“Bukankah rindu yang membuat kita menjadi seperti ini sayang?”

“Tidak sayang, karena inilah kita menjadi rindu. Perasaan seperti inilah yang melahirkan rindu diantara kita.”

“Jadi begitu menurut mu sayang? Rindu tercipta karena perasaan ini?”

“Kurang lebih begitu menurutku.”

Kedua pasangan kekasih itu saling menanyakan apa yang membuat rindu bisa muncul diantara mereka berdua. Menurut si wanita rindu dapat muncul karena ada pemicunya. Pemicunya adalah sebuah perasaan yang entah apa itu.

“Tapi bukankah kita sama-sama merindu sayang?” Sanggah si wanita pada kekasihnya.

Sebenarnya mereka berada pada keadaan yang sama saat ini. Mereka sama-sama sedang merindukan satu sama lain. Merindukan masa ketika mereka sering berdua, jalan, dan membuat semua orang disekitarnya cemburu. Seolah dunia hanya milik mereka berdua. Seperti sepasang kekasih pada umumnya. Dimana ketika siang selalu berdua, malamnya saling berbalas pesan. Seakan waktu hanya berputar pada siklus yang sama pada saat itu.

“Iya sayang. Tapi apa yang membuat kita menjadi rindu? Aku tidak tahu apa penyebab rindu.”

“Iya sayang. Aku juga tidak tahu. Mungkinkah karena kita jarang bertemu sekarang?”

“Ah bukan… bukan itu, aku yakin bukan itu. Bukankah beberapa bulan ini kita juga jarang berjumpa? Atau jangan-jangan kamu tidak pernah rindu aku ya? Kau rindu hanya  saat ada aku saja dan selama tidak ada aku kau hanya pura-pura rindu saja?” Tanya si pria

“Tidak sayang…tidak sedetikpun aku bisa melangkahi waktu tanpa merindukan mu. Setiap detak-detik waktu aku selalu merindukan mu. Walau aku pun tahu bahwa tiap detak-detiknya yang barangkali selalu kita nikmati berdua itu fana sayang. Tetapi kita selalu menikmati kefanaan tanpa tahu apa yang membuatnya hingga kini masih berdetak. Sehingga kebersamaan yang selama ini telah kita lalui,  kita anggap itu abadi. Yah walau cinta abadi pun sebenarnya tidak pernah ada. Dan percayakah kau sayang bila suatu saat nantinya juga kita akan berpisah juga. Entah apa atau barangkali siapa yang memisahkan kita. Ah aku tidak peduli sayang. Toh kita sama-sama menikmatinya juga kan? Yang harus kau tahu setiap detik yang berdetak aku selalu merindukan mu.”

“Kau merindukan ku? Ah bohong, aku tidak percaya. Kalau pun kau merindukan ku, rindu seperti apakah yang tidak bisa kau lewati setiap detak detik waktu?” Sanggah si pria kepada kekasihnya. Kini mereka dihadapkan bukan hanya pada rindu yang entah seperti apa, tetapi kepercayaan yang juga diuji.

“Rindu yang menggila sayang.”

“Kalau begitu, aku lebih gila dari mu. Kau tau sendirikan bagaimana keadaanku sekarang ini?”

“Lalu, rindu apa yang pantas untuk mendefinisikan perasaanku saat ini?” Jawab si wanita yang mulai menyerah oleh jawab kekasihnya.

“Rindu yang sebenarnya.”

“Seperti apakah itu sayang?”

“Aku juga tidak tahu.” Jawab si pria sambil menenggak botol minumnya.

“Menurutku, rindu yang sebenarnya tidak bisa digambarkan dengan apa pun. Aku berani bertaruh pelukis terbaik dunia pun tidak bisa menggambarkannya, bahkan sastrawan kondang pun tidak bisa menceritakannya dengan benar. Rindu yang sebenarnya hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang benar-benar merasakannya. Dan kita pun harus bisa melewatinya berdua. Meski rindu seperti paksaan dan aku pun sangat benci dengan rindu. Tidak perlu merindu lah. Aku maunya kau selalu ada dengan ku tanpa dibatasi apa pun. Seperti inilah yang menurut ku rindu yang sebenarnya.

