Sabtu (4/3), Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BPPM) EQUILIBRIUM Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) menyelenggarakan Launching Majalah Equilibrium edisi 19/2017, sekaligus diskusi umum bertemakan Marginalisasi. Acara yang diselenggarakan di Djarum Hall, Pertamina Tower, FEB UGM ini menghadirkan 3 pembicara yaitu Derajat S. Widhyharto dari Departemen Sosiologi UGM, Kepala Bidang Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial DIY, dan Hariyanto selaku ketua National Paralympic Committe (NPC) Daerah Istimewa Yogyakarta.

Derajat S. Widhyharto menyatakan bahwa marginalisasi merupakan upaya pembatasan peran terhadap kelompok tertentu agar kemudian tergeser ke pinggir dan disebut kelompok yang terpinggirkan. Beliau memaparkan bahwa marginalisasi di Indonesia masih sangat hangat untuk di perbincangkan khususnya di Yogyakarta.

Lewat Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Yogyakarta, pemerintah mencoba menyamaratakan hak-hak atas penduduk miskin, difabel, gelandangan, pengemis, hingga korban kekerasan. Dinsosnakertrans memberikan fasilitas berupa alat bantu, menyelenggarakan pelatihan dasar, serta mamberikan bantuan dana sebesar satu juta rupiah bagi keluarga mereka untuk modal pengembangan usaha.

Hariyanto menyatakan bahwa Indonesia masih sangat minim dalam menghargai kaum difabel. Buktinya, saat diadakan perlombaan olahraga khusus difabel di Indonesia, penontonnya hanya bisa di hitung dengan jari. Berbeda bila di bandingkan dengan di Luar Negeri, rasa menghargai kaum difabel sangat tinggi dengan rela membayar mahal untuk menonton pertandingan olahraga khusus difabel.

Marginalisasi memang suatu keniscayaan yang sukar untuk di hindari. Setiap prespektif keilmuan berusaha membedah dan menawarkan berbagai solusi pengentasan marginalisasi dengan cara yang berbeda-beda.

 

Penulis : Istika Wulandari

Editor   : Edwin Widianto