Peringatan Hari Buruh Internasional (1/5) diwarnai aksi damai oleh 19 organisasi mahasiswa, 19 komunitas serta lembaga pro demokrasi dan buruh yang tergabung dalam aliansi Gerakan Rakyat Untuk Satu Mei (GERUS) dan Aliansi Rakyat Untuk Satu Mei (ARUS). Ratusan massa aksi gabungan tersebut melakukan long march yangbertolak dari parkiran Abu Bakar Ali pada pukul 09.00WIB menuju titik nol kilometer untuk melakukan orasi.

Reyhan selaku humas aksi tersebut menyampaikan, GERUS menyuarakan 12 tuntutan terhadap pemerintah. Diantaranya yaitu, jaminan sosial dan jaminan kesehatan, penghapusan sistem kerja outsourching, penghapuskan regulasi yang merugikan kaum buruh dan pekerja, serta menghapuskan PP no.78 tahun 2015 karena dianggap mereduksi sistem pengupahan terhadap buruh di Indonesia yang ditentukan berdasarkan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya sistem pengupahan tersebut seharusnya ditentukan oleh kebutuhan hidup layak (KHL).

Lebih lanjut, dia juga menanggapi terkait penghadangan oleh pihak kepolisian terhadap mahasiswa Papua yang ingin melakukan aksi serupa di nol kilometer. “Polisi terkesan terlalu khawatir dan terkesan terlalu mengintervensi apa yang harusnya disuarakan oleh  semua warga Indonesia, karena itu sudah dijamin oleh konstitusi kita bahwa warga negara indonesia berhak menyuarakan secara penuh apa yang menjadi aspirasi mereka”, ujarnya.

Sejumlah pengamanan jalannya aksi dilakukan oleh 100 personil Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat Paguyuban Seksi Keamanan Kraton (FKPM Paksi Katon) serta beberapa dari aparat kepolisian. Aksi damai tersebut berlangsung secara tertib dan kondusif kemudian berakhir sekitar pukul 13.30 WIB dengan pembubaran diri oleh massa aksi tersebut. (Danang, Willy, Fany, Nia )

Baca Juga: Peringati Hari Buruh, Mahasiswa Papua Mendapatkan Halangan Dari Aparat Kepolisian