Oleh : Lucky Tursina

Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) telah menyelenggarakan Civil Expo (CIVEX) 2018 sebagai agenda rutin penyambutan mahasiswa baru khususnya jurusan teknik sipil. Agenda tahunan ini  diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa teknik sipil dan diikuti lebih dari 30 tim dari seluruh universitas di Indonesia. Agenda ini berlangsung mulai 5 juni – 18 agustus 2018.

Dynamic Load Bridge Competition (DLBC) yang merupakan bagian dari CIVEX 2018 yang juga menarik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yakni, tim BIMASENA 1617 untuk turut serta dalam kompetisi tersebut. Tim BIMASENA 1617 terbagi menjadi peserta yakni Wahyu Bagas Prasetyo, Aris Wisnu, Mahsya, D3 Teknik Sipil) dan tim teknisi Alfian Fahri Akbar, D3 Teknik Sipil; Wuri, Restu, Deani, dan Rafi, S1 Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan).

DLBC tahun ini mengangkat tema “Designing Sutainable Bridge For Preservation Towards Our Future Generation”. Para peserta diharapkan dapat mengembangkan kemampuannya untuk merencanakan sebuah prototype jembatan yang efisien, ramah lingkungan, dan sustainable. Selain Tim Bimasena peserta lain yang turut serta ialah AlphaTeta (Universitas Negeri Malang), Archive (Institut Teknologi Sepuluh November), CT 1617 (Institut Teknologi Sepuluh November), Cita Sandaya X (Universitas Gadjah Mada), Wasaka (Universitas Lambung Mangkurat), Barakat team (Universitas Lambung Mangkurat), Adhirajasa (Universitas Indonesia), dan Circle Bhardika Adinata (Universitas Diponegoro).

Setelah berhasil lolos dalam 10 proposal terbaik langsung membawa tim Bimasena ke tahap final yang diselenggarakan di Departemen Teknik Sipil ITS. Pada tahap final ini para peserta melakukan perakitan prototype jembatan, presentasi karya kemudian ditutup pengujian prototype peserta. Pada tahap pengujian konsep yang dipakai adalah pembebanan kendaraan berjalan (dinamis) sebagai alat uji pembebanannya. Beban yang digunakan adalah prototype dari sebuah kendaraan yang diambil bagian rodanya yang kemudian diberikan beban diatasnya sesuai beban yang telah ditetapkan.

Menurut Rafi, UNY telah mempersiapkan strategi sebaik mungkin untuk kompetisi tersebut. Mereka cukup optimis mengingat Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan di UNY terdapat bengkel kayu yang menjadi tempat latihan dan uji coba. “Terus kan kita biasanya uji trialnya atau uji jembatannya sampai tujuh kali. Sedangkan, temen-temen yang lain ada yang nggak uji sama sekali. Sama paling uji satu atau dua kali gitu. Karena mereka nggak punya bengkel kayu. Dari situ udah keliatan sih,” ujar Rafi.

Karena frekuensi latihan yang dilakukan lebih banyak dibanding tim yang lain, tim Bimasena 1617 berhasil menyelesaikan tahap perakitan maket dengan lancar dan menyabet kategori perakitan tercepat. Tahap perakitan inilah yang nantinya akan menentukan bagaimana reaksi sambungan jembatan terhadap proses pengujian pembebanan dapat sesuai target yang dicapai atau tidak.

Setelah tahap perakitan, selanjutnya masuk kepada tahap pengujian dengan konsep kendaraan berjalan (dinamis) sebagai alat uji pembebanannya. Menurut Rafi, pengujian ini lebih sulit dan lebih kompleks dibandingkan dengan pengujian pembebanan terpusat, dimana beban diletakkan tepat berada ditengah jembatan. Teknis pembebanan kendaraan berjalan ini, roda belong sebagai prototype dari sebuah kendaraan diberi beban diatasnya dengan kelipatan 10 kg setiap kali pembebanan. Tahap ini yang akan menjadi penentu pemenang kompetisi tersebut.

CIVEX 2018 ditutup dengan pengumuman juara kompetisi DLBC. UNESA keluar sebagai juara umum , diikuti ITS dan UNY di tempat ketiga. “Ternyata yang terbaik itu dari UNESA. Karena dia merencanakan beban 100 kg di jembatan dan juga waktu diuji 100 kg. Jadi, emang udah pas presisi proposalnya jadi langsung dia otomatis juara 1. Yang juara 2 itu ITS. Dia beban rencananya itu 100 kg dapatnya 90 kg jadi agak melenceng 10 kg,” terang Rafi.

Meskipun pada tahun ini belum bisa menyabet juara utama, UNY melalui Tim Bimasena 1617 berhasil mengamankan posisi ke-3 dengan beban rencana 50 kg. “Nah UNY itu 50 kg beban yang direncanakan tapi bisanya 80 kg kelebihan 30 kg. Jadi, kita juara 3. Tapi kita dapat juara kategori tecepat sama K3 terbaik gituh” tutup Rafi.