Yogyakarta, Selasa (14/8), hari pertama kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UNY diwarnai aksi penolakan Uang Pangkal Pengembangan Akademik (UPPA) oleh lebih dari seratus mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Aksi ini bermula ketika rombongan organisasi mahasiswa (Ormawa) dari FIS dilarang memasuki Gedung Olahraga (GOR) UNY oleh panitia PKKMB saat akan melakukan parade ormawa. Alasan pelarangan ini karena jumlah mahasiswa dari ormawa FIS melebihi kuota yang telah ditentukan panitia. Selain itu, adanya pembatasan atribut yang boleh dibawa ke dalam GOR juga menjadi alasan ormawa FIS dilarang memasuki GOR. Pasalnya, ormawa FIS membawa atribut berupa round text yang mayoritas berisi tulisan penolakan terhadap kebijakan UPPA yang diberlakukan oleh UNY sejak tahun ini.

Akhirnya ormawa FIS memilih untuk melakukan aksi di luar GOR, beberapa mahasiswa bergantian melakukan orasi di sisi barat GOR UNY. Puluhan round text tentang penolakan terhadap UPPA mulai dibentangkan, bahkan ada yang round text berukuran besar yang dipasang di dinding GOR. Setelah beberapa saat melakukan aksi, namun tidak mendapat respons apapun dari pihak birokrasi kampus, akhirnya massa mulai mencoba memaksa masuk ke dalam GOR. Hal ini sempat mengakibatkan aksi dorong antara massa aksi dengan pihak keamanan panitia PKKMB. Bahkan beberapa mahasiswa yang dianggap menjadi provokator hendak ditangkap dan diproses hukum. Ketegangan mulai mereda ketika beberapa massa aksi dipanggil oleh pihak birokrasi yang diwakili oleh Muhammadi Nur Rokhman selaku Wakil Dekan III FIS untuk melakukan negosiasi. Namun massa aksi tetap bersikukuh untuk tetap mengenakan semua atribut yang mereka bawa, mereka juga tetap menolak semua pembatasan-pembatasan lain yang ditetapkan panitia.

“Pertama, kami menolak pembatasan-pembatasan apapun yang berhubungan dengan penyaluran aspirasi mahasiswa, kayak round text tadi,” ujar salah satu massa aksi, Adilan Bill Azmy. Adilan juga menyayangkan adanya pembatasan-pembatasan di sebuah kegiatan yang menurutnya monumental oleh pihak panitia. “Namanya juga parade ormawa, benar-benar monumental, cuma sekali setahun, untuk menyambut maba dengan suka ria, dengan suka cita, membangkitkan gelora mereka untuk masuk kuliah di UNY yang sangat tercinta ini kan, makanya kenapa ndak dibolehkan sekalian,” tambahnya. Akhirnya, hingga kegiatan berakhir ormawa FIS tetap tidak diizinkan memasuki GOR.

Adilan juga menjelaskan, bahwa dalam negosiasi dengan Wakil Dekan III FIS, ternyata pihak birokrasi tidak mengetahui adanya pembatasan jumlah peserta parade ormawa yang masuk ke dalam GOR. Hal ini dinilai rancu olehnya. “Dia (Wakil Dekan III FIS) bilang, kalau ternyata pembatasan ini dia tidak mengerti sama sekali, nah kami semakin rancu kan dengan keputusan ini,” jelasnya.

Dalam aksinya, massa menuntut beberapa hal, diantaranya penghapusan UPPA, penurunan UKT, dan menolak pemateri yang berlatar bbelakang militer. “Yang pertama, penghapusan UPPA. Yang kedua, penurunan UKT, yang ketiga, kami menolak pembicara dari militer,” ujar Adilan. Selain itu, massa juga menuntut dibukanya pusat kegiatan mahasiswa (PKM) 24 jam, sebab selama ini gedung PKM dibuka hanya sampai pukul 22.00. Hal ini dinilai telah membatasi ruang berekspresi mahasiswa.

Sebelumnya, pihak ormawa FIS berniat merangkul ormawa-ormawa dari fakultas lain. Namun Adilan mengungkapkan niat tersebut diurungkan karena belum yakin pihak ormawa, khususnya BEM dapat diajak bekerjasama. “Sebenarnya kami mau ngajak FT juga, cuman karena kami belum percaya dengan BEM dari FT,” tambah Adilan.

Adilan berharap aksi tersebut dapat meningkatkan rasa simpati mahasiswa terhadap mahasiswa lainnya yang bernasib kurang beruntung karena mendapat UPPA dan UKT yang tinggi. “Harapannya sih semoga suara-suara mahasiswa yang kecil-kecil kayak gini bisa didengar oleh mahasiswa yang lain ya. Terus menaikkan rasa simpati mereka terhadap mahasiswa yang lain, karena isu UPPA dan UKT ini sudah sangat akut,” tutup Adilan. [Bima]