Baca Juga: Barisan Kehampaan

Dimana kita sedang diuji dan jika kita bisa melawannya rindu itu akan hilang. Lalu kita yang menang. Bukankah cinta terasa indah ketika sedang diperjuangkan seperti ini? Setidaknya kau merasa senang jika ada yang memperjuangkan mu bukan? Walau aku pun tak tahu sebenarnya apa yang sedang aku perjuangkan. Apakah cinta, kamu, atau hubungan kita? Atau kita tidak memperjuangkan apa-apa. Maksudku kita hanya bersama mencoba melawan rindu. Kita ditandingkan dengan kekuatan rindu yang sebegitu maha dasyatnya sehingga kau bahkan mungkin aku tidak bisa melewati setiap detak-detiknya tanpa merindu sayang.

Apakah kau percaya sayang, bahwa rindu yang mahadasyat ini hanya soal waktu saja. Tinggal menunggu siapa yang keyok duluan apakah kita atau rindu itu sendiri yang keyok. Ah  persetan dengan rindu…Oh rindu sialan.” Sambung si pria mencoba mengartikan rindu sepengetahuannya.

Sejenak percakapan mereka berhenti. Mereka saling tatap. Dengan tatapan yang saling membidik satu sama lain. Mungkin juga saling berfikir. Sebenarnya apakah mereka benar-benar sama merindu satu sama lain, atau sebenarnya mereka sama-sama berjuang ingin menyingkirkan rindu yang pada awalnya mereka anggap indah, malah sekarang menjadi momok yang tidak diharapkan sama sekali.

Sekarang mereka benar-benar membenci rindu dan ingin membuangnya jauh-jauh. Keduanya tidak mau lagi memendam yang namanya rindu.  Bagi mereka rindu tidaklah berguna. Kini mereka beranggapan merindukan seseorang hanya buang-buang waktu. Yang mereka pikirkan kini bagaimana caranya membuang rindu jauh-jauh.

“Kalau kita selalu bersama apakah rindu akan hilang dengan sendirinya?” Tanya si wanita kepada kekasihnya. Ia mulai jengah dengan diamnya.

“Bisa saja menurutku. Toh memang selalu bersamamu lah yang aku inginkan.”

“Pada waktu yang singkat ini apakah kita hanya akan memperdebatkan rindu saja sayang?” Jawab si wanita agak kecewa. Karena bukanlah perdebatan yang ia harpkan ketika sedang berdua dengan kekasihnya. Salah-salah, karena perdebatan ini hubungan mereka menjadi regang, atau bahkan goyang. Ia berharap, kekasihnya akan merayunya dengan kata-kata yang serba manis, mulai mengelus rambutnya dengan halus, lalu mengecup keningnya dengan perasaan penuh rindu. Ah rindu lagi. Sebuah diksi yang tidak pernah lepas dari kisah ini. Diksi yang sangat mereka benci.

“Mungkin waktu yang fana ini tidak akan bisa merampungkan rindu biadab itu sayang. Tetapi, aku akan bicara garis besarnya saja. Setelah ku ingat kembali sayang, aku rasa rindu begitu saja muncul dengan mudahnya. Tapi aku akan bercerita mengapa aku bisa di sini dan barangkali dengan aku di sini dan kau disana rindu ini mulai bermunculan kalau memang betul kita saling merindu.”  Si pria mulai mencoba menjelaskan bagaimana rindu yang entah apa itu bermula.

“Kau masih ingat bukan rencana kita untuk liburan berdua? Ya mungkin hanya singkat. Tak lama. Tetapi dengan waktu singkat yang ku curi dari rutinitas pekerjaan ku ini bisa menggantikan waktu-waktu yang ku lewati tanpa diri mu sayang. Walau pun barangkali kau juga tahu bahwa waktu yang sudah terlewati dengan begitu-begitu saja tidak bisa digantikan oleh apa pun.

Detak-detik waktu tetap berdetak seenak udelnya tanpa tahu bagaimana nasib hubungan sepasang kekasih yang jarang dipertemukan karena detak detik yang begitu dinamis. Tetapi aku berargumen, setidaknya dengan liburan berdua dapat mengobati kerinduan kita. Ah rindu lagi, sialan sayang.” Sambung si pria

“Tentu masih ingat sayang. Jadi dari mana rindu itu muncul, bertunas, hingga tumbuhnya lebat tak terhingga. Ceritakan lah sayang. Jangan buat aku penasaran.” Si wanita tidak sabar menantikan cerita kekasihnya. Sesungguhnya memang itulah yang dinantikan si wanita sedari tadi ketika mereka pertama  bertemu.

