sumber gambar: repro

Oleh Widi Hermawan

Masih jelas dalam ingatan betapa indah masa-masa awal masuk dunia permahasiswaan. Orasi-orasi yang membakar, pidato-pidato yang melambung-lambungkan mahasiswa, tulisan yang berapi-api sungguh mengobarkan bara di dada. Tidak heran ketika siswa di perguruan tinggi disematkan gelar maha. Ketika seorang orator menyebut mahasiswa sebagai agen perubahan, sebagai penyambung lidah rakyat, sebagai tulang punggung bangsa dan negara, sungguh itu menjadi candu.

Namun hal bertolak belakang saya temukan di kemudian hari. Ketika saya menemukan banyak kelengkapan kampus yang menurut saya sangat menghina mahasiswa. Misalnya sebuah tulisan ‘PARKIR YANG RAPI’ di tempat parkir, ‘TEMPAT SAMPAH’ atau ‘BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA’, ada lagi sebuah tulisan ‘SIRAM KLOSET SAMPAI BERSIH SETELAH DIGUNAKAN’ di dalam toilet. Ini adalah sebuah pelecehan karena menganggap mahasiswa, agen perubahan, tulang punggung bangsa dan negara tidak tahu bagaimana cara parkir yang benar. Lebih parahnya lagi, mahasiswa dianggap tidak tahu kalau sebuah tong yang berwarna oranye dan hijau (atau warna lainnya) yang berbau busuk adalah tempat sampah dan didikte bagaimana membuang sampah yang baik. Bahkan kampus juga merendahkan adab mahasiswa setelah buang air dengan mendikte mahasiswa ketika ia selesai buang air. Bagaimana tidak geram, bahkan sewaktu saya SD tidak sampai segitunya sistem mendikte saya.

Itu baru di tempat-tempat umum, memasuki gedung kegiatan mahasiswa keheranan saya semakin menjadi. Sebuah rak dari plastik memanjang bertingkat dua di atasnya tertempel tulisan ‘TEMPAT SEPATU’. Bahkan di tempat yang katanya kawah candradimuka-nya aktivis mahasiswa pun budaya pen-dikte-an sangat kental. Masuk lagi ke dalam terpampang tulisan ‘CUCI PIRING/GELAS SENDIRI SETELAH MENGGUNAKAN’ di atas sebuah dispenser. Ketika hendak sembahyang, di sebuah lemari juga tertulis ‘KEMBALIKAN KEMBALI SAJADAH/MUKENA KE TEMPAT SEMULA’. Apakah separah ini kesadaran mahasiswa? Batin saya. Apakah bahkan dari hal yang sangat kecil, bahkan adik saya yang masih berusia sembilan tahun juga tahu, harus diberitahukan kepada mahasiswa? Ini pelecehan namanya.

Untung ketika itu bacaan saya belum sampai pada teori-teori Paolo Freire tentang pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia. Budaya mendikte sangatlah jauh dari konsep memanusiakan manusia. Karena ketika didikte si otak akan malas untuk bekerja, dan ketika itu terjadi secara rutin, ya akibatnya You know what I mean lah. Apalagi saya kuliah di UNY yang notabene kampus pendidikan, seharusnya tidak asing dengan berbagai konsep dan filosofi pendidikan semacam itu. Percayalah, siswa bukanlah kertas kosong, masing-masing dari mereka punya sesuatu yang seharusnya bisa dikembangkan supaya mereka menjadi manusia yang seutuhnya. CMIIW.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan hidup dalam dunia permahasiswaan akhirnya memberikan pengertian kepada saya, bahwa apa yang dilakukan pengurus kampus dan pengurus organisasi mahasiswa perihal dikte-mendikte tadi tidak sepenuhnya salah. Perlahan saya mulai mengenali perangai mahasiswa. Saya mulai paham ketika melihat banyak mahasiswa yang parkir seenaknya, meninggalkan bungkus siomay di gazebo, membuang putung rokok sekenanya, memakai toilet tanpa mau membersihkan, melihat sandal dan sepatu yang berserakan tak keruan meski sudah disediakan rak sepatu, tidak merapikan alat ibadah lagi ke tempat semula, hanya mau mengotori alat makan tanpa mau mencuci, dan hal-hal serupa yang seharusnya bukan lagi menjadi masalah mahasiswa.

Melihat kondisi demikian, saya pun sadar bahwa apa yang dikatakan oleh para orator tentang mahasiswa adalah omong kosong belaka. Mana mungkin seorang agen perubahan memiliki perangai demikian? Mana mungkin kita memasrahkan nasib bangsa dan negara pada orang-orang yang bahkan mengurus hal kecil saja tidak becus. Mau jadi apa negara ini? Mana mungkin orang-orang yang mengurus dirinya sendiri saja tak mampu kita harapkan kontribusinya pada pengentasan kemiskinan rakyat, membela rakyat dari penindasan aparat dan birokrat, apalagi meruntuhkan sebuah tirani. Ketika dalam diskusi-diskusi para mahasiswa banyak menyinggung reformasi, menyinggung peran kaum terpelajar dalam mengusir kolonial, dalam hati saya tertawa geli bercampur jijik. Sampai kapan mereka akan terus onani dalam imajinasi keindahan bayang-bayang masa lalu?

Hingga suatu saat seorang kawan mengeluh pada saya, “Mas, saya heran, mahasiswa sekarang ibadahnya rajin-rajin. Ketika terdengar suara adzan, mereka semua langsung bergegas ambil wudhu untuk shalat berjamaah. Bahkan tidak jarang mereka teriak-teriak mengingatkan mahasiswa lain yang masih asik Youtube-an, nugas, main gitar, dan kegiatan-kegiatan duniawinya. Tapi kok ketika terjun dalam dunia nyata, kepedulian dan kesadaran mereka terhadap lingkungan sosialnya sangat rendah. Lalu ke mana perginya semua ibadah mereka itu?”

 Saya terdiam, sulit hendak menjawab apa. Tapi percayalah, tidak ada ibadah yang sia-sia. Saya juga tak berani mengatakan ibadah mereka sia-sia. Pertama ibadah saya sendiri masih berantakan, kedua saya ini bukan asisten-nya Tuhan. Tapi bukankah substansi utama dari sebuah ibadah adalah bagaimana ibadah tersebut bisa berdampak pada kehidupan nyata? Membuat si pelaku ibadah menjadi sosok penolong, dermawan, sabar, mencintai lingkungan, kebersihan, dan sebagainya. Bukankah dalam kitab suci juga disebutkan, bahwa orang yang beribadah itu akan celaka, yaitu mereka yang beribadah namun tidak peduli dengan saudaranya yang tergusur, masih memanipulasi laporan keuangan, masih makan bangkai teman sendiri, dan yang pasti masih malas mencuci gelas dan piring setelah memakainya.

Dari semua itu saya bisa mengambil kesimpulan, bahwa dikte-an saja tidak cukup untuk memberi tahu mahasiswa tentang hal yang sangat sederhana. Lalu, apa solusinya? Terobosan apa yang bisa dilakukan untuk bisa menyadarkan mahasiswa? Entah! [ ]