Jumat (30/11) Debat Pemilwa FT untuk Pasangan Calon (Paslon) Ketua dan Wakil Ketua BEM Fakultas Teknik (FT) diselenggarakan KPU FT Universitas Negeri Yogyakarta. Debat Pemilwa kali ini mengangkat tema ’Mewujudkan BEM FT UNY yang Aspiratif, Inovatif, dan Solutif’.

Paslon nomor urut 1, Fikri dan Nanang menyampaikan bahwa mereka akan menjadikan BEM FT menjadi organisasi yang sigap terhadap isu permasalahan yang di kampus, serta peduli dengan lingkungan dan organisasi lainnya.

“BEM haruslah menjadi wadah yang baik bagi mahasiswa dan organisasi mahasiswa, maka dari itu kami mengusung tagline ‘FT Sehati’,” ucap Fikri.

Pasangan ini juga menyebutkan bahwa FT UNY adalah LPTK terbaik di Indonesia dan harus siap mengahadapi Revolusi Industri 4.0. Maka dari itu FT harus mempunyai sumber daya mahasiswa yang mampu menghadapi revolusi industri tersebut karena LPTK FT UNY memiliki masalah yang sangat kompleks.

Di sisi lain paslon nomor urut 2, Sivan-Satria, memiliki rencana membentuk kabinet yang aktif dan bersinergi yang Jawara. Dimana Jawara diibaratkan burung rajawali utara yang memiliki pendirian kuat, memiliki visi dan misi yang jelas, serta prestasi tinggi.

Baca juga: Mengapa Harus Ada Islam Toleran, Islam Moderat, dan Islam-Islam yang Lainnya?

Pasangan Sivan-Satria juga memberikan argumentasi bahwa secara ideal struktur Organisasi Mahasiswa (Ormawa) FT adalah Keluarga Mahasiswa yang berarti musyawarah dan diperlukan adanya undang-undang yang mengatur. Selain itu, Ormawa FT juga harus harmonis yang bisa tercipta dengan srawung dan negosiasi. Baik Keluarga Mahasiswa atau Republik Mahasiswa, menurut Sivan-Satria, harus tetap srawung.

“Namun jika terus bermusyawarah tidak akan ada ujungnya, maka itu diperlukan adanya undang-undang,” ucap Sivan.

Lain halnya dengan paslon nomor urut 1. Fikri-Nanang menyebut bahwa tingkat apatis FT telah mencapai presentase 70 %. Menurut mereka, semua tergantung apakah mahasiswa sadar dengan keberadaan BEM.

Fikri-Nanang menjelaskan bahwa masalah organisasi sebesar BEM FT pada tahun-tahun sebelumnya adalah masih memikirkan hal-hal sepele. Konflik horizontal (antar ormawa) dibuktikan dengan turunnya pendaftaran anggota Himpunan Mahasiswa, sehingga berdampak kepada kurang proaktifnya Ormawa FT menggerakkan mahasiswa.

Untuk mengatasi hal itu, Fikri-Nanang akan meluncurkan beberapa program kerja. Diantaranya adalah srawung PKM dengan agenda 3 minggu sekali makan bersama, Jawara Smart Report, dan forkom ketua kelas.

Berbalik dari pernyataan terbut paslon 2 menyebutkan masalah BEM tahun kemarin didasari dengan aturan masing-masing. Paslon ini akan mengadakan aturan yang lebih tegas tetapi tidak mengganggu sistem kekeluargaan. Karena itu, Sivan-Satria akan mengadakan angket aspirasi di awal dan di tengah tahun, kebijakan baru yaitu diskusi aspirasi setiap ketua kelas, dan call center keluhan mahasiswa.

Baca juga: Sivan: Angket Online untuk Evaluasi

Menutup debat, pasangan Sivan-Satria mengatakan terkait Kabinet Aksi yang diusungnya jangan diartikan sebagai demonstrasi. “Terkait (kabinet, red) aksi, jangan konotasinya demonstrasi. (Ada) kata bersinergi dengan koordinasi kolaborasi,” jelas Satria.

Sedangkan Fikri menutup debat dengan ajakan memberi masukan. “Perbedaan adalah suatu keniscayaan, kami hadir sehati  datang dengan konstribusi, kami sangat masih terbuka dengan masukan teman-teman,” tutup Fikri.

Reporter: Marlina Siadari