Sumber gambar: bangpurba.com

Sudah lama saya tidak berkecimpung dalam aktivitas organisasi mahasiswa, semester tua menjadi alasan utama saya untuk gantung PDL di usia dini. Teringat satu tahun yang lalu, ketika bara di dada sedang panas-panasnya, hampir setiap hari saya habiskan untuk berwacana dengan para aktivis kampus. Aktivitas ini sebenarnya hanya pelarian saya saja, di tengah kisah asmara yang selalu kandas, kesibukan di organisasi mahasiswa menjadi salah satu alasan jitu untuk membela diri ketika kejombloan dijadikan bahan bullying. Alasan hengkang dari dunia keaktivisan juga saya pilih karena ingin menikmati usia senja sebagai mahasiswa dengan berbagai hal menyenangkan.

Benar saja, usai pensiun kehidupan saya sebagai mahasiswa terasa lebih tenang dan menyenangkan, hingga pada beberapa hari lalu saya mendengar sebuah berita dari adik perguruan saya tentang pelaksanaan ospek di UNY tahun ini. Menurutnya pelaksanaan ospek saat ini belum ada kejelasan, sengketa anggaran digadang-gadang menjadi penyebab utamanya. Hingga muncul sebuah wacana dari beberapa ormawa untuk melakukan pemboikotan kegiatan ospek. Sontak saya terkejut, dan dalam hati berkata “gile lu ndro!”. Bukan karena tidak sepakat, tapi melihat sepak terjang para petinggi ormawa membuat saya terkaget-kaget wacana boikot sampai mencuat ke permukaan.

Saya cukup tahu bagaimana karakter mereka, pengalaman setahun menjadi rival merupakan waktu yang lebih dari cukup untuk melakukan analisis mendalam. Sedikit saja tentang petinggi ormawa yang saya tahu, mereka adalah orang-orang yang lebih suka memilih “main aman” dan jalan lempeng. Dalam menyelesaikan persoalan, jalur diplomasi lebih suka mereka pilih daripada jalur-jalur konfrontasi, seperti boikot misalnya. Karena itu saya cukup terperangah dan hampir tersedak ketika mendengar ormawa, khususnya FT hendak memboikot ospek.

Tapi terlepas dari itu, menurut saya wacana ormawa untuk memboikot ospek merupakan sebuah kebodohan. Mengapa kebodohan? Karena tidak dari dulu dilakukan. Cukup terlambat jika ormawa melakukan boikot, sebab berbagai persiapan sudah mulai dilakukan, banyak tenaga yang sudah terbuang. Apalagi wacana boikot terkesan setengah hati, membuat pihak-pihak yang bekerja di wilayah bawah (panitia pelaksana) menjadi dilematis. Mau totalitas bekerja, takut tak jadi ada ospek, dan semua hanya berujung pada kesia-siaan. Hendak berhenti bekerja takut ospek tetap dilaksanakan, walhasil persiapan menjadi tidak keruan. Akhirnya pekerjaan dilakukan setengah hati, seolah hidup segan mati tak mau. Adek galau bang!

Meski begitu saya tetap mengapresiasi keberanian ormawa mewacanakan pemboikotan ospek. Saya memang selalu suka dengan perlawanan-perlawanan semacam ini. Dari dulu saya kurang suka dengan jalur-jalur diplomasi, karena bagi saya diplomasi hanya akan menghasilkan kerugian. Kemenangan yang nyata dan utuh hanya bisa dicapai melalui jalan konfrontasi, boikot salah satunya. Hanya saja polemik pemangkasan anggaran jangan dijadikan alasan utama dari pemboikotan tersebut, sebab jika boikot hanya karena anggaran, kekuatannya akan sangat lemah. Perlawanan yang menjadikan uang sebagai landasannya tidak akan menghasilkan kekuatan yang besar. Birokrat cukup mengundang para petinggi ormawa, ajak makan malam atau buka puasa bersama, lobi dan rayu dikit, kasih amplop, selesai deh perkara, dan RIP untuk perlawanan. Memaknai pemangkasan anggaran hanya sebagai momentum untuk melakukan boikot akan lebih etis.

Aksi boikot harus dilandasi dengan semangat perjuangan bersama untuk mengembalikan kembali kejayaan mahasiswa. Mengingat ormawa kini seperti tak memiliki kekuatan strategis, hanya dijadikan sapi perah birokrat. Dengan dilakukannya boikot, bergaining power yang dimiliki ormawa akan semakin kuat, birokrat akan sadar kalau mereka tak bisa berjalan tanpa ormawa. Dengan begitu mau tidak mau birokrat harus bersikap manis kepada ormawa, tak bisa lagi berlaku sewenang-wenang. Pemboikotan terhadap ospek juga akan menggiring semua pihak yang terlibat dalam ospek melakukan evaluasi, dan lagi-lagi ini merupakan sebuah momentum untuk merevolusi ospek yang selalu mendapat kritikan dari tahun ke tahun.

Lalu akan ada pertanyaan, jadi untuk meningkatkan posisi tawar ormawa kita harus mengorbankan mahasiswa baru yang masih unyu itu? Sek sek, kita balik dulu logika berpikirnya. Dengan ormawa memboikot ospek, dan ospek tidak terlaksana, itu justru kita menyelamatkan mahasiswa baru dari ritual pembodohan. Apalagi saya mendengar pembicara utama dalam ospek besok adalah Aa’ Gatot, eh Gatot Nurmantyo maksud saya. Saya melihat ini merupakan sebuah upaya doktrinisasi mahasiswa baru supaya menjadi generasi manutan. Lho, tapi grand design ospek kali ini kan mengenai nasionalisme dan bela negara? Gatot Nurmantyo selaku Jenderal TNI tentu menjadi pembicara yang pas dong?

Hemm, apakah yang dimaksud dengan bela negara itu menggelar karpet merah untuk para pemodal dan menodongkan moncong senjata ke petani Kendeng, Kulon Progo, Sukamulya dan yang lainnya? Bagi saya mereka hanya berbicara mengenai nasionalisme sempit dan omong kosong bela negara, tanpa menghiraukan ruh nasionalisme Bangsa Indonesia yang sebenarnya tentang emansipasi, egalitarian, serta politik pembebasan. Membuka pintu untuk militer masuk kampus adalah menghianati cita-cita reformasi, yakni menghapuskan cengkeraman militer dari aspek kehidupan masyarakat. Militer ingin kembali masuk dan mengatur hajat hidup rakyat dari urusan tiket, sepak bola, sampai kampus-kampus menjadi arena penetrasi. Masih percaya pada doktrin bela negara yang dikatakan militer? Tak perlu dijawab, renungkan saja, realita memang kadang menyakitkan.

Itu baru satu muatan saja, masih banyak muatan-muatan lain yang juga mengandung kesesatan seperti feodalisme, apatisme, atau materialisme yang disisipkan dalam promosi-promosi perlombaan dan karya tulis ilmiah. Kalau perkara mengenalkan dunia kampus dan perkuliahan, saya rasa biarkan mahasiswa baru mengenali kampusnya sambil menjalani masa-masa kuliah besok. Karena omong kosong mahasiswa baru dapat mengenali kampus yang permai ini hanya dalam waktu empat hari.

Melihat berbagai alasan itu membuat saya yakin bahwa boikot adalah jalan terbaik, shirothol mustaqiim bagi ormawa. Saya harap para petinggi ormawa tak perlu ragu untuk memilih langkah berani itu. Memang, wacana boikot ini merupakan sebuah kebodohan, sebab tak dari dulu dilakukan. Tapi kata pepatah kuno, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.