Sabtu, (10/03) Padepokan Perempuan GAIA menyelenggarakan diskusi mengenai feminisme sebagai peringatan ulang tahun GAIA yang ke-22 dengan tema “Analisis Relasi Antara Sex dan Gender Untuk Memperdalam Kesadaran Gender”. Diskusi ini dimotori oleh Drs. Agustina Prasetya Nunuk M. yang merupakan pendiri sekaligus ketua Padepokan Perempuan GAIA.

Padepokan Perempuan GAIA sendiri merupakan sebuah perkumpulan yang fokus pada bidang feminisme. Dalam bahasa Yunani GAIA mengandung arti sebagai Dewi Bumi (Earth Goddess) yang merupakan latar belakang pemberian nama padepokan tersebut. Sebelum resmi menggunakan nama GAIA pada 8 Maret 2016, sejak 22 tahun lalu perkumpulan ini memakai nama Padepokan Perempuan. Berawal dari tujuh aktivis mahasiswa yang meresahkan pendeknya pemikiran perempuan, Agustina Prasetya Nunuk M. atau yang akrab disapa Bu Nunuk berinisiatif mengadakan diskusi tenang persoalan itu. Inisiatif tersebut mendapat respons positif dari ke-enam kawannya yang lain. “Pada saat diskusi itu kami marah sekali pada mereka itu. jadi pada waktu itu kami tidak tahu sebabnya apa kok mereka itu selalu mengeluh mengadu, lalu kemarahan kami tadi memunculkan ide. Mengapa mereka itu mengalami seperti itu? setelah kami refleksikan bertujuh tadi, ternyata mereka itu kurang pengetahuannya terhadap bagaimana menjadi perempuan itu,” ujar Nunuk.

Diskusi dalam rangka memperingati hari jadi Padepokan GAIA yang diselenggarakan di Daerah Wirobrajan ini cukup mengundang banyak perhatian masyarakat dari berbagai kalangan. Sekitar 40 orang hadir dan aktif berdiskusi dengan pembicara terkait permasalahan-permasalahan tentang perempuan.

Elna Febi Astuti SH atau yang akrab dipanggil Asti, salah satu anggota Padepokan GAIA sekaligus ketua panitia acara menilai bahwa alat kelamin tidak hanya dua jenis saja, namun ada varian lain yang telah ditemukan melalui berbagai penelitian. “Seperti yang kita ketahui gen laki-laki XY dan perempuan XX, tidak hanya dua gen ini saja, itu bisa bervariasi lagi, bisa mecah gitu lho. Dan saya pribadi itu tidak bisa menolak realita yang ada. Tomboy, Gay, dan lain-lain itu termasuk varian sex yang harus kita terima. Jadi bukan sekadar simbolisasi alat kelamin,” tambah Asti.

Saat ini paradigma terhadap wanita tidak bisa hanya sekadar pada urusan sumur, dapur, dan kasur saja. Menurut Asti, sebagai insan wanita harus bisa berpikir dan bekerja layaknya hal yang dilakukan oleh kaum pria. “Saya sebagai wanita karir, saya ingin banyak perempuan di Indonesia mempunyai karya, karena dengan berkarya kita dapat menunjukkan bahwa kita juga bisa. Kita memperjuangkan hak-hak itu dengan berkarya bukan lagi dengan berdemo atau pun hal-hal frontal lainya. Pembuktian itu sangat penting. Bagaimana kita tidak hanya berprotes, tetapi harus ada do-nya,” tambah Asti.

Dari adanya diskusi ini, Asti berharap ke depan semakin banyak orang-orang yang tertarik untuk belajar bersama demi menyelesaikan permasalahan-permasalahan gender yang masih kerap terjadi. “Diharapkan dengan adanya diskusi ini banyak mengundang teman-teman agar tertarik untuk belajar bersama, menulari temannya semangat berproses dan lain-lain,” tutup Asti. [Fairuz]