Yogyakarta (23/2)- Institutes for Multicultural and Pluralism Studies (Impulse) menyelenggarakan bedah buku Piramida Kurban Manusia karya Peter L. Berger. Acara ini di adakan di Anomie Coffee dengan Gutomo Priyatmono, seorang doktor antropologi sekaligus Direktur Impulse sebagai pembicara. Menurut Gutomo, buku karya Berger tersebut sangat banyak menyumbang pemikiran dalam bidang sosiologi, karena itu ia mengibaratkan Piramida Kurban Manusia sebagai alkitab bagi orang-orang yang terjun dalam sosiologi. Gutomo juga menyinggung sedikit tentang Peter L. Berger, “Berger sangat kritis terhadap persoalan pembangunan,” ujarnya.

Dalam diskusi ini Gutomo Priyatmono menjelaskan bahwa konsep dasar dalam pembangunan adalah developmentalism, yakni dengan menguatkan pasar dalam negeri dan meninggikan tarif barang impor. Piramida Kurban Manusia juga mengupas cara pembangunan kapitalisme dan komunisme. Menurut berger dalam bukunya, kedua cara tersebut sama-sama akan membunuh manusia, jika kapitalisme akan menjadikan manusia sebagai budak industri, komunisme akan mematikan kreativitas manusia. Selain kritik terhadap dua ideologi tersebut, Berger menawarkan cara pembangunan yang lebih baik, yaitu pembangunan yang memanusiakan. Namun Gutomo mengkritik alternatif yang ditawarkan Berger ini, sebab dalam bukunya tidak ada langkah-langkah dalam mewujudkan pembangunan yang memanusiakan. “Ada alternatif yang ditawarkan, sangat susah, yaitu pembangunan yang memanusiakan. Jeleknya dalam buku ini tidak ada langkah-langkahnya,” tambah Gutomo.

Gutomo menambahkan bahwa pembangunan yang memanusiakan harus menempatkan manusia sebagai subyek, bukan sebagai obyek . “Pembangunan harus menempatkan manusia sebagai subyek, jika sebagai obyek maka manusia akan menjadi seperti kelinci percobaan,” ujarnya. Untuk bisa menjadi subyek dalam pembangunan, Gutomo menjelaskan manusia harus bisa memahami persoalan-persoalan dalam masyarakat, dimulai dari hal yang paling kecil.

Di akhir diskusi, Gutomo menjelaskan bahwa ideologi pada akhirnya akan mematikan manusia, sebab ideologi akan berpihak pada kebenaran sepihak. Menurutnya, rasionalitas hanya menjadi alat penguasa dalam mencapai kepentingannya. Untuk mencegah supaya tidak menjadi korban pembangunan, Gutomo menekankan supaya manusia memiliki nalar kritis, yaitu nalar yang sanggup membangun argumen. “Jadilah seseorang yang menjadi nalar kritis. Nalar yang sanggup membangun argumen. Caranya dengan banyak membaca,” tutup Gutomo Priyatmono. [Widi]