Oleh : Willy A

Tahun 2019 besok merupakan puncaknya tahun politik di negeri ini. Pasalnya Indonesia akan mengadakan pemilihan umum serentak. Pertama kalinya pemilihan presiden dan pemilihan anggota legislatif dilakukan bersamaan di Indonesia. Panasnya persaingan perebutan kursipun telah dimulai sejak jauh-jauh hari.

Wakil rakyat itu lebih rendah dari rakyatnya,rakyatlah yang menduduki kuasa tertinggi, presiden, dan DPR itu hanyalah wakil kita, wakil rakyat”

Kalimat tersebut sering dikatakan oleh para tokoh seperti SujiwoTejo, Cak Nun dan Gus Mus. Perkataan tersebut memang benar, dan tidak terbantah di negara demokrasi seperti Indonesia, sebab rakyatlah pemegang kedaulatan tertinggi.

Meski begitu, masih sangat banyak yang mencalonkan diri menjadi wakil rakyat. Setiap tahun orang-orang selalu berebut kursi wakil rakyat, mulai dari tingkat daerah sampai ke pusat. Semua kalangan mulai dari pekerja seni, buruh, tokoh masyarakat, tokoh agama, penonton bayaran, sampai artis Bigo pun ikut menjadi calon anggota legislatif.

Gambar terkait

Sumber gambar : Steemit.com

Saya heran, Kok ya mau-maunya jadi wakil rakyat, jadi pelayan rakyat, toh kita sudah menjadi rakyat, kita sudah menjadi pemimpin tertinggi di Indonesia, kok yasudi menurunkan derajatnya menjadi wakil rakyat? Mungkin mereka memang malaikat tak bersayap yang rela turun jabatan untuk mengubah bangsa ini menjadi lebih baik, atau justru karena tergiur dengan gaji dan fasilitas yang mereka ambil dari pajak kita untuk memperkaya diri sendiri? Entahlah.

Gaji pokok mulai dari 4 sampai 15 juta, yang belum termasuk tunjangan serta fasilitas ini dan itu, tentunya sangat menggiurkan bagi sebagian orang. Tak salah makanya banyak calon wakil rakyat sikut-sikutan dan tonjok-tonjokan untuk berebut kursi DPR, DPRD, serta jabatan-jabatan pemerintahan yang lainnya.

Saya menggolongkan hanya ada dua orang sudi menurunkan derajatnya menjadi wakil rakyat. Golongan yang pertama adalah orang yang rela berkorban. Menjadi wakil rakyat di Indonesia bukanlah perkara gampang. Indonesia yang sangat majemuk pastinya memiliki pemikiran dan kebutuhan yang sangat kompleks. Tidak mudah menjadi penyambung lidah dan pelayan rakyat yang berbeda-beda latarbelakang dan permasalahannya. Perlu kita apresiasi yang sebesar-besarnya bagi wakil rakyat yang mau melepas gelar rakyatnya dan berkorban menjadi wakil rakyat.

Golongan yang kedua adalah orang yang tidak paham arti kata “wakil rakyat” itu. Orang tersebut adalah orang yang beranggapan bahwa menjadi wakil rakyat adalah meningkatkan derajatnya, mereka beranggapan merekalah pemimpin rakyat tersebut. Atau lebih parahnya lagi, mereka merasa diri mereka sebagai penguasa rakyat. Kalaukata Tertan Muslim orangtersebut “bukangolongan kami”. Golongan kedua ini jangan sampai dipilih oleh rakyat, jangan sampai dia terpilih menjadi wakil rakyat,karena nantinya hanya akan bikin susah rakyat.

Namun realita yang kita temukan justru lebih banyak wakil rakyat kita seperti golongan kedua. Walhasil wakil rakyat kita melunjak, wakil rakyat kita malah tidak pernah melakukan apa yang diinginkan oleh rakyatnya, wakil rakyat kita durhaka pada tuannya. Jadinya kerjaan wakil rakyat kalau bukan korupsi, ngapusi, ya piknik dengan dana besar atas nama kunjungan kerja.Kalau tidak yatidur saat rapat, ada juga yang melek, tapi nonton video porno, unik-unik memang tingkah laku wakil rakyat kita, berbakat masuk nominasi dalam On The Spot.Atau masuk dalam sebuah berita click byte dengan judul “Mencengangkan! Inilah Tujuh Tingkah Unik Wakil Rakyat, Nomor Tiga Bikin Kamu Cepat Wisuda”. Menarik, bukan?

