Biarlah kompetisi, pertandingan cukup digunakan manusia hanya pada olahraga saja. Selain olahraga, janganlah antar manusia berlomba, kompetisi, menang-menangan, pamer-tak eloklah manusia, sesama ciptaan Tuhan saling mengungguli satu sama yang lain. Maka cukuplah kita menikmati kompetisi di urusan olahraga saja. Diantaranya, Anda bisa menikmati permainan bola voli putri di Proliga 2018, cari di Youtube ada. ***

 

Ketika membaca kalimat tersebut, saya teringat memori lama ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kala itu, saya adalah seorang dengan kemampuan olahraga dan seni dibawah rata-rata, nihil piagam perlombaan, serta urusan akademik yang sempat peringkat 29 dari 36 siswa. Ibu bahkan selalu murung setelah membaca isi rapor saya tiap semester.

Untungnya, di kelas 2 (setara kelas XI) saya bertemu bapak tua saat melaksanakan praktik kerja lapangan (PKL) di bengkel kelas menengah. Ia menasehati saya agar belajar lebih giat dari sebelumnya. Alasannya sederhana, “orang tua kerja keras itu jelas untuk anaknya, jadi jangan sia-siakan.” Seketika saya merasa dicambuk dan timbul kesadaran agar lebih baik dari sebelumnya.

Saya kemudian menaruh minat ke Akademik untuk ditekuni lebih dalam. Pola belajar berubah total, dari yang biasa saat ada tugas saja, kemudian beralih jadi kegiatan rutinan. Saya suka membaca tulisan-tulisan ibu saat belajar dulu di lemari tua ketika waktu lengang. Ibu sangat telaten menyimpan benda-benda yang dirasa penting baginya. Anak-anaknya lantas memanfaatkan hobi ibu untuk perkembangannya.

Hari pengambilan rapor kembali diadakan. Ibu kembali jadi perwakilan yang mengambil rapor saya di sekolah. Saat keluar kelas, tiba-tiba ibu memeluk sambil menangis. “Kamu dapat peringkat 2 nang,” bisiknya ditelinga saya. Penasaran, saya coba memastikan dengan melihat isi rapor tersebut.  “Lah itu bisa masuk peringkat 10 besar,” ungkap ibu menirukan ucapan wali kelas. Saya hanya bisa menjawabnya dengan tersenyum dan memutuskan pulang ke rumah bersama naik angkutan kota.

Hari-hari di semester baru usai penerimaan rapor berjalan seperti biasa. Teman-teman saling mengecek hasil rapor satu sama lain. Ada berbagai macam reaksi muncul, mulai dari tidak terima, merasa lebih baik dari si A, biasa saja, hingga bahagia seperti saya. Hate, pribadi yang mengajarkan saya untuk belajar mengetahui asal-usul sebuah rumus matematika sebelum mempercayainya kembali jadi yang pertama. Sementara Irmanto, pemuda yang haus akan ilmu dunia otomotif menduduki urutan ketiga.

Kami bertiga seketika dibaiat menjadi eksekutor perkara penyelesaian tugas-tugas sekolah oleh teman sekelas. Terkadang kami sering tukar pikiran juga dengan teman-teman lain yang tertarik untuk tahu, bukan sekadar tugas terkumpul. Hal-hal penting selama menjalankan tugas tersebut satu per satu bermuculan, beberapa teman kami sebenarnya sangat handal untuk bidang-bidang tertentu, seperti bahasa, sosial, eksata, dan olahraga tentunya.

Pernah saya iseng bertanya kepada teman yang jago olahraga, mengapa kamu tidak fokus bermain voli saja, kan sudah level provinsi juga? “Ya kan pendidikan di sekolah bukan cuma voli saja, jadi aku harus belajar yang lain juga,” jawabnya penuh yakin. Aku menyangkal dengan bertanya lagi, bukankah yang kamu sukai hanya voli? “Kerja di perusahaan butuh nilai selain dari voli ya,” katanya sambil mendekati kemudian mengajak saya ke kantin untuk beli jajan.

Kisah dengan teman yang berbakat jadi sastrawan juga tak kalah menarik. Ia yang sibuk menulis di secarik kertas saya intip. Ternyata, ia sedang membuat puisi khas remaja yang sedang kasmaran kepada hawa. Karena sempat membacanya, saya pun memujinya dan berkata, “ini keren lho!” Ia tersipu malu dan salah tingkah seketika. Saya kemudian bertanya, mengapa kamu tidak membuat puisi yang banyak lalu dijadikan buku? “Orang tua saya sudah membiayai saya les tambahan biar pintar semua bidang win,” jawabnya lesu.

Ada juga cerita teman yang hobi modifikasi sepeda motor. Saat belia, ia telah mampu mengisiasi dan menghidupi sebuah komunitas sepeda motor thai look dengan modal tersedianya fasilitas bengkel dari ayahnya yang seorang wirausahawan. Ketika ia sedang mengerjakan tugas bahasa inggris bersama di kelas, saya iseng bertanya, kenapa kamu tidak fokus saja kembangkan modifikasi dan komunitasmu itu? “Udah win, ayo selesaikan tugas ini dulu biar cepet pulang,” jawabnya mengacuhkan pertanyaan saya. Agak dongkol memang, tapi dari raut mukanya, ada pesan tersirat bahwa ia tidak suka ditanya demikian. Entah alasannya, saya pun tidak mengetahuinya.

Empat tahun lamanya, kejadian-kejadian tersebut kembali saya ingat usai membaca sepenggal kalimat pembuka artikel ini di sebuah media daring. Saya sadar, bahwa impian dan bakat setiap anak di Indonesia masih banyak yang belum terfasilitasi. Berbagai penyebab bisa dipetakan, mulai dari komunikasi antara anak dengan orang tua yang buruk, pola pikir sempit terhadap makna suskses hingga ambisi orang tua agar anaknya berkompetisi mengalahkan teman-teman sekelasnya diranah akademik.

Andai kata setiap anak difasilitasi untuk mengembangkan bakatnya, mereka pasti jadi lebih percaya diri dan berpikir bahwa setiap individu adalah pemenang pada masing-masing bidang. Beruntunglah kalian yang sudah menemukan kesukaan terhadap suatu hal dan masih menekuninya sejak belia. Yang sudah menemukan dan masih terhambat karena beberapa alasan, pikirkan ulang apakah ada perasaan bahagia saat menjalaninya? Bagi yang belum menemukan sama sekali hal yang disukai untuk ditekuni, ayo cari bareng saya. Ehe