“Aku mau liburan yang sudah kita rencanakan jauh-jauh hari menjadi liburan yang amat sangat spesial. Jadi aku mulai memilihkan tempat terlebih dahulu. Bukankah kau suka dengan senja? Dengan segala keindahannya? Dengan jingga yang menyala seolah membakar semesta yang ada di seluas pandang mata mu sayang? Tentu kamu suka kan? Kalau aku tak perlu kau tanya, asalkan kau suka aku juga suka. Maka aku memilihkan sanggarloka yang tepat untuk memuaskan pandang mata mu.

Tetapi, jika hanya pandang mata mu saja yang terpuaskan aku kira tidak cukup untuk mengobati waktu yang kau habiskan berjam-jam selama berbulan-bulan di depan monitor kerja mu. Suasana yang tenang tentram juga perlu kan? Aku juga sedikit bingung untuk mendapatkan tempatnya. Maka setiap malam aku selalu menghubungimu lewat ponsel di malam hari hanya untuk menanyakan kabar mu. Tapi, sebenarnya bukan kabar yang ku cari, suasana hatimulah yang sedang ku cari lewat suara lembutmu yang ku dengar lewat ponselku.

Jadi aku dapat menyimpulkan kau mau tempat yang seperti apa. Aku memilih sebuah kamar di sanggarloka mewah dengan segala fasilitasnya di daerah pegunungan yang jauh dari kota dengan suasana yang tenang dan berhawa sejuk. Aku memilih kamar di tempat tertinggi yang ada di sanggarloka itu. Paling dekat dengan jurang tanpa ada pepohonan yang menghalangi jendela.

Pohonnya sudah habis dibabat untuk mendapatkan kamar dengan pemandangan terbaik. Jendela menghadap ke barat dan senja indah yang akan berlangsung cepat itu bisa menjadi milik mu seutuhnya. Kau akan menontonnya sayang. Kau tidak perlu lagi membaca cerita tentang senja karya sastrawan kondang itu sayang.

Baca Juga: Tak Tahu Kenapa Wifi Mati

Meskipun benar begitu indah senja yang ditulis oleh sastrawan kondang itu. Tapi semua itu hanyalah senja dalam arti deskripsi saja. Kau akan menemui senja dalam arti yang sebenarnya. Kau akan senang sayang. Dan bonusnya aku mendapat senyum yang tersuguh langsung dari bibir mu sayang. Bukan dari layar ponselku.  Kau akan melihat senja yang tenggelam dan hilang tertelan oleh jurang yang menganga.

Memang benar indah sayang senja yang disuguhkan dari jendela itu. Sudut pandangnya pas. Bahkan jika kau kurang puas kau bisa keluar teras. Sehingga senja yang kau dambakan itu bisa kau miliki sutuhnya tanpa penghalang. Tetapi itu semua baru awalnya saja. Belum ada rindu sialan yang menggebu-gebu itu.”

“Jadi, bagian mana yang membuatmu merindukanku sayang?” potong si wanita.

“Sabarlah sayang. Jangan kau sela ceritaku.”

“Aku tidak mau ada yang terlewatkan dalam ceritaku. Jadi, aku menuliskan segala yang kulihat disana. Eksterior bangunan, interior, warna bangunan, suasana, hawa, aku juga menulis bagimana senja itu berlangsung. Ku tulis segalanya dalam kertas berukuran kuarto sayang. Segala yang kulihat. Bahkan, ketika senja selesai dan hari mulai gelap, aku menjelajah sekeliling komplek sanggarloka itu sayang.

Sanggarloka itu berdiri belum cukup lama. Konon sanggarloka itu dulunya lahan pertanian yang sangat subur. Segala kebutuhan pangan dan sayur- mayur kota dipanen dari sana. Tetapi, aku tidak percaya sayang. Masa iya lahan yang menjadi pemasok pangan bagi kota bisa berubah begitu saja menjadi komplek sanggarloka yang serba mewah? Lantas siapa yang merubahnya? Waktu yang fana kah? Atau detak-detik yang terlalu dinamislah yang dengan biadab mengubah lahan pertanian. Lebih tepatnya menggilas ladang nafkah petani.

