Oleh: Akbar Farhatani

Pada saat BPPM Balairung menerbitkan artikelnya yang lantas populer, saat itu saya sedang berleha-leha dalam kamar kontrakan berukuran 3×4 meter di sudut Kotagede. Dalam artikelnya, Citra Maudy menulis bagaimana seorang perempuan yang mengalami pemerkosaan selama menjalani KKN di Pulau Seram.

Saya membacanya di pagi hari saat artikel itu masih fresh from the oven. Sebelum trending, viral, diliput media mainstream, di retweet dan share banyak orang, hingga masalah ini merembet dan menimbulkan pro-kontra.

Laporan mendalam yang dilakukan BPPM Balairung menunjukkan bahwa kampus sebesar dan sebagus apa pun mempunyai sisi buruk yang perlu diketahui dan dibenahi bersama. Dalam tulisan kawan pers mahasiswa Pekalongan yang tulisannya dimuat di situs Remotivi, berita yang dikeluarkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dan sejenisnya adalah berita yang sejujur-jujurnya.

Mengapa begitu? Karena Pers Mahasiswa-lah yang mengetahui bagus-bobroknya kampus. Pers Mahasiswa menjadi indra pencium paling tajam tentang isu apa pun yang berbau menyengat di lingkungan kampus atau bahkan masyarakat. Saya yang hampir tiga tahun aktif dalam lingkungan Pers Mahasiswa berani mengatakan, semua Pers Mahasiswa sangat kritis dan objektif dalam menanggapi setiap isu.

Di tengah krisis kepercayaan kepada media mainstream, terlebih di panasnya iklim politik, Pers Mahasiswa keluar sebagai alternatif yang sangat menjanjikan. Dibanding media mainstream, Pers Mahasiswa tidak perlu diragukan lagi independensinya. Mereka bergerak atas nurani hati sendiri tanpa ada campur tangan lain dalam dapur redaksi masing-masing.

Baca Juga: Editor Balairung Memenuhi Panggilan Polda DIY

Pers Mahasiswa tidak dibayar sepeser pun untuk mengabarkan kebenaran dan kebobrokan kampus, namun—saya yakin sekali ini adalah keresahan semua pers mahasiswa—setiap Pers Mahasiswa pasti mempunyai masalah yang sama.

Pendanaan, Kaderisasi, Stigma: Tantangan Ke Depan

Ada dua hal yang bisa terjadi pada kasus Persma dengan Kampus: Persma seperti anak yang melawan, atau dianggap ajaib dan mukjizat dari Tuhan.

Bagi saya pribadi, Pers Mahasiswa seperti anak yang melawan kepada kedua orang tuanya. Namun, memang seperti itu lah kenyataan yang dihadapi, karena anak tidak mungkin berbohong. Ia tidak mengenal sesiapa sebelumnya.

Kami memberitakan kebobrokan kampus dengan dana yang diberi oleh kampus yang mati-matian membuat citranya baik di mata masyarakat. Saya bisa mengerti kekesalan semacam ini, mungkin ini yang dirasakan birokrat UGM dan kampus-kampus lainnya yang menhadapi ‘kenakalan’ Pers Mahasiswa.

Maka, dengan cara apa para pejabat kampus bisa menekan Pers Mahasiswa? Di luar ancaman kriminalisasi, ancaman yang dilancarkan adalah pendanaan. Hal ini bisa menjadi senjata utama karena pendanaan adalah sebagian besar faktor hidup-mati sebuah Persma.

Selain pendanaan, pejabat kampus memberi stigma negatif kepada Persma yang kemudian sedikit-banyak mempengaruhi persepsi di lingkungan mahasiswa itu sendiri. Secara otomatis, stigma ini masuk ke dalam kepala-kepala kosong mahasiswa baru, dan kepala-kepala batu mahasiswa dan dosen yang telah ikut-ikutan anti kritik dan berkacamata kuda.

Baca Juga:Imlek dan Sejarah Suram Tionghoa di Indonesia

Apa pengaruhnya? Sangat minim mahasiswa yang berkeinginan mengikuti kegiatan-kegiatan memuakkan Persma: membuat buletin, reportase, diskusi, investigasi, bahkan sekedar menonton film. Ini mengakibatkan kaderisasi Persma akan mengalami kesulitan karena minim anggota—seperti yang dirasakan kebanyakan Persma, anggota yang sedikit adalah hal yang biasa.

Mahasiswa cenderung takut mengikuti segala proses kaderisasi Persma dengan berbagai macam alasan, dari takut nilainya jelek hingga menganggap Persma adalah Komunis.’

Menurut saya, cara-cara seperti ini lebih berbahaya ketimbang membredel Persma. Terbukti, membredel Persma tidak berarti memberangusnya. Ini terjadi pada LPM Ekspresi UNY (2014), LPM Pendapa UST (2016) dan LPM Poros UAD (2016). Ketiga Persma itu masih berdiri kokoh hingga hari ini dan terus berinovasi.

Apakah saya membeberkan sebuah taktik? Ups.

Dengan begitu, saya pikir setiap Persma mempunyai cara sendiri untuk terus bisa survive, kreatif mengatasi masalah-masalah, mengawal isu kampus masing-masing, dan tentunya: berinovasi.

Kini setiap Persma mulai bergerak mengikuti perkembangan zaman dan tuntutan pembaca (re: mahasiswa).

Tulisan-tulisan awak Persma kini lebih luwes dan tidak melulu dikemas serius, namun tetap tidak mengubah poin yang disampaikan. Mereka mulai berdikari: berjualan buku, menekan kerja sama iklan, membuat kaos, hingga crowd funding. Hingga, mengawal isu dengan video diskusi, vlog, bahkan podcast.

Maka dengan optimis, saya mengatakan bahwa Persma telah memasuki era baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya: media digital. Persma lima tahun yang lalu tidak akan sama dengan Persma lima tahun yang akan datang.

Apa pun yang terjadi, Persma akan tetap dan terus hidup.

Baca Juga: Hari Pers, Memaknai Sejarah dan Harapan Publik