sumber gambar: repro

Oleh Akbar FMA

Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) menjadi gelaran tahunan yang ditunggu-tunggu oleh semua mahasiswa baru. Tentunya, PKKMB perlu dipersiapkan dengan matang agar acara tahunan ini berkesan bagi para mahasiswa baru.

Seperti yang terjadi di fakultas yang saya cintai dan banggakan: Teknik. Mahasiswa baru dari fakultas manapun di universitas ini mesti segan duluan mendengar ‘Teknik’. Lebih-lebih, sebutan kami Jawara —walaupun saya baru mengetahui bahwa Jawara adalah akronim ‘Rajawali Utara’ pada setahun belakangan.

Jawara juga bisa dimaknai sebagai arti kata sesungguhnya, sebagai juara. Ya memang begitu adanya, bukan? Kami ini memang Jawara, kok. Cek saja daftar prestasi mahasiswa UNY asalnya dari fakultas mana, kalau bukan fakultas oranye. Mobil kami sudah berlari di London, robot dan jembatan sudah juara di Singapura. Hey, ini kami!

Pada gelaran PKKMB ini untuk menunjukkan dan menanamkan jiwa teknika—meski sejak maba hingga sekarang saya tidak begitu mafhum seperti apa yang disebut sebagai jiwa teknika, pastinya panitia menyiapkan yel-yel yang menggebu-gebu khas Teknik. Selain melatih kekompakan, sudah pasti yel-yel tahunan dibuat sebagai identitas diri mahasiswa baru: teknik nih anak teknik, nak mana lo?!

Yel-yel yang sangat membekas pada diri saya ketika gelaran OSPEK (nama sebelum PKKMB) dua tahun lalu adalah yel-yel dung tarerarerare dung. Yel-yel ini identik dengan tepukan dan gerakan tangan ke kiri lalu ke kanan. Begitu asyik dan seru, apalagi tangan yang bergerak tadi dipakai modus untuk mencolek atau mencubit teman yang baru kita kenal.

Selain itu, ada yel-yel rajawali utara. Yel-yel ini perlu dikomando, lalu para mahasiswa baru akan mengikuti setelahnya. Jangan tanya seperti apa antusias saya waktu itu. Aih, jangan ditanya. Rasa-rasanya yel-yel inilah yang paling teknik di antara yel-yel yang lain. Kaki-kaki yang dihentakkan ke tribun GOR UNY akan terasa hingga tribun itu seperti bergoyang mengikuti irama. Sungguh mengasyikkan memang.

Bagaimana tahun ini? Yang jelas, yel-yelnya makin banyak. Tapi makin atraktif!

Bayangkan saja, saya telah menyurvei beberapa official video yel-yel dari tiap fakultas. Hasilnya, kebanyakan dari mereka durasi videonya ada di durasi 4-5 menit. FT? 7 menit!

Tak tanggung-tanggung, yel-yel untuk PKKMB FT UNY tahun ini memakai chants yang biasa digunakan para suporter bola di stadion, hingga mars Banser. Bagaimana? Sudah jelas jawara dong.

Chants suporter yang dipakai Tim Kreasi tahun ini adalah Bangga Mengawalmu milik kelompok suporter Bali United, yang digubah menjadi Demi Satuan Kehormatan—agak militer memang. Lalu lagu yang populer lewat acara kartun Popeye Si Pelaut yang gemar dinyanyikan Brigata Curva Sud pendukung fanatik PSS Sleman, juga digubah menjadi FT Gagah Perkasa. Lalu ada chants The Jakmania, pendukung loyal Persija Jakarta berjudul Menerjang Badai, yang digubah menjadi Jawara Sampai Mati.

Selesai? Belum.

Masih ada Kebanggaan di Hatiku milik Bobotoh Persib Bandung—yang sejatinya adalah lagu Sepanjang Jalan Kenangan— digubah menjadi UNY Kebanggan di Hatiku. Dan yang terakhir adalah, Mars Banser NU digubah menjadi UNY untuk Indonesia.

Apakah FT sendirian? Tentu tidak. Fakultas selatan kami, Fakultas Ekonomi juga melakukan hal yang sama. Lagu ‘suporteran’ Emosi Jiwaku milik Bonek juga dipakai. Yang konsisten adalah yel-yel Aku Suka Susumu Aku Cinta FBS dari fakultas para seniman. Lho, kamu belum pernah dengar, tha?

Apa arti dari digubahnya chants suporter sepakbola oleh Tim Kreasi? Jelas, agar terlihat gagah. Secara kita adalah teknika muda yang siap berkarya untuk Indonesia. Kalau ada yang mengkritik yel-yel ini kebanyakan, ya biar saja. Toh, tidak semua yel-yel ini akan dinyanyikan. Saya juga pernah menjadi mahasiswa baru, tidak semua yel-yel akan sempat dinyanyikan di GOR ketika PKKMB/OSPEK universitas. Fakultas selain teknik akan saling gontok-gontokan merasa paling keras dan keren yel-yelnya. Tapi, kamilah yang paling gagah perkasa!

Kecuali kalian—mahasiswa baru—akan terus yelling ketika rektor, pembicara atau pejabat kampus lainnya memberi sambutan. Seratus persen saya yakin, sesi sambutan adalah sesi paling memuakkan.

Selain itu, saya juga senang karena lagu Darah Juang dan Buruh Tani sudah tidak ada lagi dalam daftar yel-yel yang harus dihafalkan para mahasiswa baru. Padahal ketika tahun saya ditatar, kedua lagu tersebut masih lantang dinyanyikan. Beberapa tahun kemarin banyak yang bilang bahwa kedua lagu itu hanya mengingatkan mahasiswa baru terhadap tragedi Mei 1998.

Betul, tragedinya memang harus dilupakan, tetapi menghapus ingatan tentang kediktatoran dan feodalisme pemerintahan adalah dosa besar. Mungkin yang memberi instruksi agar kedua lagu ini dinyanyikan adalah mereka yang ingin mengulang tragedi dua puluh tahun lalu.

Di samping itu, mahasiswa baru apalagi teknika muda seharusnya sudah tidak lagi memikirkan yang macam-macam. Toh, alur dan kebijakan yang ada sudah sesuai dengan semuanya. Tidak perlu ada demo-demo lagi. Yang demo itu mahasiswa yang anarkis tur sok kritis!

Tapi, memangnya ada pengaruhnya kedua lagu itu dengan mahasiswa baru tahun ini?  Yang penting adalah: IPK tinggi, ikut lomba Karya Tulis Ilmiah atau ikut bikin PKM, raih gelar juara sebanyak-banyaknya dan lulus cepat. Yel-yel yang ada sudah mencerminkan, bagaimana sikap kita sebagai seorang teknika muda yang siap berkarya.

Yel-yel yang mana yang paling mencerminkan sikap kita sebagai teknika muda?

Ya yel-yel favorit saya, dong.

Dung tarerarerare dung, tarerare dung, tarerarerare dung: FT!