Aku jadi berpikir kemana petani-petani itu sekarang? Apakah setiap petani di sana seluruhnya alih profesi ya sayang? Atau mungkin karena tidak adanya lahan kini mereka menganggur dan entah apa yang mereka kerjakan kini. Aku pun tidak tahu sayang. Itu tidak penting. Bahkan aku tetap menulis pertanyaan-pertanyaan itu. Dengan perasaan penuh tanya, aku tetap berkeliling dengan membawa kertas berukuran quarto yang ku alasi dengan papan dan ballpoint yang juga ku bawa di tangan satunya.

Ternyata luas juga sanggarloka itu. Setelah mengelilingi setiap sudutnya aku menemukan sesuatu yang susah dinalar dan kau mungkin tidak percaya. Kau percaya apa yang kutemukan sayang? Aku menemukan jejak darah yang masih basah menuju suatu sudut resort itu. Jelas aku takut sayang. Tetapi, dengan perasaan penasaran setengah mati aku tetap mengikutinya dan sampailah aku pada akhir jejak darah itu.

Maka untuk menyudahi perasaan yang penuh tanya ini aku mencoba menggali tempat jejak darah itu berakhir. Aku menggalinya dengan alat seadanya. Aku menggali dengan potongan bambu yang aku temukan di sana. Aku menggali tidak cukup dalam sayang. Dan yang kutemukan di sana adalah sebuah jasad dengan banyak luka menganga yang masih mengeluarkan sisa-sisa darah. Aku tetap menulisnya. Aku menulisnya dengan bahasa seromantis mungkin. Meski di sana keadaannya begitu miris. Dengan segera, aku melapor pada petugas di sana. Seketika banyak orang berkerumun. Membuat lingkaran mengelilingi jasad itu.

“Mayat siapa ya?”

“Menggenaskan sekali ya?”

Masih banyak suara bisik-bisik yang tidak sempat aku tulis dikertas ku sayang. Dengan perasaan takut, dan tidak mau ikut-ikut aku meninggalkan mayat itu.  Lantas denga cepat aku menuju ke kamar. Aku takut sayang.  Yang aku pikir pada saat itu hanyalah check out secepatnya dan langsung menemuimu. Maka sesampainya di kamar aku langsung melihat lagi tulisanku, dan untuk melengkapi alur ceritanya, aku tuliskan saja mayat itu adalah mayat seorang tumbal.

Aku terlalu takut untuk menyelidikinya. Lalu aku melipatnya menjadi tiga lipatan dan ku masukan pada saku kemeja ku.  Aku sempat bertanya-tanya sendiri pada bayang-bayang yang dihasilkan oleh perseketuan gelap dan terang di kamar itu apakah si tumbal ada hubungannya dengan sanggarloka yang serba mewah ini? Apakah setiap pembangunan harus menumbalkan seseorang? Kemudian aku terlelap.

Aku terbangun oleh cahaya mentari yang menyusup lewat sela-sela ventilasi jendela, sedang angin yang bersingsut membawa hawa dingin pegunungan menunda ku untuk segera keluar dari kamar ini. Aku pun terbangun, seketika aku merogoh saku kemeja ku. Aku terkejut. Tulisan yang ku tulis dengan bahasa romantis yang hanya untuk mu itu hilang sayang. Aku tidak tahu siapa yang mengambilnya. Padahal aku ingat benar, kertas berukuran kuarto yang sudah ku lipat menjadi tiga lipatan itu ku masukan di saku kemejaku. Aku tidak pikir panjang. Setelah usai berkemas aku langsung check out. Setelah itu aku pulang.

Aku tak habis pikir sayang, di kantor banyak yang bergunjing tentang tulisanku yang hilang itu. Aku tidak tahu asal mulanya mengapa orang-orang di kantor mengetahui cerita penemuan mayat itu. Padahal belum ada media yang memberitakannya. Atau mungkin tidak ada yang berani memberitakannya. Lebih baik diam bukan ketimbang menanggung segala resiko yang mungkin membahayakan.

Kabar itu begitu cepatnya menyebar dari mulut ke mulut.  Banyak yang bertanya bagaimana aku bisa menemukan mayat di sanggarloka mewah itu. Jelas kau juga tahu sayang dengan sebisaku aku selalu menghindar ketika ada yang bertanya. Bahkan se- isi kota menjadi gempar.

