Yogyakarta (18/9), Paguyuban Pers Mahasiswa yang terdiri dari seluruh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengadakan diskusi film Asimetris di ruang sidang gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Fakultas Teknik UNY. Diskusi ini merupakan serangkaian kegiatan festival persma UNY yang salah satu tujuannya untuk memperingati hari tani nasional pada 24 September mendatang. Diskusi ini diikuti oleh belasan peserta dari beberapa pers mahasiswa se-DIY.

Asimetris sendiri merupakan film garapan Watchdoc yang digawangi oleh Dandhy Dwi Laksono. Film ini mengangkat tentang ketimpangan sosial dan ekonomi antara pengusaha kelapa sawit dengan masyarakat sekitar. Dalam film tersebut Watchdoc tidak hanya menampilkan ketimpangan antara petani kecil dengan perusahaan-perusahaan raksasa kelapa sawit, tapi juga dampak buruk industri sawit terhadap lingkungan. Seperti biasa, selalu saja ada sisi lain yang dapat ditampilkan film-film dokumenter garapan Dandhy yang sangat jarang tersentuh perspektif media-media lain.

Seperti yang disampaikan Widi Hermawan sebagai pemantik diskusi, menurutnya film tersebut dapat memberikan sudut pandang lain dan mematahkan narasi-narasi yang kerap digaungkan pemerintah. “Selama ini yang dimuat di media dan narasi pemerintah bahwa kelapa sawit mampu mendongkrak perekonomian yang ada di Indonesia melalui ekspor, tapi penikmat dari ekspor ini hanya segelintir golongan saja,” ujarnya.

Dari sisi lingkungan, Khansa Nabila salah satu peserta diskusi juga menyampaikan betapa tanaman sawit menjadi salah satu tanaman dengan daya rusak lingkungan paling besar. Kelapa sawit adalah jenis tanaman dengan daya serap air sangat tinggi, sehingga akan membuat tanaman lain di sekelilingnya mati. Selain itu, kelapa sawit adalah jenis tanaman monokultur, dimana untuk membudidayakannya harus satu jenis tanaman. Karena itu, Khansa menilai pemanfaatan penggunaan kelapa sawit sebagai pengganti bahan bakar fosil yang semakin langka dinilai bukanlah solusi yang solutif, sebab akan menimbulkan persoalan baru.

Asimetris juga menampilkan konflik-konflik yang terjadi antar warga dengan perusahaan kelapa sawit. Widi Hermawan mengatakan konflik-konflik ini adalah buah dari pemerintah yang hanya menjadikan rakyat sebagai objek pembangunan alih-alih subjek. Dimana rakyat dipaksa hanya untuk menerima dan menjalankan proyek-proyek pemerintah. “Secara alamiah masyarakat kita sudah tahu apa yang harus mereka lakukan, mereka belajar melalui proses yang panjang dari nenek moyang. Mereka paham betul apa yang harus mereka tanam, apa yang harus mereka makan. Sementara pemerintah membuat proyek-proyek hanya berdasarkan kajian-kajian para ahli, seperti ahli pertanian yang bahkan mungkin tidak pernah memegang cangkul. Pakar pertanian ya petani itu sendiri yang setiap hari di kebun,” ujarnya.

Festival Persma UNY akan diselenggarakan hingga 21 September mendatang dengan berbagai kegiatan seperti pelatihan menulis dan diskusi tentang framing media dalam konflik agraria. Acara puncak sendiri akan dilaksanakan pada 21 September di halaman LPTK FT UNY. [Willy].