Oleh : Fadhil

Memegang kantong plastik di tangan, para pendukung Jepang asyik mengubah energi sedih menjadi hal baik dengan menyisir stadion untuk memunguti sampah. Kebiasaan dari pendukung Jepang yang selalu mereka terapkan setelah timnas kesayangan mereka selesai bertanding. Dilansir dari gilabola.com.


Banyak komentar yang diutarakan untuk kebiasaan baik dari pendukung Jepang ini, kebanyakan mereka memuji attitude yang sangat baik ini. Namun hal lain justru terjadi dengan netizen Indonesia, bukannya memberikan komentar baik namun banyak netizen yang malah merendahkan kebiasaan baik itu karena menurut mereka “kan sudah ada yang bersih-bersih stadion, untuk apa kita memunguti sampahnya, nanti tukang bersih-bersihnya malah ngga kerja”. Begitulah sekilas komentar buruk yang diberikan oleh netizen Indonesia.
Beberapa hari yang lalu saya juga menemukan kasus serupa yang ternyata lagi ramai diperbincangkan dikalangan netizen Indonesia, yaitu gerakan #TumpukDiTengah. Maksud dari Tumpuk ditengah itu adalah saat kita selesai makan di restoran dan piring-piring yang kita gunakan setalah makan itu untuk ditumpuk ditengah, agar memudahkan para pelayan restoran untuk membereskan piring bekas kita makan.
Gerakan ini menurut saya sangat baik, karena kita sesama manusia haruslah saling membantu. Saya sendiri pun mulai sekarang sudah menerapkan gerakan ini. Saya pribadi sangat mendukung gerakan ini #TumpukDiTengah.
Namun dalam suatu perbuatan pastilah ada pro dan kontra apalagi kita hidup di Indonesia, dimana banyak orang yang masih berpikiran buruk untuk suatu perbuatan. Banyak netizen Indonesia yang berkomentar buruk untuk gerakan ini, rata-rata komentar dari mereka sama seperti komentar yang diutarakan untuk fans Jepang, yaitu “buat apa melakukan itu, kan udah ada pelayannya, nanti pelayannya makan gaji buta dong”.
Komentar yang sangat pedas menurut saya, bukankah para pelayan restoran itu pekerjaannya bukan hanya membereskan piring bekas makan para pelanggan saja, banyak pekerjaan yang mereka lakukan. Membersihkan meja, mencuci piring, menyiapkan makanan sampai ke meja pelanggan, dan masih banyak lainnya.
Sudah menjadi kewajiban kita sebagai manusia untuk membantu sesama, kepada siapapun tidak memandang siapa mereka, apa pekerjaan mereka, apa agama mereka, atau dari mana mereka berasal. Semua itu sudah menjadi kewajiban manusia untuk membantu sesama.
Hei kalian netizen yang berkomentar buruk, ayolah apa salahnya melakukan hal ini, katanya manusia, tapi tangan berat banget buat nolongin manusia lain, berapa kilo dah tuh beratnya tangan?
Diajak ngeGym mau, disuruh angkat piring beberapa cm aja gamau. Gaya banget mau angkat beban di tempat gym. Angkat beban orang lain dulu lebih bermanfaat. Meringankan beban orang lain juga dapet pahala kan, beh mantapz banget dah tuh. Coba itu, hal kecil kayak gitu aja bisa dapet pahala loh.
Sedikit pesan dari saya, ayolah kita bantu para pelayan restoran, mereka juga manusia biasa, kalau kalian melakukan ini pasti mereka akan merasa senang, merasa sangat terbantu atas apa yang sudah kalian lakukan. Perbuatan kecil yang dapat memberikan kesenangan untuk orang lain.
Ini hanyalah salah satu contoh, banyak perbuatan lain seperti halnya membuang sampah pada tempatnya karena mereka yang tidak membuang sampah pada tempatnya adalah orang jahat, atau saat kalian sudah selesai menonton bioskop lalu kalian membawa tempat bekas minuman dan popcorn kalian keluar bioskop untuk dibuang. Hal-hal yang sangat sederhana namun memberikan dampak yang besar yaitu kemudahan dan kebahagian orang lain.
Bagi kalian yang sudah membaca ini, mari kita sebarluaskan pesan ini, agar semakin banyak orang yang sadar dan mulai melakukan hal-hal sederhana ini. Coba kalian bayangkan jika seluruh manusia melakukan ini, pasti banyak yang merasa terbantu, dan akan merasa senang. Jangan kalian pikir jika kalian melakukan itu orang yang bekerja dibidangnya menjadi makan gaji buta. TIDAK! Pekerjaan mereka bukan hanya itu, banyak yang mereka lakukan, jadi ayo kita membantu sesama dengan melakukan hal-hal yang sederhana. #TumpukDiTengah
Terima Kasih