Sabtu, (13/10) Himpunan Mahasiswa Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta menyelenggarakan Mechanical Fair, yaitu lomba perancangan dan fabrikasi untuk siswa SMK. Dua bidang yang dilombakan yaitu perancangan CAD menggunakan aplikasi Inventor 2017 dan welding atau pengelasan dengan posisi 3G. Lomba bidang pengelasan diikuti oleh 30 peserta yang dibagi dalam tiga sesi, masing-masing sesi diberikan waktu 90 menit. Pada ajang kompetisi pengelasan tahun ini peserta bisa dibilang membludak, dari kuota yang ditargetkan hanya 30 orang, peserta yang mendaftar mencapai 40 orang. “Untuk peserta lomba welding ini animo sangat besar, sehingga kita terpaksa menolak 10 orang lagi karena mereka daftar pada waktu terakhir penutupan dan untuk surat tolakanya sendiri kami langsung kirim lewat e-mail,” ujar Suza Arif Altandi selaku penanggung jawab bagian lomba pengelasan.

Kriteria penilaian untuk lomba pengelasan sendiri hanya dilakukan dengan cara tes visual. ”Kalau kriteria penilaian sendiri kami hanya menggunakan tes visual, namun jika ada yang sama bagusnya baru kita menggunakan tes bending,” ujar Riswan Dwijatmiko selaku dewan juri bidang pengelasan. Menurutnya lagi, jika dilakukan semua tes akan memakan waktu lama, sedangkan hasil harus diumumkan hari itu juga. ”Kalau dilakukan tes semua lama mas, tes visual saja kami bisa memakan waktu 30 menit,” tambahnya.

Salah satu kendala dialami Ryadus H, peserta asal SMK N 2 Pengasih, bahwa mesin yang digunakan dalam perlombaan berbeda dengan yang biasa Ia gunakan di sekolah. ”Kalau kendala terbesarnya sih di ampere, karena kan biasanya ampere untuk posisi 3G itu 60-an, namun pas dicoba pakai mesin di sini, ampere segitu terlalu tinggi hingga benda kerja menjadi bolong,” keluhnya.

Bidang perlombaan CAD diikuti lebih sedikit peserta, yaitu sebanyak 23 peserta. Jumlah ini ternyata juga telah melebihi kuota yang ditentukan panitia di awal yaitu sebanyak 18 peserta. “Lomba CAD sebenarnya kami hanya menyediakan kuota 18 orang, namun karena yang daftar animonya sangat besar maka kami tambah lima lagi, dan untuk masalah komputer kami tambah dengan spesifikasi aplikasi yang sama,” ujar Andi Prabowo penanggung jawab lomba bidang CAD. Peserta yang mengikuti lomba CAD didominasi oleh peserta dari Jawa Timur, hal ini dikarenakan peserta menggunakan kesempatan ini untuk belajar dan mengasah kemampuan sebelum menghadapi Lomba Keterampilan Siswa (LKS) tingkat Provinsi.

Lomba CAD terdiri dari satu sesi selama empat jam, dengan job fisika model dimana peserta ditugaskan untuk membuat model benda berupa stopkontak T. Tidak ada kendala yang berarti dalam pelaksanaan lomba ini, hanya masalah kecil yang bisa langsung diatasi. ”Kalau untuk kendala, sebenarnya paling komputer error, sehingga kami dari panitia sudah mengantisipasinya sejak awal,” ujar Andi.

Abdul Rosyid, ketua Himpunan Mahasiswa Mesin UNY berharap ke depan perlombaan ini akan semakin baik dengan cakupan yang lebih luas. “Semoga dengan adanya lomba ini, grade dua perlombaan ini meningkat dan tahun depan peserta tidak hanya dari pulau Jawa saja, namun bisa merambah ke luar Pulau Jawa juga,” ujar Rosyid.

Lain halnya dengan Widodo, salah satu peserta dari SMKN 1 Jetis yang berharap dapat masuk UNY tanpa tes dengan mengikuti perlombaan ini. ”Harapan kami ya mas kalau juara dan dapat sertifikat, kami bisa gunakan sertifikat itu buat nanti daftar kuliah di UNY tanpa ada tes dan biaya pendidikan,”pungkasnya sambil terkekeh mengakhiri percakapan.

Perlombaan dalam Mechanical Fair ini memperebutkan juara 1, 2, dan 3 dengan hadiah berupa trofi, sertifikat, dan uang pembinaan sebesar 5 juta Rupiah. Pemenang akan diumumkan pada hari itu juga di sore harinya. [Teguh Iman P].