gambar: instagram.com

Oleh Willy Andryan P

Milenial menjadi kata yang sering terdengar akhir-akhir ini. Ditambah dengan pemilu yang telah terjadi kemarin, milenial merupakan target pasar para politikus yang bertarung ketika pemilu.

Untuk hal itu, banyak sekali dari mereka yang berlomba-lomba berusaha menyerupai kaum milenial. Mulai dari cara berpakaian, cara berbahasa, sampai jokes receh yang dipakai agar terkesan dekat dengan milenial. Ternyata virus menjadi milenial jadi-jadian tidak hanya menjangkiti para politikus, penjabat-penjabat kampus pun ikut andil mencoba menjadi milenial agar terkesan dekat dengan para mahasiwanya.

Salah satunya rektor di kampusku. Untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan mahasiwanya, beliau pun mendalami cara berpikir dan perilaku kaum milenial. Maka tak heran banyak mahasiswa memberi julukan rektor gaul bin funky.

Cara beliau untuk menjadi milenial jadi-jadian adalah dengan aktif di media sosial. Beliau sering mengupload foto-foto nyeleneh yang dinilai kekinian. Beragam postingan Instagram seperti Screenshoot pesan beliau dengan mahasiswanya atau balasan pada kolom komentar yang mengundang tawa dilakukan oleh beliau. Dengan sikap itu beliau telihat sangat interaktif kepada mahasiswanya.

Melihat hal ini, mahasiswa pun tak melewatkan kesempatan untuk curhat segala hal kepada sang rektor. Mulai dari masalah kampus hingga masalah yang ada di kos-kosan mereka. Dengan senang hati rektorku me-respon pesan mahasiswa.

Puncaknya ketika dies natalis di kampusku. Beliau membuat gebrakan yang cukup membuat mahasiswanya antusias. Dengan mengundang band ternama untuk merayakan dies natalis kampusku.

Baca Juga: Trio Teknologi Pendukung Keselamatan dan Kenyamanan Berkendara

Yang menarik dari acara itu adalah metode mendapatkan tiket konsernya. Tiket konser untuk menonton konser tersebut adalah sesuai dengan IPK mahasiswanya. Pembagian tiket antara VIP, Platinum, Gold Silver dan sebagainya diurutkan menurut IPK mahasiswanya, tentunya mahasiswa yang sangat menguleti bidang akademiknya akan mendapat tiket VIP pun sebaliknya.

Acara tersebut memang ditujukan sebagai bentuk apresiasi dari beliau untuk para mahasiswa yang telah berjuang mendapatkan IPK yang tinggi. Karena tiket itu hanya berlaku bagi mahasiswa yang mempunyai IPK diatas 2,75. Jika memang kalian yang bodoh (IPK dibawah 2,75), tidak pantas mendapatkan hiburan yang setara.

Kurang milenial apa coba rektorku? Sungguh milenial bukan? Dengan cara begitu, tidak hanya menjadi dekat dengan mahasiswa, beliau juga bisa langsung menangani keluhan mahasiswa yang mendesak untuk diselesaikan. Hidup Rektor

Disamping itu meski rektorku telah berusaha seramah dan semilenial itu, masih saja ada riak-riak suara yang mengkritik rektorku. Biasanya dari kalangan mahasiswa yang sok kritis, dan sok menjadi aktivis pembela mahasiswa. Hal ini direspon beliau dengan memberikan petuah untuk mereka (tentunya melalui media sosial). Para aktivis ini sok mengkritisi birokrasi kampus, berkoar memperjuangkan hak mahasiswa tetapi luput pada akademik mereka. Sudah jarang mandi mengikuti perkuliahan, nilai IPK dibawah 3 pula. Memang harus disindir, karena hanya menjadi benalu bagi kampus.

Persetanlah dengan mereka yang selalu saja mengkritik kampus. Yang teriak-teriak penurunan UKT dan menolak adanya UPPA. Toh yang berteriak itu hanya segelintir mahasiwa. Aku yakin mereka hanyalah mahasiwa yang miskin, namun tak terlalu berbakat untuk mendapatkan bidikmisi.

Kembali lagi kepada milenialnya rektorku. Nyatanya, tidak semua pesan langsung dari Instagram ditanggapi oleh beliau (atau memang belum?). Beberapa keluhan yang gagal magang ke jepang, perihal dana kemahasiswaan yang turun, semua hal tersebut tidak ditanggapi oleh beliau. Beliau lebih memprioritaskan untuk permasalahan receh yang dirasa lebih millenial able seperti kos mahasiwanya yang berhantu, atau tiket konser sesuai IPK.

Karena memang konteks media sosial bagi beliau adalah untuk pencitraan. Jika masalah kampus yang berat, bukan di media sosial lah tempatnya. Ditambah sibuknya untuk mengurus konser dies natalis UNY. Wajar jadinya masalah lain terlupakan. Hidup Rektor!

Maka dari itu aku menghimbau untuk lebih mengapresiasi tingkah sok milenial rektorku itu. Tidak perlu lah teriak-teriak tolak UPPA dan membenci rektorku itu, toh para mahasiwa baru yang sudah membayar UPPA tidak pernah mengeluh.

Sampai sekarang permintaan terkait transparansi dana yang wacananya dibangun bertahun-tahun lalu belum juga dilakukan, namun hal itu bukanlah hal yang penting. Yang penting rektorku sungguh milenial, rektorku gaul, hal itulah yang terpenting dilakukan untuk menjadi rektor yang baik, rektor yang interaktif, rektor yang bisa dijadikan panutan.

Perlu kiranya rektor dari universitas lain meniru jejak rektorku itu. Tak perlu pusing memikirkan tuntutan mahasiswa sok aktivis itu. Yang diperlukan hanyalah pencitraan, pencitraan dan pencitraan.

Ini rektorku, mana rektormu? Hidup Rektor! Ale Ale Ale Rektor Ku!

Baca Juga: Tiket Konser Gratis dengan Dompet Elektronik: Efektif kah?