Oleh Willy Andryan Permana

Dalam percakapan di kelas ketika jam kosong, saya sangat antusias menceritakan tentang berita tewasnya suporter dikeroyok massa yang semalam saya baca. Berita yang telah viral dan menarik perhatian tersebut juga dirasakan oleh teman-teman saya. Tapi ada satu teman perempuan saya, menatap dengan mata kosong yang bingung, dan menanyakan “membahas  apaan sih?”. Ternyata dia belum membaca berita tersebut, atau mungkin memang tidak pernah membaca berita. Sontak teman-teman saya pun menertawakannya dengat kata-kata “kudet” kurang update.

Saya agak heran, kenapa bisa berita yang sangat viral, bahkan menjadi isu nasional seperti itu tidak diketahui oleh teman perempuan saya itu. Sedangkan di sisi lain, pengetahuannya tentang video klip terbaru Lucinta Luna, video Tik-tok Bowo, sampai gosip terbaru tentang Youtuber  Reza Arap tidak dapat diragukan lagi. Mengapa mengherankan? Sebab di era teknologi informasi seperti saat ini, seharusnya tidak ada alasan untuk ketinggalan informasi, apa lagi informasi yang sudah menjadi perbincangan khalayak umum. Akhirnya teman perempuan saya tadi membela diri, “Aku kan memang tidak suka baca,” katanya. Aih, pembelaannya justru semakin membuat saya menggeleng kepala, bagaimana bisa seorang mahasiswa yang katanya terdidik tidak suka membaca? Lalu bagaimana dia mengerjakan tugas? Bagaimana dia tahu persoalan-persoalan di sekitarnya? Bagaimana, bagaimana, dan bagaimana? Bagi saya, tidak suka membaca untuk seorang terdidik adalah sebuah aib.

Membaca adalah jendela dunia, begitu kata pepatah tua. Bahkan perintah pertama yang diterima Nabi Muhammad adalah Iqra’!, Bacalah!. Ketika masih anak-anak, saya juga masih ingat bahwa hal pertama yang diajarkan adalah membaca. Hal-hal tersebut rasanya cukup untuk menggambarkan betapa pentingnya membaca.

Melihat fenomena rendahnya budaya membaca, gerakan melek literasi mulai masif digalangkan. Taman baca, perpustakaan jalanan, dan berbagai gerakan serupa semakin menjamur. Fasilitas membaca menjadi semakin mudah. Jika ingin membeli, toko buku semakin menjamur, toko online juga semakin banyak yang menjual buku, hampir tidak ada buku yang sulit lagi untuk didapatkan, jika tidak punya uang untuk beli, pinjam di perpustakaan juga sangat mudah. Apa lagi buku-buku elektronik di internet juga semakin banyak dan mudah untuk diunduh. Tidak seperti era Sukarno atau Tan Malaka dimana akses akan buku dan bahan baca lain sangat sulit. So, tidak ada alasan untuk tidak membaca, kecuali satu tadi, ‘malas’.

Begini, dengan membaca wawasan kita akan semakin luas. Perspektif kita akan sebuah masalah menjadi lebih banyak dan mendalam. Cara berpikir kita akan lebih terstruktur dan holistik. Dan satu hal lain yang tidak kalah penting, orang yang suka membaca pasti menjadi teman ngobrol yang baik, juga asyik.

Sedangkan jika malas membaca, banyak sekali kerugian yang kita peroleh, salah satunya seperti teman perempuan saya tadi. Kita akan tertinggal oleh informasi yang tengah berkembang, sehingga sulit untuk dapat mengikuti setiap diskusi. Hidup kita juga tidak akan berwarna, karena tidak pernah diwarnai sajak-sajak sastrawan yang indah. Tanpa membaca kita akan sangat mudah termakan berita bohong atau hoaks, gampang tertipu dan dibodohi. Dan yang paling bahaya, kita akan sangat berdosa karena tidak melaksanakan perintah agama yang ada di dalam kitab suci, ‘Bacalah!’. Nah loh.

Seperti para warganet yang sukanya ribut di sosial media itu, saya yakin mereka adalah orang-orang yang tidak gemar mebaca. Itu kenapa mereka sangat mudah termakan hoaks, juga sangat mudah diadu domba dan terprovokasi. Mereka adalah pembaca yang buruk, karena biasanya mereka tidak membaca suatu informasi sampai selesai, bahkan cukup membaca judul sebuah berita atau tulisan mereka sudah bisa menyimpulkan. Apa lagi untuk mencari referensi lain untuk bahan perbandingan. Sebab yang mereka cari bukanlah kebenaran, alih-alih sebuah informasi yang sesuai dengan kepentingan dan keinginan mereka.

Memang, tidak semua orang yang lahap membaca akan menjadi tokoh besar, tapi tidak ada tokoh besar yang tidak lahap membaca. Untuk mewujudkan generasi emas, sebenarnya tidak perlu berbagai pelatihan-pelatihan berdana besar seperti yang sekarang banyak dilakukan kampus-kampus kita. Langkah awalnya yaitu dengan menciptakan kultur membaca yang baik. Untuk meningkatkan rasa nasionalisme juga tidak perlu dengan pelatihan wajib militer, untuk melahirkan generasi yang kritis tidak perlu dengan berbagai pelatihan softskill seperti yang dilakukan universitas yang tidak jelas juntrungannya itu, untuk mewujudkan revolusi mental Jokowi juga tidak perlu membuat BPIP dengan dana super jumbo. Tapi cukup dengan membudayakan membaca, bukan malah menyita dan membakar buku.

Mari kita mulai dari kita sendiri, dari saya dan siapapun Anda yang sedang membaca tulisan ini. Awalnya memang susah, sama susahnya untuk melupakan dia yang pergi saat kita sedang sayang-sayangnya, Eh. Lalu apa solusinya? Paksa! Ya, kita memang butuh paksaan, karena tidak ada perubahan tanpa sebuah usaha yang keras. Tidak ada revolusi tanpa darah dan air mata, begitu retorisnya. Dengan meningkatnya budaya membaca, budaya menulis pun akan mengikuti. Memang lama, tapi akan semakin lama jika tidak pernah dimulai. Jangan berharap budaya literasi yang baik akan terwujud dengan cara-cara instan, dengan pelatihan sehari dua hari seperti yang banyak dilakukan di kampus-kampus, naif sekali.

Berbagai kemudahan di era globalisasi ini memang menjadi dua mata pisau, di samping memudahkan, juga sangat mungkin menjadikan kita lengah dan malas. Budaya literasi menjadi kian usang. Menulis diary dikatakan katrok, menulis sajak dan puisi dibilang alay, membaca buku dibilang cupu. Seharusnya orang yang tidak pernah membaca dan menulislah yang ditertawakan, karena hidup mereka pasti sangat tidak asyik.

Dengan perkembangan teknologi yang semakin keren, seharusnya membuat kita semakin lahap membaca. Dengan segala kemudahan yang ditawarkan, seharusnya kita bisa membaca apapun, kapanpun, dan di manapun. Jangan menjadi manusia yang cacat, buta membaca dan lupa menulis. Aku cinta baca. Hiahiahia.