Di luar sekretariat bukan berarti jam kerja ketua ormawa selesai, tidak jarang mereka melanjutkan pekerjaannya di luar kampus, misal tempat-tempat ngopi yang harganya masih dapat dijangkau. Atau yang lebih ekstrim di emperan gedung kampus, sampai pagi menjelang subuh. Pantang pulang sebelum pagi menjelang merupakan slogan perjuangan mereka. Jika Anda menemukan ada ketua ormawa yang sedang tertidur, baik itu di sekretariat, di kelas, maupun di tempat lain, itu bukan karena mereka malas, melainkan sudah tidak mampu lagi menahan lelah dan kantuk. Sesuatu yang wajar bagi saya, bagaimanapun ketua ormawa juga manusia biasa yang memiliki keterbatasan kemampuan fisik.

Hal-hal itulah yang menjadi pertimbangan utama saya mengatakan kalau pemimpin sejati untuk era sekarang ini adalah ketua organisasi mahasiswa. Mereka yang bekerja totalitas, tulus, dan ikhlas tanpa berharap bayaran. Mereka yang rela mengorbankan kepentingan pribadinya demi kepentingan lembaga yang dipimpin. Pernah saya mendengar di sebuah forum, salah seorang pejabat dekanat mengatakan kalau kepemimpinan ormawa gagal. Sebuah pernyataan yang tidak berdasar sama sekali, tidak berkaca pada diri sendiri, mungkin di rumahnya tidak ada cermin. Jika Ia menilai kepemimpinan ormawa gagal, saya berani menilai jika kepemimpinan yang dijalankannya jauh lebih gagal. Indikatornya simpel saja, silakan tanyakan ke mahasiswa, adakan semacam survei, berapa persen yang puas dengan kinerjanya, berapa persen mahasiswa yang mencintainya. Karena ciri pemimpin berhasil adalah dicintai oleh semua rakyatnya.