Judul Buku: The Consolation of Philosophy
Penulis: Alain de Botton
Penerbit: Hamish Hamilton
Tahun Terbit: 2000
Jumlah Halaman: 272

Sebuah buku dari Alain de Botton

Filsafat adalah tanah tak bertuan di antara entah dan mengapa, sebuah pengantar yang membawa kita pada kenyataan bahwa filsafat tidak seharusnya menjadi minyak pada air yang ada pada hidup sehari-hari atau dalam kata lain keseharian.

SOCRATES

Setiap masyarakat memiliki common sense (pandangan umum) yang menentukan suatu aturan kehidupan. Seseorang yang mencoba mempertanyakannya akan selalu dianggap aneh dan kurang ajar. Ialah filsuf besar kita, Socrates yang pada akhirnya divonis mati oleh penduduk Athena dengan tuduhan ingkar pada dewa-dewa penguasa kota, mengenalkan agama baru, dan merusak jiwa kaum muda Athena. Kematiannya menandai sejarah penting dalam filsafat sehingga sampai hari ini orang masih menuliskannya.

Metode yang digunakan Socrates adalah dialog. Ia akan berkeliling pasar dan mengajak berbicara orang-orang yang ditemuinya untuk menguji common sense. Banyak orang yang tidak menyukainya, mengolok-olok dan mengganggapnya gila.

Validitas gagasan atau tindakan tidak dinilai berdasarkan pada apakah ia diterima secara luas atau dicaci orang banyak. Ia ditentukan oleh bagaimana ia mengikuti aturan logika. Kebenaran bukan diperoleh karena suatu argumen ditolak oleh mayoritas, bukan pula menjadi benar karena heroisme ”asal beda saja”.

EPICURUS

Sebagaimana halnya obat yang tidak memberi faedah apa pun jika tidak menghilangkan penyakit, demikian pula filsafat tidak berguna jika tidak mampu mengatasi penderitaan pikiran.

Tidak ada yang mampu membahagiakan seseorang yang tidak bisa bahagia untuk hal-hal kecil. Kita boleh saja mencari fasilitas perawatan tubuh, tetapi lanjut Epicurus: pemikiranlah yang membuat kita tenang.

SCHOPENHAUER

Kita dapat memandang kehidupan kita sebagai kisah sedih yang tiada gunanya dalam rasa ketiadaan. Eksistensi manusia pastilah suatu kesalahan. Hari ini buruk dan semakin hari semakin buruk, hingga menjadi hari yang terburuk yang mungkin pernah ada.

Schopenhauer adalah filosof paling pesimis dalam sejarah, sejak usia enam tahun ia sudah ditemukan dalam keputusasaan yang parah oleh orang tuanya. Sebenarnya dunia ini bukanlah karya Yang Maha Mencipta, melainkan karya setan yang menciptakan makhluk agar ia bahagia di atas penderitaan mereka dan yang mempercayai akan beruntung, demikian pendapatnya.

Ia memutuskan menjadi filosof dengan keyakinan bahwa: kehidupan adalah urusan yang meyedihkan, aku memutuskan menggunakan hidupku untuk memikirkannya.

Menyangkut perjalanan hidup dan kemalangan, ia akan tampak lebih sedikit sendiri ketimbang yang dialami kebanyakan umat manusia, sesuai dengan itu ia akan menjadikan dirinya … sebagai orang yang lebih bijak daripada merasa sebagai orang yang lebih menderita

Kita harus, di antara masa-masa itu, terus menggali-gali dalam gelap hari. Selalu berusaha mengubah air mata menjadi pengetahuan.