Sepulangnya dari kantor dan lepas dari kemacetan yang memenjarakanku cukup lama. Tibalah aku di rumah. Belum sempat aku membuka pintu, dari belakang aku didorong ke tempok dan terhimpit diantara badan yang mendorongku dengan tembok rumahku. Seketika tanganku diikat dan belum sempat bertanya mengapa, kepalaku seperti menerima hantaman yang begitu dasyatnya. Setelahnya aku tidak ingat apa-apa. Aku tidak tahu siapa yang mengikatku.

Ketka terbangun, aku sudah di sini tanpa diadili. Aku dituduh sebagai provokasi. Kota menjadi gempar dan berbagai aksi dilakukan tempat menuntut kejelasan mayat itu akulah yang dituduh sebagi penyebabnya. Aku tidak bersalah sayang kau tahu kan aku tidak mencuri, aku tidak membunuh, aku hanya menulis dengan bahasa romantis untuk orang yang ku sayang. Maka sampailha aku di sini. Sangat lucu menurutku sayang, kabar burung yang sudah diketahui se-antero jagat ini belum juga ketemu benang merahnya sampai sekarang.

Baca Juga: Cerita di Balik Kota Tua

 Maaf sayang, sehararusnya aku tidak usah sok peduli, tidak perlu ku menulis juga, tidak ada gunanya, toh  juga tidak bisa kau baca. Yang seharusnya ku pikirkan hanyalah bagaimana dompetku cukup untuk keperluan sehari-hari tidak perlu memikirkan yang dirasa tidak penting. Tidak perlu peduli bagaimana nasib si tumbal dan bagaimana mekanisme pembangunan. Sebagai masyarakat biasa harusnya aku tinggal menikmati saja. Sehingga detak-detik waktu yang dinamis ini ku lewati dengan datar-datar saja tanpa hambatan.

Tinggal ku tunggu saja kapan detak detiknya selesai.  Maaf juga sayang, seharusnya sekarang kau tidak di sini. Seharusnya kita sudah di sanggarloka itu dan menikmati senja dengan segala keindahannya. Aku akan memesan secangkir kopi dan barangkali kau mau memesan segelas orange juice. Maaf sayang semuanya jadi begini. Tetapi soal rindu sialan itu aku tetap beranggapan; rindu muncul sendiri dengan seenaknya.”

Si pria merasa bersalah dan mulai menganggap rindu yang begitu menyebalkan itu bermula dari kesalahannya.

“Tak apa sayang aku bisa menerimanya. Tak perlu juga meminta maaf. Tak ada gunanya. Toh detak-detik waktu tetap saja terus berdetak dengan dinamis. Waktu tidak peduli akan nasip seorang pria yang begitu mencintai kekasihnya bukan? Tidak juga peduli dengan si tumbal dan bagaimana mekanisme pembangunan yang seharusnya dapat dinikmati oleh si tumbal itu sendiri.” Jawab si wanita dengan wajah sendu

“Saudara Lastri, waktu anda tinggal lima menit lagi.” Potong si petugas. Seketika si wanita menatap si petugas beberapa detik. Kemudian dengan wajahnya yang sendu, si wanita kembali menatap kekasihnya.

“Jadi, soal rindu yang seperti paksaan itu kau masih menganggapnya muncul dengan sendirinya? Bukan karena kita terhalang jeruji besi yang seoalh bisa memisahkan semesta yang akan kita ciptakan sendiri sayang? Sambung si wanita

“Tentu bukan sayang, tak ada bedanya penjara dengan kemacetan jalan yang setiap hari kita lewati.”

“Tapi kamu masih suka oseng tempe buatanku kan?” Hibur si wanita sambil mengeluarkan rantang dari tas jinjingnya.

“Jelas dong sayang. Itu yang paling ku rindukan.” Jawab si pria dengan lantangnya. Seketika se-isi sel menoleh kearah mereka berdua.

“Jadi kamu rindu aku atau oseng tempe buatanku?” Tanya si wanita cemberut.

“Oseng tempe yang pertama, selanjutnya baru kamu.” Jawab si pria. Dengan menyisakan wajah cemberutnya, si wanita meninggalkan sel kekasihnya tanpa menoleh ke belakang.

Penulis: Adnan
Editor: Ithak