KKN itu Pengabdian, Tenane?

Sumber gambar : www.datdut.com

Oleh Widi Hermawan

Udara dingin terasa menusuk tulang, membuat saya terbangun setelah bersusah payah memejamkan mata untuk tertidur. Refleks saya lihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Pukul empat lebih sedikit, artinya baru sekitar dua jam saya tidur di lantai beralas tikar tipis itu. Saya coba untuk memejamkan mata lagi, berharap dewi mimpi akan membawa saya ke alamnya. Namun sia-sia, dinginnya udara Jatirejo membuat sekujur tubuh saya menggigil. Jaket hitam dengan tulisan nama sebuah organisasi kerohanian yang saya kenakan tak kuasa membendung dinginnya udara pagi kala itu. Gerimis rintik-rintik tak kunjung reda sejak semalam. Dengkuran demi dengkuran saling bersahutan, menampakkan kelelahan yang teramat.

Saya putuskan untuk beranjak dari tempat tidur itu (sebenarnya tak bisa dikatakan tempat tidur), saya minum kopi hitam pahit yang sudah sedingin es sisa semalam, lalu saya nyalakan sebatang rokok dan menghisapnya, berharap dapat memberikan sedikit kehangatan. Tidak berselang lama adzan subuh berkumandang. Saya hisap dalam-dalam rokok yang hanya menyisakan satu hisapan terakhir itu, lalu bergegas menuju masjid kecil yang hanya berjarak sekitar dua puluh meter.

***

Cerita di atas adalah sebuah catatan kecil saya di pagi pertama menjalani KKN. Kebetulan saya ditempatkan di salah satu desa yang cukup nggunung, Desa Jatirejo namanya. Terletak di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, salah satu desa yang cukup dingin, dan untungnya saya sudah terbiasa kedinginan, juga kesepian tentunya. Berbeda dengan Jogja yang sudah semakin sumpek, riuh, dan istimewa (terserah apanya yang istimewa), Jatirejo adalah desa yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota.

Kembali ke KKN yang merupakan agenda wajib bagi setiap mahasiswa S-1 sebagai perwujudan pengabdian terhadap masyarakat. Cukup membanggakan mendengar kata pengabdian tersebut, tapi benarkah pelaksanaannya sekeren itu?

Sehari setelah penarikan dari tempat KKN, saya membaca sebuah pesan broadcast WhatsApp yang ditulis oleh salah seorang kepala desa (setidaknya pada pesan tertulis seperti itu). Pesan itu berisi curhatan, atau lebih tepatnya kritikan beliau kepada mahasiswa KKN di desanya. Bahasa yang digunakan cukup nylekit, intinya ia mengatakan kalau mahasiswa hanya besar namanya di dalam kampus, namun di masyarakat hanya menjadi buih. Singkatnya, mahasiswa hanya jago kandang. Di kampus mungkin ia seorang aktivis yang mampu memimpin ratusan mahasiswa lain untuk demo menuntut penurunan UKT, namun di tengah masyarakat ia bagai kerupuk yang di siram kuah sayur, mlempem.

Rasa lelah yang belum hilang sepenuhnya karena KKN membuat emosi saya sempat meledak ketika membaca pesan itu. Si kepala desa pasti tidak tau, rasanya harus bangun mruput setiap pagi melawan dingin untuk ngajar di SD, kadang belum sempat sarapan, sampai di sekolah ketemu anak-anak yang hmmm, begitulah. Siangnya harus mengadakan berbagai macam pelatihan kepada ibu-ibu desa, dimana akses untuk mencapai lokasi pelatihan membuat kami merasa begitu dekat dengan Tuhan. Bagaimana tidak, jalan bebatuan naik turun, samping kanan jurang, samping kiri tebing, bagaimana kami tidak banyak-banyak istighfar ketika melewatinya. Belum ketika sudah sampai lokasi harus bertemu dengan ibu-ibu yang, asudahlah, tak perlu dijelaskan. Sore harinya harus berebut kamar mandi, bagaimana tidak, satu kamar mandi dipakai bersepuluh, saling tikung menikungpun tak terelakkan, pas giliran mandi air habis. Ya Allah, dosa apa hamba-Mu ini? Akhirnya berlaku juga dalil “Mandi hanya untuk orang-orang yang kotor {Bukan H.R. Nonmuslim}”.