MONTAIGNE

Pernahkah engkau menyaksikan orang yang merasa dirinya bijak? Kamu lebih baik berharap bertemu orang gila ketimbang orang itu – pepatah

Tiada yang pasti kecuali ketidakpastian, tiada yang lebih sengsara dan bangga selain manusia – Pliny

Mempelajari apa yang telah kita ucapkan atau melakukan kebodohan tidak ada artinya. Kita harus mengikuti pelajaran yang lebih dalam dan penting: bahwa kita tidak lain hanyalah orang tolol

Filosof favoritnya adalah Socrates, dan bagi Montaigne, filosof paling tolol adalah Cicero yang tidak pernah mencurigai diri sendiri. Montaigne juga tidak menyukai Aristoteles dan juga Varro

“Apa yang diberikan oleh karya-karya Varro dan Aristoteles bagi penulisnya? Apakah itu membebaskannya dari penyakit? Apakah melindunginya dari kemalangan seperti yang dialami kuli panggul? Dapatkah logika menghibur mereka dari rasa sakit…?”

Jika seseorang pintar, ia mestinya bisa mengukur kebenaran segala sesuatu berdasarkan kegunannya dan kesesuainnya dengan kehidupan.

Selama hidupku aku sudah menyaksikan ratusan pengrajin dan peladang lebih bijak dari rektor perguruan tinggi

Di antara 57 inskripsi yang ditulis Montaigne di pilar-pilar perpustakaannya, ada sebaris dari Terence

Homo sum, humani a me nihil alienum puto

Aku manusia, tidak ada manusia yang aneh bagiku

SENECA

Dalam pandangan Senecian yang membuat kita marah adalah harapan yang terlalu optimistik tentang bagaimana manusia dan dunia ini.

Apa yang membuat kita merasa berhak marah ketika tidak menemukan remote control di tempatnya?

Karena kita kebanyakan dilukai oleh apa yang tidak kita harapkan dan karena harus mengharapakan segalanya, kita harus juga memperhatikan kemungkinan bencana yang bisa menimpa setiap saat.

Kita tidak pernah mengantisipasi musibah sebelum ia datang. Demikian banyak kematian melewati pintu kita, namun kita tidak pernah menganggapnya kematian. Kematian terjadi begitu sering tapi kita hanya membuat rencana-rencana baru untuk bayi kita: bagaimana mereka akan mengenakan toga, ikut militer, dan melebihi kekayaan ayahnya.

Ada bahaya nyata pada pengharapan berlebih mengenai masa depan yang dibangun atas dasar kemungkinan-kemungkinan. Setiap kecelakaan yang dialami oleh manusia betapa pun anehnya dan sekecil apapun itu adalah kemungkinan yang harus kita hadapi.

Seneca mengingatkan kita untuk menggunakan sedikit waktu setiap hari untuk memikirkannya:

Ketiadaan milik, entah itu publik atau pribadi bersifat stabil: takdir manusia, tidak lebih dari yang dimiliki kota-kota, membingungkan.

Kita hidup di tengah takdir yang telah ditentukan, kematian akibat kelahiranmu, kematianmu memberi kehidupan

Pertimbangkan segala sesuatu, selain segalanya.

NIETZCHE

Orang paling bahagia adalah orang yang melewati hidup tanpa merasa terlalu sakit tubuh dan mentalnya.

Filosof ini terkenal lewat argumennya bahwa Tuhan telah mati. Karena hanya dengan begitu orang akan berhenti pasrah pada ketidakadilan dan penindasan. Karena hanya dengan membunuh Tuhan orang akan berhenti berjiwa pengecut dan kembali pada potensi-potensinya.

Karena kebahagiaan dan ketidakbahagiaan itu bersaudara. Mereka bahkan saudara kembar, keduanya tumbuh bersama, atau, dalam kasusmu tetap kecil bersama.

Menganggap keadaan bahaya pada umumnya sebagai kesulitan, sebagai sesuatu yang harus dihancurkan, adalah (ketololan yang peling besar), malapetaka yang terburuk … yang hampir sama bodohnya dengan keinginan untuk menghancurkan cuaca buruk.

Penulis: IthakEditor: Edwin, Teguh