Benar Kata Sultan, Masalah Bandara Mahasiswa Urusannya Opo?

sumber gambar: sekber_yogyakarta

Semakin memanasnya kemelut proyek pembangunan bandara NYIA di Kulon Progo sampai membuat Raja sekaligus Gubernur DIY Sultan HB X mengeluarkan pernyataan di sebuah media komersil tingkat nasional, sebut saja Detik. Pernyataan tersebut kurang lebih seperti ini “Mahasiswa urusannya opo?”. Itu memang bukan kalimat pernyataan, melainkan kalimat pertanyaan. Namun pernyataan tersebut dapat ditafsirkan menjadi “Mahasiswa itu tidak punya urusan dalam masalah pembangunan bandara di Kulon Progo!”. Itu tafsiran saya pribadi, kalau ada pembaca yang merasa punya tafsiran yang lebih sahih silakan untuk disampaikan ke saya. Saya sebagai mahasiswa yang sudah cukup berumur sangat sepakat dengan pernyataan Pak Sultan tersebut.

Sebelumnya perlu diketahui, bahwa proses pembebasan lahan untuk pembangunan NYIA sudah kembali dilakukan sejak beberapa hari lalu, penggusuran demi penggusuran pun tak dapat dielakkan. Penolakan keras terjadi, tidak hanya dari masyarakat setempat, tapi datang juga dari berbagai wilayah dan elemen, terutama mahasiswa. Bahkan dalam berbagai media nasional yang sudah dapat sertifikat dari Dewan Pers menyebutkan aksi-aksi penolakan tersebut sampai berakhir pada bentrokan dengan aparat. Inilah yang memicu keluarnya pernyataan “Mahasiswa urusannya opo?” dari Sultan.

Sekali lagi saya sependapat dengan pernyataan Sultan, mahasiswa itu tidak punya urusan apapun dalam masalah ini. Mereka yang ikut-ikutan menolak proyek dapat dipastikan mahasiswa kurang kerjaan, pasti juga jomblo. Selain kurang kerjaan dan jomblo, mereka juga mahasiswa dengan pemikiran primitif yang anti pembangunan. Mereka tidak paham kalau bandara adalah infrastruktur yang menjadi kepentingan bersama, baik bersama birokrat maupun korporat. Negeri ini tidak akan maju kalau mental-mental generasi mudanya seperti ini, kita hidup di era globalisasi coy, agar bisa bersaing, harus pandai-pandai menggaet investor. Pokoknya apa yang bisa dijual, jual. Masa begitu saja enggak paham, percuma kalian disekolahkan tinggi-tinggi sampai Jogja.

Mahasiswa-mahasiswa itu sok-sokan mau membela rakyat tertindas, padahal nasib kuliah mereka sendiri saja terbengkalai. Mbok ya jadi mahasiswa ndak usah neko-neko, belajar yang bener, biar bisa lulus tepat waktu, lalu kerja di perusahaan-perusahaan multinasional. Syukur-syukur bisa juara lomba sana-sini untuk mendongkrak citra kampus. Kita ini sudah reformasi, bukan di zaman orba lagi. Sudah tidak zaman lagi mahasiswa turun ke jalan, demonstrasi, apalagi sok-sokan mau jadi pahlawan untuk rakyat tertindas. Lagian buat apa sih repot-repot membela warga Kulon Progo yang mau digusur itu, lha wong mereka hanya menuntut ganti rugi yang lebih besar kok. Hanya masalah uang, tak perlulah mendramatisir yang macem-macem. Mending ikut aksi-aksi angka cantik, setidaknya di sana dapat nasi bungkus. Mahasiswa yang ikut campur dalam masalah pembangunan bandara ini juga dipastikan hanya nyari panggung saja, terutama mereka yang berniat terjun ke dunia politik. Ya biar bisa menggaet hati masyarakat, atau setidaknya bisa pamer foto-foto mereka di tengah penggusuran ke sosial media untuk mendapat simpati dari warganet.

Ada lagi yang mengatakan kalau aksi mereka ini adalah upaya untuk mempertahankan lahan pertanian, dimana pertanian adalah sumber kehidupan. Katanya manusia bisa bertahan tanpa bandara, tapi tidak bisa bertahan tanpa makanan yang dihasilkan dari pertanian. Lagi-lagi ini adalah pemikiran yang sangat primitif, sempit, pendek, logika yang bengkok. Pasti mereka tidak pernah baca berita di media-media terkenal, sehingga tidak tahu kalau sektor agraris bukan lagi jadi andalan negeri ini. Pemerintah kan sudah bilang, kalau kita sudah tidak bisa lagi bergantung pada sektor agraris, kita harus beralih menjadi negara industri. Dan bandara adalah infrastruktur yang sangat tepat untuk mendongkrak terwujudnya negara industri yang sukses. Masalah pangan itu bisa diatur. Kalau kita sudah sukses menjadi negara industri, bandara jadi, tol jadi, kereta cepat jadi, pokoknya semua infrastruktur sudah jadi, otomatis perekonomian akan tumbuh dengan sangat pesat. Kalau sudah seperti itu, masalah bahan pangan urusan gampang, tinggal impor saja dari Cina, beres!. Tanam menanam itu budaya masyarakat di negara tertinggal, kalau sudah jadi negara industri yang maju, nggak level lah yang namanya bercocok tanam.

Lagian ngapain juga jauh-jauh ke Kulon Progo, tidur di emperan masjid yang sudah mau digusur (kalau sempat tidur), siangnya berjibaku dengan aparat, bahkan tidak jarang dapat perlakuan kasar. Mau jadi mahasiswa yang anti kemapanan? Enakan juga di kos, main game online. Atau nongki-nongki di kafe atau mall sama teman-teman, sembari nyari pemandangan gadis-gadis seksi berpaha mulus, syukur ada yang bisa digebet, lumayan kan jadi bisa menghemat sabun di rumah (nggak ada hubungannya). Atau buat para aktivis mahasiswa, mending fokus sama program kerja di organisasinya masing-masing. Syukur-syukur buat program kerja yang bisa menghasilkan banyak piala, supaya bisa mendongkrak citra kampus. Kalau program yang sifatnya hore-hore perlulah sekali-kali, mahasiswa zaman now gitu loh. Yang tidak kalah penting juga jangan lupa untuk rajin-rajin menjilat birokrat kampus, supaya anggaran tahun depan tidak dipotong, syukur-syukur bisa ditambah, lumayan buat beli gorengan untuk rapat. Daripada ikut-ikutan jadi relawan ndak jelas seperti itu, capek, kotor, buang-buang waktu, masih mending ndak kena pentungan aparat. Apalagi kalau sampai tercyduk, ndak kebayang perasaan orang tua, disekolahin tinggi-tinggi malah masuk bui.

Pembangunan bandara itu laa roiba fih, tidak ada keraguan di dalamnya, sebab bandara adalah salah satu kepentingan umum. Tidak hanya bandara, tapi juga infrastruktur-infrastruktur lainnya, seperti tol, kereta cepat, pembangkit listrik, tambang, pabrik, sampai mall, itu adalah untuk kepentingan bersama. Saya sangat mendukung pembangunan-pembangunan tersebut, meski harus ada penggusuran, toh yang digusur hanya rakyat-rakyat kecil yang tidak terlalu berjasa untuk negara. Kalau bisa semua lahan dibangun, demi mendongkrak perekonomian negara. Kalau sudah ada bangunannya, tidak usah ragu untuk digusur, tak terkecuali keraton, pasti akan lebih berfaedah karena digunakan untuk kepentingan bersama.

Yogya, 10 Desember 2017

4 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *