Sumber Gambar : Indopos.co.id
Oleh : Mukhamad Fairuz Zaman

Akhir akhir ini saya perhatikan ukuran luas tempe goreng berkurang 5cm kuadrat. Sebagai pejuang burjo-is kental tentunya saya kepo sekali mengapa demikian. Tidak masalah dengan harga, hanya ukuran saja yang dimainkan oleh sang maestro ‘aa burjo asal Kuningan tersebut. Tidak hanya tempe ternyata. Tahu, molen, piscok dan berbagai jenis sesajen yang biasanya dipamerkan di rantang terdepan burjo ternyata mengalami pengikisan fisik juga.

Tapi tenang, hal tersebut masih belum cukup untuk memancing pertanyaan mengapa terjadi fenomena pengikisan ini. Sampai-sampai pesanan protein langganan saya datang. Iya betul, nasi telor. “brakk” bajingaaan ternyata makanan proletar sekelas nasi telor ikut kena dampaknya. Tempe orek, buncis, dan sahabat-sahabat sayur yang biasa bersama dengan nasi telor pun berkurang jumlahnya.

A’ kok dikurangi porsi makanannya?

“dolar naik, harga bahan pokok juga naek. Mangkanya kurangi itu sayur sayuran sama telornya” ketus si aa.

Fenomena dolar naik tentu saja memberikan dampak yang besar. Sampai tulisan ini dibuat, nilai rupiah dimata dolar sebesar 14.844,35.

Jika menilik ke pemerintahan sebelumnya, era Pak Susilo Bambang Yudhoyono memang dapat dikatakan aman. Karena pada pertengahan pemerintahan Pak esbeye, Amerika sedang mengalami krisis Subprime Mortage (semacam permasalah simpan pinjam gitu lahh). rupiah pada saat itu menginjak angka 9000 –  10.000. Namun saat problematika Mortage itu selesai, nilai rupiah justru melemah. Pada tahun 2009 lalu rupiah cukup anjlok hingga 11.800.

Eits, tidak sampai disitu saja. Mari kita terbang kembali ke zaman saat Indonesia dipimpin oleh kaum hawa. Saat menjalankan NKRI, Bu Mega berhasil men-stabilkan nilai rupiah di sekitar 8.000 per dollarnya, meski sempat terikat kabar “menjual” dua pulau Sipadan dan Ligitan serta Satelit Indosat. Pada akhirnya Mahkamah Konstitusi Internasional yang terletak di Den Haag, negeri aktor pesepak bola Van Persie itu mengetok palu bahwa dua pulau tersebut kepunyaan Malaysia. Pasti senang sekali “Yang dipertuan Agong” pada saat itu mendapat dua pulau. Meski tidak ada korelasinya, mungkin gara gara hal itu rupiah melemah hingga 10.200, tetapi bu mega berhasil membawa turun kembali nilai rupiah tersebut hingga titik 8.000 kembali Uwuwu~ Good job ibu mega!

Lanjut ke presiden keempat, Dr. K.H. Abdurahman Wahid. Pada pemerintahan Gusdur ini memiliki masa pemerintahan yang kurang manis. Pada saat itu hubungan Indonesia dengan IMF (International Monetary Fund) kurang baik, Tentunya hal tersebut membuat para investor asing jadi ragu untuk menanam saham di NKRI. Selain itu, belio juga menetapkan amandemen UU no.23 tentang penerapan otonomi daerah yang menyangkut kebebasan daerah untuk pinjam uang dari luar negeri. Hal ini membuat pemerintahan daerah terbatasi untuk melakukan hutang menghutang. Kombinasi dua peristiwa tersebut, pada akhir masanya nilai rupiah tembus diangka 12.000 rupiah.

Tetapi, pada masanya, Agama Khong Hu Cu secara resmi kembali “diakui” oleh Indonesia lhoo meskipun Pak Soekarno sudah mengakuinya sejak lama lewat perpres no 1 tahun 1965. Namun sejak era Pak Harto kaum Khong Hu Cu mendapatkan perlakuan yang tidak wajar, dan sang “kyai” melegalkan kembali agama Khong Hu Cu. Mantab jiwa pak yai~ Gusdurian harus bangga akan hal ini.

