Sumber gambar : detiknews.com
Oleh: Teguh Iman Perdana

Tahun itu, 1965, sekitar 53 tahun yang lalu, terjadi suatu peristiwa maha dahsyat dalam sejarah Indonesia yang mengubah secara drastis peta politik Indonesia. Tahun biadab yang secara turun temurun didoktrin berlebihan kepada setiap orang Indonesia dimana terjadi pembunuhan keji tujuh orang jenderal yang dimasukkan dalam satu lubang di daerah Lubang Buaya. Ya, nama peristiwa itu sering kita sebut G30/SPKI, suatu pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia. Begitulah sedikit pemikiran feodal yang terus dipelihara sampai sekarang.

Di tahun itu pula, setiap orang menamakan zaman sebagai “tahun bahaya”. Rumor yang santer beredar kuat berkata jika kudeta tersebut berhasil, setiap jengkal tanah, setiap harta yang telah ditumpuk berpuluh-puluh tahun akan disita dan diakui sebagai milik negara. Karena pada hakikatnya, semua yang terdapat baik itu tanah, air, maupun apapun yang ada dan dalam wilayah negara tersebut adalah milik negara seperti jargon yang diagungkan: sama rasa sama rata, dimana masyarakat hanya sebagai pengguna bukan pemilik dan keutungan yang didapat akan dibagi rata kepada semua rakyat sehingga tidak memunculkan suatu kesenjangan sosial.

Kontradiksi tersebut berlangsung hingga sampai puncaknya pada 30 September 1965. Hingga sampai saat ini, topik ihwal siapa dalang dari peristiwa tersebut masih menjadi polemik yang kadang membuat urat saraf menegang. Jauh sebelum malam jahanam itu terjadi, Amerika Serikat yang merupakan negara yang paling vokal dalam kampanye anti komunis telah menyeru berkali-kali kepada pemerintahan Soekarno yang dianggapnya begitu condong kepada blok kiri.

Dalam catatan penulis, pada malam itu beberapa organisasi yang dibawah PKI yang dipimpin oleh D.N Aidit berkumpul di lapangan pangkalan udara Halim di Jakarta. Beberapa pasukan itu diantaranya adalah angkatan kelima yang merupakan angkatan setelah Kepolisian, Angkatan Darat, Laut, dan Udara yang tergabung dalam suatu organisasi pemuda yang berafiliasi kepada komunis. Serta tidak ketinggalan ada Gerwani atau Gerakan Wanita Indonesia.

Angkatan kelima dikomandoi oleh seorang Letkol yang merupakan Kepala Tjakrabirawa, pasukan penjaga Istana kepresidenan yaitu Letnan Kolonel Untung bin Syamsuri. Oemar Dhani yang merupakan Kepala Staf Angkatan Udara menyatakan bahwa dirinya berada di pihak Komunis dan menyediakan lapangan udara sebagai titik awal kudeta tersebut berlangsung.

Awal mula kesimpangsiuran bahwa kudeta tidak hanya akan dilakukan oleh komunis adalah dengan siaran radio dan pers yang dilakukan oleh Kolonel Untung, yang dengan jelas dia menyebut bahwa kudeta ini dilangsungkan untuk mendahului kudeta lain yang akan dilakukan oleh CIA. Hal ini juga diperkuat karena setelah berakhirya perang Korea pada Juli 195, perhatian CIA jatuh pada Indonesia. Selain karena cadangan minyak yang begitu besar, Amerika Serikat juga menginginkan agar pemimpin Indonesia mengekor kepada negara adidaya tersebut sehingga memiliki ketergantungan  yang besar karenanya.

Kepercayaan akan teori domino mempengaruhi perspektif lain Amerika Serikat. Menurutnya kemenangan Komunis di satu negara dengan cepat akan menghasilkan reaksi berantai dari pegambilalihan komunis di negara-negara tetangga. Sama persis dengan doktrin Bush yang fundamentalis, ideologis, dan keras yang ditunjukan pada Islam, sehingga dunia terbagi hanya menjadi “baik” dan “jahat”.

