Aksi solidaritas perlawanan terhadap pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng Utara terus berlangsung. Ratusan massa tergabung dalam Solidaritas Jogja Tolak Pabrik Semen (SJTPS) kembali menggelar aksi tahlil dan doa lintas iman untuk Yu Patmi yang gugur dalam perjuangan melawan pembangunan pabrik semen. Kegiatan yang dilakukan di Bundaran UGM pada Kamis (30/3) ini merupakan aksi ketiga, setelah sebelumnya dilakukan hal serupa juga di UMY dan UGM. Ahmad Fatin selaku koordinator umum mengungkapkan bahwa aksi ini merupakan wujud dukungan terhadap perjuangan petani dan ibi-ibu Kendeng terlebih setelah gugurnya salah satu dari mereka. “Untuk menyatakan solidaritas terhadap ibu-ibu Kendeng yang sekarang sedang memperjuangkan tanahnya di Jakarta,” ujarnya.

Tahlil dipilih sebagai konsep acara karena dinilai banyak yang dapat mempraktikkan, sehingga diharapkan masyarakat ikut bersua. “Kegiatan solidaritas yang mungkin ini bisa dilakukan banyak orang,” tambah Ahmad Fatin. Tahlil dan doa lintas iman merupakan serangkaian acara tahlil yang dilakukan secara berturut-tirut selama tujuh hari. Setelah ini rencana akan dilaksanakan terus aksi serupa setiap satu selapan (satu bulan dalam penanggalan Jawa-red) meninggalnya Yu Patmi. Selain tahlil dan doa lintas iman, ada juga pentas musik, pembacaan puisi, orasi perlawanan, serta teatrikal berupa aksi cor kaki.

Massa yang hadir tidak semua dari pegiat agraria, banyak juga dari organisasi keagamaan, gender, media, serta berbagai lembaga atau komunitas lainnya. Dapat dirangkulnya elemen dari berbagai basis dilandasi isu kemanusiaan dalam perkara agraria. “Bukan hanya alasan agraria saja untuk peduli pada ibu-ibu Kendeng,” ujar Ahmad Fatin. Ia juga mengungkapkan bahwa antusias massa semakin meningkat, sayangnya sampai aksi ketiga belum ada respons positif dari pemerintah. Tak putus asa, aksi-aksi serupa akan tetap dilakukan, bahkan tidak menutup kemungkinan terjadinya perluasan wilayah aksi. “Tidak menutup kemungkinan kita juga akan melakukan aksi di gubernur-an Jawa Tengah,” tambahnya.

Ahmad Fatin juga menyampaikan bahwa pembangunan pabrik semen bukanlah kepentingan mendesak. Pasalnya produksi semen dalam negeri masih surplus setiap tahun, sehingga para petani di sekitar area pembangunan pabrik terlalu mahal untuk jadi bahan tebusan. “Tingkat produksi semen di Indonesia itu mencapai 90 juta ton, dan kemudian bahwa yang baru terserap pemakaiannya di dalam negeri baru 63 juta ton,” ujarnya.

Senada dengan Romo In Nugroho, Wakil Rektor III Universitas Sanata Dharma juga mengatakan hal serupa dalam orasinya pada aksi tersebut. Menurut Romo, kemanusiaan harus diperjuangkan, salah satunya dengan menggelar aksi-aksi serupa. “Bahwa kemanusiaan tidak pernah hadir kalau tidak kita perjuangkan,” ujar Romo dalam orasinya.

Menanggapi penilaian terkait penolakan pembangunan semen merupakan aksi yang tidak pro pembangunan dan kemajuan, Romo menekankan bahwa pembangunan tidak selayaknya mengesampingkan kemanusiaan. Baginya, kemajuan tanpa memperhatikan kemanusiaan merupakan kebijakan yang tidak bisa dibenarkan. “Kemajuan tanpa kemanusiaan omong kosong,” ujarnya. Ia juga mengajak massa untuk turut berjuang sesuai dengan posisi, profesi, dan kemampuannya masing-masing demi kemanusiaan. “Mari kita berjuang di tempat kita masing-masing dan dengan cara kita masing-masing, dan segala apa yang mampu kita perbuat. Tetapi di situ kita masih mengingat, bahwa kita punya saudara,” tambah Romo.

Ahmad berharap aksi yang diikuti lebih dari 300 massa tersebut tidak berhenti sampai di situ saja, tapi akan menjadi pemantik aksi-aksi selanjutnya demi dicabutnya izin pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng Utara. “Harapannya ini menjadi pemantik untuk kita melakukan aksi-aksi selanjutnya sampai kemudian pemerintah khususnya pemerintah Jawa Tengah memberhentikan izin untuk mengoperasikan pabrik semen di wilayah Kendeng dan sekitarnya,” ujar Ahmad Fatin. [Widi]