Oleh Willy Andryan Permana

24 september ditetapkan sebagai hari tani nasional. Walau bukan menjadi hari libur nasional, tapi hari tani sangat pantas diperingati oleh semua orang. Sebab, hari tani bukan hanya soal petani, tapi soal siapa saja yang menggantungkan dirinya dari petani dan pertanian. Itu artinya, hari tani seharusnya menjadi hari semua orang karena tidak ada satu pun orang bisa hidup tanpa bahan-bahan makanan yang dihasilkan petani.

Tak perlu diingatkan lagi tentang pengaruh dan jasa besar para petani, semua itu telah dikampanyekan secara baik oleh semua pihak. Kita semua tahu betul jasa petani itu, maka dari itu jangan pernah remehkan seseorang yang ingin menjadi petani. Karena dia bercita-cita menjadi orang yang sangat berjasa, penopang kehidupan umat manusia. Ketika banyak yang bercita-cita menjadi dokter, pengusaha, arsitek, akrtis FTV, penyanyi dangdut, penonton bayaran acara televise alay, dan profesi lain yang terinspirasi dari tokoh idola, dia malah lebih memilih untuk jadi petani. Ini bukan pilihan gampang, selain stigma masyarakat yang kerap memandang petani sebagai profesi rendahan, menjadi seorang petani juga tidak semudah memainkan Farmville, Harvestmoon, dan permainan-permainan tentang pertanian yang jauh dari realitas di dunia nyata.

58 tahun sudah undang-undang tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria disahkan, tapi siapapun pemegang kuasa pemerintah belum becus melaksanakan redistribusi lahan secara amanah. Walhasil, petani selalu saja menjadi korban utama konflik agraria berkepanjangan. Petani masih menjadi objek utama dari penggusuran demi penggusuran untuk tetek-bengek pembangunan yang mengatasnamakan kepentingan umum. Sawah digusur untuk dijadikan bandara, lahan karst sebagai pengyuplai utama air petani dibabat untuk membangun pabrik semen, lahan pertanian dicaplok untuk membangun jalan tol, mall, hotel, apartemen, dan infrastruktur-infrastruktur lain dengan mengatasnamakan modernisme. Alih-alih menjadi perayaan kebahagiaan, hari tani justru menjadi peringatan penuh duka.

Imbasnya, negeri yang katanya agraris ini harus mengimpor pangan pokoknya dari negara lain seperti beras, bawang, bermacam buah-buahan, dan komoditas pangan lainnya yang seharusnya bisa dipenuhi secara berdikari. Tapi tidak semua, sektor pertanian tembakau justru menjadi penyumbang utama pasar tembakau dunia, 34 persen dengan pemasukan yang didapat negara sekitas 116 triliun Rupiah. Sama halnya di sektor pertanian sawit, dimana pemasukan negara dari sektor ini mencapai US$ 22,97 miliar atau setara 34,455 triliun Rupiah pada tahun 2017 (dengan perhitungan kurs Rupiah 15.000 per USD). Angka yang cukup fantastis.

Sebuah apresiasi perlu kita berikan kepada negara yang telah berhasil mengeksploitasi petani-petani tembakau dan sawit kita dengan semaksimal-maksimalnya. Namun tingginya pendapatan negara dari sektor pertanian itu ternyata sangat kontradiktif dengan kesejahteraan petaninya. Petani tak lebih dari seekor sapi perah yang sah-sah saja dicambuk atau disembelih oleh penguasanya ketika sudah tidak mampu menghasilkan susu terbaiknya. Lha, lalu siapa yang diuntungkan dari tingginya nilai ekspor ini? Ya jelas pemilik perusahaan rokok, pemilik perusahaan sawit, dan tidak lupa para pemburu rente di sekitar lingkaran kekuasaan.

Pembangunan yang selalu digaungkan nyatanya tidak pernah benar-benar berpihak pada petani. Petani hanya dijadikan objek dari proyek-proyek pembangunan yang dicanangkan pemerintah. Petani dijadikan objek penggusuran, objek perampasan, objek penindasan, objek kesewenang-wenangan yang membuat mereka terasingkan di negerinya sendiri. Ironis. Pemerintah tidak seharusnya melibatkan rakyat dalam setiap proyek pembangunannya, sebab rakyatlah subjek pembangunan itu sendiri. Rakyatlah yang seharusnya menentukan arah pembangunan, bukan malah dipaksa untuk menerima apa yang dibuat oleh pemerintahnya.

Pemerintah yang harusnya jadi wakil petani dan seluruh rakyat malah semakin keblinger. Pemerintah itu wakil rakyat, dan petani adalah rakyat. Kok yo berani-beraninya wakil rakyat menggusur bos-nya. Para wakil rakyat itu semakin kehilangan arah, semakin gelap mata sehingga tak sadar dengan posisinya yang hanya jongos-nya rakyat. Mereka malah lebih suka menjadi wakil para korporat, wakil para pemilik modal.

Narasi pemerintah yang katanya memihak wong cilik, berpihak pada petani demi mewujudkan negara agraris hanya omong kosong belaka jika realitasnya petani masih jadi gelandangan di negeri sendiri. Negara agraris yang ramah pada petani hanya jadi fantasi di negeri dongeng jika pemerintah terus asyik menggusur lahan pertanian demi membangun bandara, pabrik semen, tambang emas, tambang besi, mall, hotel, jalan tol, dan sebagainya atas nama kepentingan bersama. Lha memang lahan pertanian itu bukan kepentingan bersama? Kalau tidak ada petani, tidak ada lahan pertanian, mau makan apa kita? Semen?

Sektor pertanian hanya dijadikan alat meningkatkan statistik kuantitatif pendapatan negara, tanpa memperhatikan asas kualitatifnya. Karena yang penting angka statistik perekonomian negara meningkat, supaya bisa dijadikan alat kampanye petahana nantinya. Persetan dengan kesejahteraan petani.

Kini, musim politik sudah dimulai lagi, lagu lama tentang janji-janji para politikus sudah diputar lagi. Apa lagi suara dari sektor pertanian cukup menggiurkan, semua calon tentunya saling berebut suara petani. Petani harus bersiap-siap ketika penderitaannya dieksploitasi sedemikian rupa supaya calon tersebut bisa memperoleh simpati publik. Tapi haram bagi petani untuk berharap, karena setelah setelah terpilih mereka akan lupa dengan janji- janjinya. Wakil rakyat itu akan lupa pada posisinya yang lebih rendah dari kita, entah karena beban menjadi wakil rakyat itu terlalu berat, atau mungkin karena fasilitas dari uang kita yang begitu mewah, atau bahkan mungkin ada alien yang menghapus ingatan mereka, atau jangan-jangan kebanyakan makan micin sehingga otaknya terganggu dan menjadi pelupa. Kalau alasan yang terakhir benar, para aktivis harus merubah presfektifnya untuk bukan cuman demo menolak bandara dan pabrik semen, tapi juga harus melakukan gerakan menolak pabrik semen karena telah menjadi sumber kebodohan di negeri ini.

Dan untuk mengakhiri catatan kecil ini, marilah kita menundukkan kepala sejenak di hari tani ini. Marilah kita mengheningkan cipta untuk petani dan semua yang menggantungkan hidupnya pada petani. Kalau para wakil rakyat itu, biarlah mereka tetap membusungkan dada mereka, karena mereka tidak menggantungkan hidupnya pada petani, mereka tidak makan nasi, tapi makan semen.