Sabtu (22/9) acara Talkshow yang bertajuk “Siapa Takut Menjadi Pemimpin” yang diselenggarakan oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di Hotel UNY, hadir dua orang pemantik yaitu Aria Bima sebagai Anggota DPR RI Komisi VI, dan Hasto Wardoyo sebagai Bupati Kulonprogo. Guru Besar UNY, Prof. Wardoyo dan Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang semula dijadwalkan mengisi acara berhalangan hadir karena beberapa alasan.

Dalam acara tersebut, pokok pembahasan yang banyak diangkat adalah entrepreneurship, dan bagaimana menghadapi masa emas Indonesia di tahun 2045 yang akan datang. Dalam kesempatan pertama, moderator melayangkan pertanyaan bagaimana kita bisa berhasil di tahun 2045.

Menurut Hasto Wardoyo, bagi Indonesia yang memiliki demografi yang bagus merupakan sumber dan modal yang baik bagi Indonesia. “Terlebih dengan adanya internet, orang akan terkoneksi dan saling terhubung satu sama lain tanpa harus terikat dengan jarak yang terbentang. Sehingga arus informasi akan terbuka dan pembangunan akan berjalan dengan cepat,” ujarnya.

Hasto melanjutkan, dalam kepemimpinannya Kulonprogo mengutamakan produk lokal. “Pemberdayaan produk lokal harus lebih diutamakan, waralaba yang berjejaring banyak diubah sehingga menjadi milik daerah itu sendiri seperti di Kulonprogo yang mengubah toko waralaba menjadi toko milik rakyat dan mengganti beras yang berasal dari Bulog ditukar dengan uang sehingga mendapat kompensasi sebesar 50 Miliar setiap tahunnya,” ujar Hasto.

Selain pembahasan akan pentingnya entrepreneurship, dibahas pula oleh pemantik yang lain yaitu Aria Bima tentang pentingnya berorganisasi bagi mahasasiswa. Baginya, organisasi ekstra adalah suatu pemantik agar organisasi intra kampus dapat berkembang lebih baik dan militan. Dengan adanya aksi mahasiswa yang turun ke jalan atau dengan kata lain berdemo, itu adalah indikasi bahwa mahasiswa tetap bergerak menurut mind oriented-nya, belum ditunggangi beragam kepentingan termasuk kepentingan politik yang kadang hanya menguntungkan salah satu pihak dan golongan tertentu.

Pada kesempatan tanya jawab, Aria Bima juga sedikit menyinggung tentang peristiwa yang pernah terjadi di depan salah satu Gedung DPRD ketika mahasiswa turun ke jalan menyoal tentang semen yang berakhir bentrok dengan polisi. ”Wajarlah, mereka orientasinya lebih ke lingkungan belum ke ini itu, ya luka sedikit wajarlah,” jawabnya. (teguh)