Masuk ke zaman Bacharuddin Jusuf habibie, Prestasi yang paling membanggakan terjadi pada tahun beliau. Meskipun ditekan dari dalam negeri akibat sepak terjang yang dilakukan pada zaman Pak Harto, Pak Habibie mampu menekan rupiah hingga 7.000 rupiah. Tekanan yang dihadapkan Pak Habibie tidak main-main. Dari dalam ditekan oleh para demonstran, dari luar pun IMF tidak mau kalah ingin menekan Pak Habibie melalui penghapusan kebijakan Bbm dan perombakan Tarif Dasar Listrik. Namun yang dilakukan Pak Habibie malah sebaliknya, beliau tetap bersikeras untuk mempertahankan dua kebijakan tersebut dan mencari solusi lain untuk masalah ekonomi. Super sekali. Hal tersebut tentunya membuat IMF geram dan melayangkan kritik pedas kepadanya.

Untuk me-rekonstruksi kembali keadaan ekonomi NKRI, sejumlah kebijakan langsung ditetapkan Pak Habibie. Pembangunan ulang dan rekapitulasi perbankan, membentuk BPPN, mengadvokasi bank-bank bermasalah, mengimplementasikan reformasi ekonomi yang di syaratkan IMF hingga mengesahkan UU. No 5 th 1999 tentang pelarangan praktik monopoli. Hasilnya, pada saat pelaporan pertanggungjawaban kepada IMF, nilai rupiah berada di angka 6.500. Benar benar jenius. Selain pesawat nampaknya beliau mahir dalam bernegara ya, panutan qu lahh. Namun pada akhir dari jabatannya, rupiah sempat naik kembali diangka 7.000.

Okee selanjutnya, bapak Orde baru kita. Ya, siapa lagi kalo bukan Jenderal Besar TNI Soeharto. Sejak lengsernya Soekarno, pada tahun 1971 rupiah mulai melemah dari 378 menjadi 420 per dollarnya. Ditambah peristiwa terjun bebas harga minyak di dunia pada tahun 1986, rupiah kembali melemah hingga dititik 1.664 rupiah per dollarnya. Harga minyak saat itu per barrelnya di patok 25 dollar (merdeka.com).  Belum sampai disitu, pada bulan Agustus 1997 rupiah kembali memanjat hingga 2.650 per dollarnya. Puncak kemegahan rupiah pada masa pak harto tersebut terjadi pada masa legenda mahasiswa. Yak. 1998. Peristiwa besar 1998 saat itu sukses membuat rupiah kembali melambung tinggi saat itu, menginjak 16.800 rupiah per dollarnya. Edan tho?

Tapi sisi lain dari era “The Smiling General” tersebut rakyat dapat dikatakan sangat makmur. Harga bahan pokok yang terjangkau, tidak ada premanisasi, mudahnya mendapat pekerjaan, dan lain lain. Dari hal tersebut, tercetus lah jargon “piye kabare? Sek enak zamanku toh?” yaah setiap nahkoda negara pasti memiliki baik dan buruk lah~

Pada zaman pak Kusno, eh Karno maksudnya nilai rupiah sangat sejahtera di mata dolar. Hanya 1 rupiah per dollarnya. Yaa wajar saja, pada masa itu belum ada istilah istilah ekonomi yang membuat kepala panas dan rambut berjatuhan seperti sistem pasar bebas, inflasi, deflasi, agregate demand, agregate supply, dan lain-lain. Mungkin pada saat itu negara masih belum stabil. Difokuskan kepada pembentukan struktur negara atau tujuan negara oleh Pak Karno. Terakhir menjabat, Soekarno menitipkan kurs rupiah terhadap dolar sebesar 300.

“a’ kira kira nanti kalo misalkan rupiah sudah turun, nastel turun juga dong” melas ku.

“Yeee kalo turun jangan, naik silahkan~” balas si aa’

Sial, entah keracunan kapitalis atau hanya sebatas oportunis sudah merasuki pemikiran si maestro burjo. Sudahlah Saya sebagai penikmat tentunya hanya bisa mensyukuri. Untung masih bisa makan, kalau pun tidak masih ada konsep hutang piutang hehehe.

Walaupun seperti itu, saya juga tetap bingung. Lhaa wong sudah dihitung pengeluaran per harinya berapa, sekarang buyar gara gara berkurangnya porsi asupan sehari hari. Hadeeuh

Selain fokus pada pembangunan infrastruktur besar-besarannya, era Pak “wiwi” memang sedang terpuruk masalah rupiah, sehingga apa-apa saja menjadi naik seperti protein saya ini. Entah memang ada korelasinya atau memang ini peluang bagi para pebisnis kelas bawah maupun atas, hanya hati dan tuhan mereka saja yang tahu. Tapi tenang Pak Jokowi, kurs rupiah belum mencapai yang terburuk kok, masih ada bahan pembandingnya  hehehe [Fairuz]