Coba bayangkan uang pajak yang kita bayarkan setiap tahun dari hasil keringat dan air mata itu malah digunakan bukan untuk kepentingan rakyat. Uang yang kita keluarkan melalui pajak itu malah dipakai untuk membuat peraturan ribet yang cuman bikin rakyat pusing. Uang pajak kita itu justru digunakan untuk menggusur para petani atas nama pembangunan. Uang pajak kita itu digunakan untuk mempercantik kantor mereka sedangkan rumah teman-teman kita saja masih banyak yang jauh dari kata layak. Kalau seperti itu percuma kita bayar pajak, sama percumanya dengan menanti dia yang tak kunjung sayang sama kamu, uluh-uluh.

Solusi untuk menghindari golongan kedua ini adalah dengan mencabut fasilitas, dan menurunkan gaji wakil rakyat kita. Daripada digunakan untuk menggaji mereka yang seenaknya menjadi wakil rakyat lebih baik uang itu kita salurkan untuk memperbaiki rumah-rumah yang tidak layak pakai, memperbaiki jalan-jalan rusak, memberikan beasiswa untuk anak-anak putus sekolah, mendirikan taman baca untuk anak jalanan, memberikan subsidi pupuk dan benih untuk para petani, dan lain sebagainya.

Saya penasaran jika hal tersebut dilakukan apakah masih ada yang mencalonkan diri jadi wakil rakyat? Mungkin akan sama seperti kita memilih ketua kelas kita sewaktu sekolah dulu. Salingdorong-dorongan dan menghindar dari jabatanitu. Sudah tidak digaji, disuruh-suruh terus, setiap ada masalah yang dipanggil ketua kelas. Hadeeehhhh.

Menurut saya memang tidak pantas para wakil rakyat itu mendapatkan kemewahan. Rakyat sebagai boslah yang seharusnya mendapatkan fasilitas dan kemewahan itu. wakil rakyat cukuplah bekerja untuk menyejahterakan rakyatnya, bukannya malah menyejahterakan dirisendiri dan lupa tugas utamanya. Tapi bisa bisa juga wakil rakyat itu licik, meski tak digaji dan tak mendapat segala kemewahan fasilitas, bisa saja dia menyalahgunakan kewenangannya. Misal membuat aturan untuk mempermudah aktivitas perusahaannya. Kita tidak pernah tahu.

Jika tiap tahun kinerja wakil rakyat kita selalu seperti ini, maka tidak ada gunanya pemilu diadakan. Wajar maka sebagian orang memilih untuk tidak memilih ketika pemilu, dari pada pergi nyoblos, mending kerja demi memenuhi perut yang lapar, karena waktu adalah uang, dan akan sia-sia waktu kita untuk memilih wakil rakyat kita, toh yang terjadi tetap sama. Orang-orang seperti ini bukanlah orang-orang apatis. Justru mereka adalah orang-orang yang sangat peduli, namun berkali-kali juga dikecewakan.

Tapi saya tetap percaya diantara hamparan pasir, ada salah satu yang bersinar seperti emas. Tuhan Maha Adil. Diantara semua calon wakil rakyat itu, pasti ada yang memang tulus inginmengubah bangsa kita menjadi lebih baik. Maka dari itu bagi kalian yang berniat pergi ke TPS pada April tahun depan, mulailah dari sekarang mencar itrack record para calon. Pelajari visi dan misi mereka, masuk akal atau utopia.Jangan terbuai dengan janji-janji yang pastinya manis ketika kampanye. Walau selalu dikecewakan tiap tahun, jagalah harapan itu tetap ada. Lalu bagi kalian yang sudah lelah dikecewakan negara, teruslah bekerja, tak usah berharap pada negara, apalagi pada pejabatnya.