Oleh: Akbar Farhatani

Dunia media sosial geger ketika Rektor UNY, Sutrisna Wibawa, mengunggah hasil percakapannya dengan seorang mahasiswa yang meminta agar Dies Natalis mengundang beberapa artis kondang ibukota. Yang membuat geger adalah, Sutrisna Wibawa akan menggratiskan sebuah konser dengan ketentuan tiket masuk menggunakan Indeks Komulatif Prestasi alias IPK.

Sutrisna Wibawa juga berkata—masih dalam unggahan yang sama—tentunya konser tersebut membutuhkan sponsor.

Sutrisna Wibawa menjadi perbincangan hangat di kalangan mahasiswa UNY dan Indonesia. Dirinya diliput berbagai media massa online, akun Instagram nya diikuti lebih banyak orang, dan yang terakhir adalah dirinya membuat akun Twitter: tempat sebenar-benarnya mahasiswa sambat.

Bak gayung disambut, beberapa hari yang lalu Sutrisna Wibawa mengonfirmasi bahwa konser Dies Natalis yang tadinya khayalan itu menjadi kenyataan. Bank BPD DIY adalah sponsornya. Disebut, band Maliq & D’Essentials akan hadir. Setelah melihat unggahan tersebut, saya berpikir banyak: apa yang diinginkan oleh Bank BPD DIY dari mahasiswa UNY? Memangnya, Bank BPD DIY akan menawarkan pembukaan tabungan? Tawaran kredit rumah, motor? Atau, cicilan resepsi pernikahan?

Baca Juga: Rindu

Dompet elektronik jadi jalan tengah

Setelah pendaftaran konser dibuka, akhirnya pertanyaan saya terjawab. Syarat untuk mendapat tiket konser gratisan itu adalah mengunduh dan memakai aplikasi dompet elektronik atau digital payment. Mirip-mirip dengan Gopay atau OVO, yang sudah terkenal dan banyak dipakai sebelumnya.

Setelah mengunduh aplikasi tersebut, calon pemegang tiket harus mendaftar dengan email kampus, top up sebesar Rp10.000, lalu donasi sebesar Rp55, baru bisa mengunduh tiket konser. Sisa saldo bisa dipakai untuk transaksi lainnya yang ada di dalam aplikasi tersebut.

Usut punya usut, aplikasi BPDDIY t-money adalah aplikasi co-branding dari Telkom Indonesia. Maka, tidak heran jika salah satu fiturnya adalah pembayaran beberapa produk dari Telkom. Aplikasi ini juga mempunyai fitur pembayaran tagihan listrik, pembelian token listrik, hingga top up saldo Gopay.

Saya pribadi menilai, langkah kerjasama UNY dengan BPD DIY melalui aplikasi ini adalah win-win solution antara kedua belah pihak. UNY mau, ada yang mensponsori kegiatannya. Sedangkan BPD DIY ingin mengenalkan produknya. Namun yang menjadi pertanyaan selanjutnya bagi saya adalah, apakah sebegitu cashless society nya mahasiswa UNY sehingga BPD DIY mengajukan produk ini?

Baca Juga: FILSAFAT SEBAGAI PELIPUR LARA: The Consolations Of Philosophy

Menakar seberapa cashless mahasiswa UNY

Peralihan pembayaran tunai menjadi non-tunai tidak bisa lepas dari kebijakan Bank Indonesia pada tahun 2009. Lima tahun selanjutnya, Bank Indonesia mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai atau GNNT. Gerakan ini disambut oleh pelaku bisnis dan masyarakat. Perlahan, berbagai layanan berubah menjadi cashless. Dari Transjakarta, Commuter Line/KRL, dan pembayaran tol.

Cashless society adalah sebuah kalangan yang tidak menggunakan uang tunai dalam berbagai transaksi sehari-hari, dan beralih menggunakan kartu kredit, kartu debit, cash card, atau aplikasi-aplikasi dompet virtual seperti Gopay, OVO, hingga t-Money.

Menurut data yang dikeluarkan Bank Indonesia, transaksi non-tunai di Indonesia memang melonjak. Pada tahun 2017—dimana kebijakan pembayaran non-tunai dilakukan dan kemunculan beberapa dompet virtual—Bank Indonesia mencatat ada 943,319,933 transaksi non-tunai.

Angka ini melonjak di tahun 2018. Jumlah transaksi non-tunai di Indonesia mencapai 2,922,698,905 transaksi.

Hari ini cashless society memang sudah menjadi kenyataan, terutama di generasi milenial dan generasi Z. Semua kegiatan yang memiliki transaksi jual-beli, diusahakan bisa dibayar dengan aplikasi-aplikasi tadi agar menarik perhatian generasi-generasi tadi. Mungkin, inilah alasan BPD DIY akhirnya mensponsori konser Dies Natalis UNY, agar mahasiswa UNY beralih menggunakan dompet virtual seperti BPDDIY t-Money.

Mahasiswa UNY memang sudah familiar dengan aplikasi dompet virtual, walaupun belum kaffah cashless. Mereka masih gemar tarik tunai dan memindahkan saldo ke dompet virtual. Memang, beberapa waktu lalu ada beberapa stiker barcode di banyak burjo dan warung-warung makan, namun hingga saat ini tidak banyak digunakan. Kenapa? Menurut saya, karena aplikasi yang digunakan oleh mayoritas mahasiswa berbeda dengan aplikasi yang menjadi penyedia jasa di berbagai tempat tadi.

Mobilitas dan konsumsi mahasiswa UNY juga belum setinggi mahasiswa-mahasiswa di kampus dan daerah lain. Mahasiswa UNY lebih banyak menggunakan sepeda motor, bukan transportasi umum yang menggunakan transaksi non tunai, sebagaimana yang dilakukan Transjakarta, KRL, atau Trans Jogja—ya, karena Trans Jogja gemar memberikan diskon jika menggunakan pembayaran non tunai.

Mereka juga masih gemar membeli makanan mentah lalu diolah, atau setidaknya memasak nasi di kamar kos. Karena kebiasaan itu lah, mahasiswa UNY—kalau tidak kepepet—tidak terlalu perlu memesan makanan via aplikasi. Untuk membeli bahan-bahan pokok tadi, mahasiswa juga masih banyak bergantung kepada uang cash.

Kalau pun ada pengguna aplikasi dompet virtual, mereka agak kesulitan—dan emoh—karena harga yang ditawarkan banyak merchant melalui layanan dompet virtual biasanya ada di atas rata-rata. Otomatis, kebanyakan dari mereka adalah pengguna nomor satu promo, mengisi saldo untuk menggunakan layanan ojek online, dan sesekali membeli makanan—ini sebagian kecil mahasiswa UNY.

Maka, apakah BPDDIY t-Money akan menjadi pilihan utama mahasiswa UNY? Saya kira tidak. Jumlah orang yang harus mengunduh aplikasi ini—sesuai dengan kuota tiket—setidaknya 7500 orang. Selain mahasiswa yang sudah cashless di UNY masih belum terlalu banyak, aplikasi ini juga belum memiliki fitur sebanyak aplikasi-aplikasi lainnya yang sejenis.

Tapi, bagi saya pribadi, langkah BPD DIY yang mensponsori konser gratisan itu dengan langkah ini merupakan langkah cerdas untuk mengenalkan produk terbaru. Karena selain mengenalkan produk, UNY melalui sponsor-sponsornya juga mulai mengenalkan transaksi cashless yang akan lebih populer di masa depan.

Baca Juga: Trio Teknologi Pendukung Keselamatan dan Kenyamanan Berkendara