Yogyakarta (25/3), telah berlangsung aksi solidaritas masyarakat Yogyakarta di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan maksud untuk menolak pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng Utara. Aksi ini merupakan bentuk luapan kekecewaan masyarakat Yogyakarta terhadap keputusan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (BEM FISIPOL) UMY yang dianggap tidak peka terhadap persoalan di Rembang. Hal ini karena pihak BEM FISIPOL UMY mencoba untuk mengundang Ganjar Pranowo dalam Pekan Keilmuan Sosial dan Politik ke-3.

Naomi Srikandi, salah satu demonstran melakukan orasi untuk membakar semangat massa, meski begitu Ia menekankan supaya tidak ada kekerasan dalam aksi tersebut. “Dengan hati nurani dan dengan keberanian kita, dengan membawa resolusi akbar, tidak ada adu fisik,tidak ada kekerasan mari kita ingatkan mereka, sebab apalah artinya berpikir apabila terpisah dari persoalan kehidupan,” ujar Naomi sebelum massa memasuki area kampus UMY.

Awalnya massa mendapat hadangan dari pihak keamanan UMY yang bersikeras tidak memberikan izin untuk melakukan aksi di depan rektorat. Namun setelah pihak BEM FISIPOL UMY melakakukan negosiasi dengan pihak keamanan, massa akhirnya diizinkan masuk. Usai diizinkan masuk, berbagai aksi dilakukan massa seperti teatrikal “Ibu Patmi”, solidaritas mahasiswa Papua serta diakhiri dengan pernyataan sikap bersama masyarakat sipil di Yogyakarta.

Aksi yang didukung beberapa aliansi seperti Komite Bersama Reformasi (KBR), Jogja Darurat Agraria (JDA), Gusdurian Jogja, Pusat Perjuangan Rakyat Indonesia (PPRI), Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia DIY (FL2MI DIY), dan Solidaritas Kendeng Lestari ini secara tegas bersikap mendukung penuh perjuangan warga Kendeng Utara dalam menolak pembangunan pabrik semen. Aksi ini juga merupakan wujud bela sungkawa atas wafatnya Bu Patmi (48), salah satu kartini penolak pembangunan pabrik semen. Selain itu, massa juga mengungkapkan kekecewaan dan protes terhadap pengurus negara, dalam hal ini pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kala dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang dianggap tidak peka terhadap nasib dan keselamatan warganya, terutama masyarakat di Pegunungan Kendeng Utara. [Erby]