Begitulah kiranya ketakutan Amerika Serikat dahulu pada komunisme, seperti berkhayal akan adanya komunis atau bisa disebut komunis-fobia. Banyak pihak meyakini bahwa kudeta yang dilakukan PKI telah ditunggangi oleh CIA, sehingga banyak ahli sejarah meyakini bahwa “Kudeta Komunis” digunakan untuk menjustifikasi perburuan dan pembunuhan terhadap simpatisan PKI dibawah Soeharto. (A Magic Gecko, 255)

Laporan mengenai keterlibatan CIA semakin menguat setelah hadirnya UU Kebebasan Informasi di Amerika. Setelah dituntut dibuka ke publik setelah 50 tahun lamanya, dalam situs resmi CIA terdapat ‘The President’s Daily Brief’ yang merupakan kompilasi data CIA kepada empat Presiden, yaitu John F Kennedy, Lyndon B Johnson, Richard Nixon, dan Gerald Ford, dalam kurun waktu 1961-1977. Total ada 2500 laporan dari 17% diantaranya adalah laporan dari Indonesia yang juga termasuk laporan menyoal aktivitas komunis (detik.com).

 

Sumber:detik.com

Bukti lain yang timbul ke permukaan mengenai keterlibatan CIA adalah dimana mereka mengirim pesawat mata-mata U2 untuk mengirim senjata para pemberontak di Sumatra Barat yang mayoritas di bawah pimpinan Islam Fundamentalis. Namun cara ini gagal karena letak pemberontak telah diketahui lebih dahulu Patroli Angkatan Udara Indonesia (Weiner 149-154).

Setelah pemberontakan Sumatra berhasil dipadamkan, harapan satu-satunya CIA adalah Sulawesi, namun disini pun mereka gagal, pesawat-pesawat CIA berhasil ditembak jatuh. Sehingga para pilot pulang dalam kantong jenazah dan lima agen lainya berhasil melarikan diri ke pantai dimana USS Tang berhasil menyelamatkan mereka.

Tindakan CIA yang kurang profesional ini ditunjukan oleh ucapan Al Umer, Kepala Seksi Timur Jauh yang bertanggung jawab atas Indoneia, “Dia nyaris tidak tahu apa-apa tentang Indonesia ketika mengambil alih jabatan… Duta Besar Alison, salah satu yang paling berpengalaman dalam urusan Asia di Departemen Luar Negeri, ditugaskan ke Cekoslowakia. (Weiner 144-146).

Tanggal 25 September 1957, Presiden Einshower memerintahkan CIA untuk menjatuhkan Indonesia dengan menyuruh memberi senjata dan bantuan militer lainya untuk pejabat militer yang anti Soekarno. (A Magic Gecko hal 260)

Setelah April 1958, perang CIA makin aneh. Mereka mencoba memobilisasi opini diantara rakyat Indonesia agar menentang rezim Soekarno, namun setelah tertembak jatuhnya salah satu pesawat CIA yang di terbangkan oleh Alan Pope, mobilisasi opini gagal terjadi. Bahkan bukti bahwa CIA ada di balik kudeta gagal semakin menguat ketika Al Pope pada tahun 2005 dengan jelas menjawab ketika ditanya tentang kejahatan perangnya di Sulawesi, jawabanya adalah, ”Saya senang membunuh ribuan Komunis walaupun mungkin separuhnya bahkan tidak tahu apa arti Komunisme itu sendiri.” (Weiner, halaman 151)

Hingga sekarang peran pasti CIA belum terlalu bisa dijabarkan secara rinci dan jelas, namun dengan dipublikasikannya dokumen rahasia secara bebas lalu diperkuat dengan pengakuan-pengakuan yang mendukung, sedikitnya bisa memberi cahaya di kegelapan tahun ‘65 yang begitu mencekam: tentang kudeta dan pembunuhan massal bagi setiap orang yang dituduh sebagai simpatisan PKI.