Oleh : Teguh Iman Perdana

Akhir-akhir ini, seiring dengan menguatnya nalar dan meningkatnya daya kritis, kami sebagai lembaga pers mahasiswa yang notabene masih dinaungi oleh pihak kampus ibarat anak ayam kehilangan induk. Sebagai salah satu lembaga yang vokal akan transparansi keadaan sesungguhnya kehidupan kampus, terkadang membuat merah kuping pejabat kampus sendiri.

Sebagai insan media, kami sadar akan tekanan yang akan hadir pada kami ketika suatu pemberitaan hadir di salah satu koran bulanan kami yang dinamai Teknopost. Koran ini sendiri mulai mengalami banyak perubahan, mulai semenjana dan mungkin akan habis terlibas dana yang semakin ke sini semakin mengerdil.

Bagi sebagian Lembaga Pers Mahasiswa(LPM), masalah dana adalah ancaman lain selain pembredelan itu sendiri yang terkadang menjadi momok menakutkan karena akan mengancam kelestarian media itu sendiri. Semenjana Teknopost semakin menguat ketika Mukhamad Fairuz Zaman, pemimpin umum kami di tahun 2018 kemarin membeberkan perihal pemangkasan dana yang semakin besar dengan alasan-alasan non-logis, sangat sulit diterima oleh nalar sehat.

Dalam suatu temu pimpinan UKM Fakultas yang diselenggarakan, perihal dana pernah ditanyakan secara gamblang, dana kami dalam dua tahun terakhir selalu dipotong. Lalu apa jawaban birokrat kampus? Singkat saja, mereka menganggap bahwa kami tidak memiliki suatu frame yang sama dengan apa yang telah ditetapkan oleh pihak Kemenristekdikti serta banyak poin-poin yang tidak seirama denganya. Sederhananya apa yang kami lakukan dinilai tidak sesuai dengan visi dan misi kampus.

Baca Juga : Tren Make-Up di Mata Milenial

Harus diakui, selama ini Teknopos memang cukup berani mengangkat isu-isu subtansial dan vital, seperti pembangunan gedung baru, transparansi informasi kampus yang tidak jelas, bobroknya pelayanan kampus, serta isu-isu soal kapitalisasi pendidikan melalui UKT dan UPPA yang kesemuanya langsung berhadapan dengan birokrasi. Tapi bukankah di mana saja semangat jurnalisme adalam memberikan paparan fakta guna melakukan kontrol sosial?

Bagi kami, inilah era semenjana kami. Dimana kami harus terus berproses bagaimana dana yang minim tidak akan menggoyahkan idealisme sebagai mahasiswa sekaligus wartawan non-profit  untuk tetap kritis dan berwawasan luas. Serta mampu menjadi suatu pembeda, seorang differentiator, menjadi al-furqon,  dengan kegiatan-kegiatan mahasiswa lainnya yang begitu mengekor dengan para pemegang kekuasaan.

Sebagai lembaga pers yang telah dijamin kebebasan berserikat serta berkumpulnya, memang tidak banyak dari kami yang menorehkan suatu capaian memukau hingga membuat kampus berbangga diri. Kami justru hanya membeberkan suatu kenihilan yang sedang terjadi di dalam kehidupan kampus, yang besar harapanya bisa menjadi suatu masukan untuk pihak terkait supaya bisa terus membangun kampus tanpa mengucilkan mahasiswanya.

Dalam konstelasi media saat ini, Teknopost sebagai media cetak berbasis kertas lumrah disebut “media konvensional”. Namun satu hal yang perlu dicatat, bahwa media konvensional yang memasuki era pensiun ini, boleh jadi wartawanya tidak sekonvensional medianya, memegang catatan kecil dan pena serta duduk terdiam tanpa asumsi apapun. Saya yakin, media kami yang semakin semenjana ini tetap dihuni oleh reporter-reporter lapangan serta editor yang idealis dan memiliki pandangan visioner untuk pertumbuhan kampus kedepannya.

Inilah era dimana lembaga pers pengekor akan mendapat dana yang besar. Bekerja tanpa signifikansi fakta yang berdasarkan data serta analisis sosial sebelumnya, namun memiliki kepentingan sebagai pendukung arus utama. Sedangkan kami sebagai lembaga yang tetap mempertahankan idealisme dan berani kritis dibumbui data mendapat dampratan keras karena idealisme yang berbenturan dengan kepentingan penguasa.

Baca Juga : Teknopost Edisi Khusus Pemilwa FT

Sikap seperti itulah yang membuat kami tidak bisa menyesuaikan, dimana kami lebih percaya pada idealisme. Seperti yang dikatakan seorang tokoh besar Indonesia, Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda”. Kami tidak bisa menukar idealisme dengan apapun hingga kami hanyalah jiwa kosong yang bergerak dimainkan oleh dalang kekuasaan bukan dalang kehidupan.

Harus diakui juga, Teknopost kami yang notabene adalah kertas terkadang hanya berakhir sebagai bungkus bakwan yang berlumuran minyak di kantin kampus. Inilah masalah kita bersama, dimana kebiasaan membaca hingga akhir millenium kedua ini ternyata terus tergerus oleh peradaban, dan tinggal kenangan. Hiks.

Kalaupun kemudian Teknopost ini nantinya berubah bentuk menjadi  buku elektronik (e-book) yang bisa diunggah dengan mudah di internet, di mana lagi kalau bukan wartafeno.com, tetap keabsahan dan cita rasa dari berita akan tetap berbeda. Sebab yang kita pegang adalah gawai bukan secarik kertas berisi omongan seseorang atau keresahan yang sedang terjadi.

Baca Juga : Media Sebagai Wadah Transparansi Atau Sensasi

Waktu terus berjalan, bahkan kepengurusan baru saja berubah, entah angin muson mana lagi yang akan menerjang kepengurusan baru ini dan yang selanjutnya. Satu hal yang pasti, kita wartawan kampus tetap pada idealisme dan mengabdikan diri pada kebenaran. Kita bukan wartawan peradaban yang mengabdikan diri pada clickbait menggunakan judul-judul tulisan yang fenomenal dan menggugah nalar namun miskin esensi.

Pada alenia terakhir ini saya sisipkan kalimat yang pernah ditulis Bre Redana dalam tulisannya di Catatan Minggu Kompas tanggal 27 Desember 2015, ”Sekadar mengingatkan para juragan: di balik cakrawala senja, nilai-nilai di atas tetap diperlukan oleh manusia”. Senjakala Teknopost karena masalah anggaran tetap tidak bisa membungkam kami dan mengebiri daya kritis kami sebagai sekumpulan orang-orang merdeka. Dimana satu hal yang kita pegang, jika mulut dibungkam, maka pena yang akan berbicara. Sebab kami percaya, goresan pena kamilah yang akan meruntuhkan tirani.