sumber gambar : harianjogja.com

Mungkin kalian sudah tidak asing lagi dengan permainan sepak bola salah satu cabang olahraga yang berasal dari Inggris ini tergolong simpel. Karena hanya membutuhkan 11 pemain per tim, bola, dan gawang. Bahkan di Negeri Samba, sepak bola sudah dianggap sebagai ‘agama’, karena sedari kecil mereka sudah bermain sepak bola walaupun dengan peralatan seadanya. Sepertinya para pembaca juga setuju apabila saya berkata sepak bola sudah mendarah daging di Indonesia.

Sejak kecil tentu kita sudah akrab dengan permainan ini, apalagi kalau ada pertandingan sepak bola di televisi. Sontak satu keluarga mengadakan nonton bareng (nobar) sambil minum es atau kopi dan kacang rebus sebagai camilan. Kecintaan terhadap sepak bola juga tak lepas dari pengaruh dari orang tua. Apalagi waktu masih anak-anak, kadang pernah terlintas di benak untuk bermimpi dapat menjadi pemain sepak bola profesional, berkhayal menjadi Bambang Pamungkas mungkin? Ya seperti itulah gambaran tentang “Sepak Bola” yang kita rasakan. Kita? Kamu aja sih.

Namun persepakbolaan di Indonesia tergolong tidak ‘sehat’, apalagi pasca lengsernya Nurdin Halid hingga tahun 2016. Permasalahan menjadi semakin pelik, mulai dari adanya dualisme kepengurusan, dualisme Liga, hingga yang paling parah pembekuan PSSI. Mungkin saja apabila musim demo tanggal cantik bergulir lebih cepat, massa yang dikerahkan kemungkinan dapat lebih banyak dan lebih beringas. Pasalnya selain sebagai lahan mata pencaharian pemain dan official, sepak bola juga sebagai hiburan masyarakat, dan pemersatu bangsa.

Lihat saja saat Tim Nasional (Timnas) Indonesia bermain untuk pertama kalinya pasca pencabutan pembekuan PSSI (Indonesia vs Malaysia). Terlihat penonton membludak di Stadion Manahan. Itu belum termasuk penonton yang di rumah atau yang nobar. Tingkat antusiasme masyarakat Indonesia terhadap Timnas tergolong tinggi meskipun tidak begitu kenal-kenal amat dengan pemainnya, tapi saat pertandingan dimulai masyarakat sangat senang dan antusias dalam menonton pertandingan tersebut.

Pendukung Timnas sendiri tidak melihat latar belakang pemain dari klub mana, agamanya apa, kelahiran dimana, kampusnya dimana, mengambil jurusan apa, semua itu tidak lagi terlihat. Fokus mereka hanyalah bagaimana Timnas bermain untuk Indonesia. Hingga sampai saat ini saya belum pernah mendengar ada suporter yang protes karena pemain Timnas dicaci karena masalah latar belakang, paling mentok ya pendukung klub A tidak suka pemain dari klub B. Itu pun hanya segelintir orang saja.

Jika dilihat lebih dekat, suporter Timnas sendiri yang awalnya bermusuhan dan rival abadi dapat melebur menjadi satu dalam balutan warna Merah-Putih dan chant (yel-yel-red) persatuan. Masalah kebanggaan akan klub atau supporter tidak menjadi keagungan daripada kepentingan Timnas. Dimanapun Timnas bermain, disanalah selalu ada supporter fanatik yang senantiasa mendampingi dan setidaknya kita yang tidak dapat menonton secara langsung tetap dapat mendukung dari jarak jauh demi Timnas. Ya, memang sepertinya pemersatu bangsa di Indonesia adalah Sepak Bola. Karena dari sepak bola, kita tidak lagi mengenal kasta maupun perbedaan. Semuanya sama di Indonesia berkat sepak bola.