Malam hari bukan berarti waktunya bersantai, hampir setiap malam ada agenda tak terduga seperti tahlilan, kenduri, perjanjen, manaqiban, dan masih banyak yang lainnya. Biasanya acara malam baru selesai sekitar pukul sepuluh, setelah itu bisa santai? Bobok cantik berselimut rapat dan memeluk bantal guling? Tentu tidak. Masih ada tetekbengek kesibukan lain seperti menulis catatan harian, rapat evaluasi, rapat perencanaan program, sampai rapat-rapat lain yang kadang diwarnai oleh tetesan air mata, terutama untuk kelompok yang didominasi oleh kaum hawa. Saya yakin pak kades yang menulis pesan broadcast itu tidak pernah merasakan apa yang kami rasakan, cobalah mengerti pak! Tapi tidak lama saya sudah bisa mengendalikan diri, sebagai umat yang beriman saya langsung teringat Tuhan, lalu nyebut, Jancuk! Dan amarah yang sempat membara pelan tapi pasti mulai mereda.

Setelah pikiran kembali jernih, saya mencoba untuk memposisikan diri sebagai kepala desa yang menulis tadi. Introspeksi banyak-banyak saya lakukan. Benar saja, dari kamar sebelah terdengar kawan saya yang lain sedang asyik nggibah. Samar-samar terdengar bahwa ada kelompok KKN yang sampai diusir dari lokasi karena terlibat konflik dengan masyarakat. Ghibah-an mereka tampak semakin asyik, terdengar lagi bahwa mereka sering dicurhati masyarakat, lebih tepatnya diajak menggunjing kelompok KKN lainnya tentang kejelekan-kejelekannya. Mereka tidak sadar, kalau sedang bersama kelompok yang sedang digunjing, giliran mereka yang menjadi bahan gunjingan. Ini menunjukkan bahwa kita memang harus kembali bercermin, benarkah yang kita lakukan adalah pengabdian.

Kebanyakan dari kita menjadikan masyarakat sebagai obyek program-program KKN yang kita buat. Kita tidak melihat apa sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat. Kita datang dengan pede-nya membawa program-program yang kita anggap revolusioner. Namun kita lupa, bahwa masyarakat sudah berada di posisi nyaman mereka selama puluhan tahun. Lalu kita datang memaksa mereka keluar dari zona nyaman itu, bukan malah membuat zona mereka menjadi semakin nyaman. Itu subversif namanya Bung!

Jadi jangan heran kalau banyak dari kita yang kurang dianggap di tengah masyarakat, lha wong kita ini orang asing kok tiba-tiba datang nyuruh ini itu kepada masyarakat. Masyarakat mana yang tidak akan berontak. Saya tahu, tujuan kita semua mulia, haqqul yaqiin. Masalahnya kita kebanyakan ikut seminar-seminar motivasi, kebanyakan teori, tapi minim praktek. Kita lupa bahwa masyarakat berbeda dengan adik-adik mahasiswa yang biasa daftar berbagai seminar yang kita adakan. Hasilnya seperti yang dikatakan Pak Kades, kita hanya jago kandang. Saya jadi ingat pesan salah seorang senior sebelum berangkat KKN, “Nggak usah terlalu berekspektasi dengan program-program yang melangit. Bisa diterima di tengah masyarakat saja sudah syukur,” ujarnya. Nasihat itu akhirnya membuat saya merenung semalaman, dan akhirnya program kerja yang sudah sangat keren harus saya ubah menjadi main-main bersama anak-anak dusun. Ya sudahlah ya.

Mahasiswa hanya jago kandang kata pak kades benar adanya, sekarang lihat saja, berapa dari kita yang bisa membaur dan diakui masyarakat tanpa membawa embel-embel almamater kampus? Berapa banyak dari kita yang berkaos oblong, bercelana boxer, ikut sambatan sambil nglinthing bersama warga tanpa sekat? Atau mengisi berbagai pelatihan, penyuluhan, atau sosialisasi hanya berkaos polos dan bersarung, tanpa berjas almamater? Ada, tentu ada, tapi ya tidak banyak. Kebanyakan dari kita masih belum bisa lepas dari simbol-simbol kekampusan. Kita masih sangat bergantung pada simbol-simbol almamater entah itu jas, kaos, kemeja, dan sejenisnya supaya bisa dianggap dan diakui masyarakat.

Terlalu jumawa rasanya kalau kita menyebut KKN yang telah kita lakukan sebuah bentuk pengabdian. Nyatanya kita justru kerap menjadi beban tambahan bagi masyarakat. Dan ternyata tulisan ini sudah mbleber melebihi aturan redaksi wartafeno.com, mencapai seribu kata lebih tanpa ada arah yang pasti. Seperti hubungan kita. Intinya saya ingin mengajak kawan-kawan mahasiswa untuk bercermin bersama, masihkah kita pede mengatakan KKN kita adalah sebuah pengabdian untuk memberdayakan masyarakat ? Atau kita hanya mengeksploitasi masyarakat sebagai obyek untuk menggugurkan kewajiban nilai tiga SKS ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *