Oleh : Fadhil

Melihat situasi dan kondisi dari kawasan wisata malioboro, begitu ramai dari hiruk pikuk manusia yang tak ada henti-hentinya datang untuk sekadar berjalan-jalan sambil menikmati semua hal yang disuguhkan disepanjang jalan malioboro. Mulai dari toko oleh-oleh, makanan, tukang pijat, bahkan pengamen-pengamen kreatif semua berkumpul untuk memanjakan para wisatawan yang ada disana.
Akses untuk menuju wisata malioboro pun tidak lah sulit bahkan sangatlah mudah, walaupun begitu padat nya situasi lalu lintas disana. Ada layanan transportasi umum yang disiapkan seperti bus transjogja, atau jika pelancong memiliki kendaraan sendiri ia dapat membawa kendaraannya.
Tidak dipungkiri lagi bahwa masyarakat Indonesia sangatlah bergantung pada kendaraan untuk pergi kemanapun, bahkan hanya untuk membeli kopi diwarung yang jaraknya hanya 10 meter. Begitu juga dengan para pelancong yang hendak datang ke Malioboro, pastinya banyak dari mereka yang membawa kendaraan salah satunya sepeda motor.
Jika kita perhatikan, disepanjang jalan Malioboro memang tidak diperbolehkan untuk parkir. Itulah guna nya dari parkiran Abu Bakar Ali yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan tempat parkir. Megahnya parkiran ini hingga berlantaikan tiga dan dapat menampung beberapa ribu kendaraan sepeda motor. Parkiran ini memang dikhususkan untuk pengunjung yang membawa sepeda motor.
Namun ada cerita yang sedikit menyesakkan hati bagi para juru parkir Abu Bakar Ali. Dibalik kemegahannya, ternyata tempat ini sangat amat sepi. Sangat tidak menggambarkan keramaian dari Malioboro. Pertanyaannya kemana para pelancong memarkirkan kendaraannya ?
Kanidi, seorang pria tua, kulit sawo matang, berbadan subur yang selalu memakai rompi orange khas juru parkir. Keringat yang menetes tak menghalangi terkembangnya senyum dibibirnya saat kita bertemu. Raut wajahnya sedikit lelah, namun ia tak menggubrisnya. Dari parkiran Abu Bakar Ali ia bercerita tentang betapa sepinya tempat ini.
Lelaki yang sudah berumur 50 tahunan ini adalah salah satu juru parkir di parkiran Abu Bakar Ali, sudah bekerja ditempat ini dari awal berdiri pada tahun 2016. Berawal dari juru parkir disekitaran kawasan Malioboro lalu dipindah tugaskan ke parkiran Abu Bakar Ali dengan iming-iming dari pemerintah yang sangat menggiurkan. “ saya sama temen-temen juru parkiran sekalian ini diberi kehendak untuk memanfaatkan parkiran ini mas. Pertamanya saya menolak karena jaraknya kejauhan sama pusat keramaian, pasti nanti parkiran sepi lebih milih parkir dibawah. Pemerintah ngasih janji kalo parkiran yang dibawah ini bakal di ilangin, jadi nanti semua harus parkir di sana ( Abu Bakar Ali ) “ itu sedikit ucapan janji manis dari pemerintah yang diberikan kepada Kanidi dan temen-temen juru parkir sekalian.
“alah mas, udah dua tahun ini parkiran dibangun, tetep aja mas parkiran yang dibawah tetep ada. Gatau tuh legal apa illegal. Ngomong doang emang” bentuk kekecewaan Kanidi atas janji palsu yang diberikan.
Memang kalau dipikir-pikir jika ingin jalan-jalan di Malioboro lebih baik parkir kendaraan di bawah, di gang-gang sepanjang jalan Malioboro pasti ada parkir. Kalau parkir dibawah itu kemana-mana deket, nggak seperti di Abu Bakar, kalo kita mau ke titik 0 km pasti kan jauh banget, gewlaseh kalo harus jalan dari ujung ke ujung. Legal atau tidaknya parkir yang dibawah tidak dipikir, yang penting kendaraan kita bisa dapat parkirkan.
Pemikiran-pemikiran seperti ini yang membuat sedih Kanidi dan lima puluh tiga juru parkir Abu Bakar. “Kita disini juga punya 2 shift mas, jadi 1 shift 1 hari, kita jadinya kerja cuma 2 hari sekali.”
Untuk pembagian hasil, dalam satu shift dibagi ke semua juru parkir. Upah yang didapat Kanidi dan yang lainnya dalam satu shift paling hanya 30rb – 40 ribu saja. Upah segitu untuk menafkahi keluarga nya dalam dua hari. Sangat amat sedikit memang, namun Kanidi tetap tersenyum dan selalu mensyukuri nikmat yang telah didapatkan.
Kanidi dan teman-teman juru parkir lain hanya ingin keadilan yang seadil-adilnya. Pemerintah bisa menepati janji nya dua tahun lalu untuk menertibkan masalah parkiran yang berada dibawah agar semua bisa dipusatkan di parkiran Abu Bakar.