Selasa, 1 Mei 2018 sejumlah massa dari beberapa elemen melakukan aksi di Titik Nol Km, Yogyakarta. Massa yang menamai dirinya Aliansi Rakyat Untuk Satu Mei (ARUS) ini mengusung tema “Lawan Imperialisme, Tolak Neoliberalisme, Ayo Bangun Persatuan Rakyat untuk Keadilan, Kesetaraan dan Kesejahteraan”. Beberapa elemen yang tergabung dalam aliansi ini meliputi serikat buruh, organisasi mahasiswa, serta organisasi pemuda. Satu demi satu anggota melakukan orasi di atas mobil Jeep dari Parkiran Abu Bakar Ali sampai Titik Nol Km. Isi orasinya seputar penderitaan kaum buruh, kaum tani, atau kaum marjinal lainya.

Tidak hanya menyerukan kepentingan buruh, ada sejumlah 18 tuntutan lain meliputi reforma agraria, bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA), hingga kapitalisasi Pendidikan. Dalam press rilisnya, mereka menyerukan bahwa kaum buruh harus terus menginspirasi rakyat, bahwa kemenangan hanya dapat diraih melalui perjuangan. Sementara perjuangan dapat cepat tercapai dengan adanya persatuan di antara unsur-unsur yang tertindas dan terhisap.

Tuntutan utama mereka adalah seputar kesejahteraan buruh seperti menolak upah murah, menolak sistem kerja outsourcing, memberikan perlindungan kepada buruh informal, menghentikan penggusuran dan memberikan lapangan kerja yang layak, memberikan jaminan sosial dan kesehatan gratis, menghentikan liberalisasi di sektor tenaga kerja, menghentikan represifitas dan kriminalisasi terhadap gerakan rakyat, memberikan kesejahteraan pada tenaga kerja di sektor pendidikan, menolak PHK sepihak, mengembalikan 8 jam kerja dan memenuhi keselamatan kerja untuk buruh. Mereka juga menuntut hal-hal di sektor lain, seperti sektor pendidikan dan agraria. Beberapa hal yang mereka tuntut di antaranya tolak kapitalisasi pendidikan, cabut UU Sisdiknas, wujudkan demokratisasi pendidikan, wujudkan pendidikan gratis ilmiah, demokratis, bervisi kerakyatan, laksanakan reforma agraria, sampai menolak pembangunan bandara NYIA di Kulon Progo. 

Tidak hanya ARUS, massa yang mengatasnamakan Komite 1 Mei untuk “Kemerdekaan, Kesetaraan, dan Kesejahteraan” (KOMITMEN) juga melakukan aksi di tempat yang sama. Berbeda dengan ARUS, KOMITMEN membawa 32 tuntutan dengan berfokus pada buruh dan Hari Aneksasi Papua Barat. Terdapat juga aksi teaterikal yang disuguhkan sebagai penggambaran penindasan terhadap rakyat Papua. Kedua aksi ini berlangsung kondusif dan mendapat perhatian yang cukup besar dari masyarakat sekitar Malioboro. [Fairuz]