Cerita sambung

Musim hujan 1932, perjuangan masih ada dan Belanda masih menjadi tuan. Aku dan Sukarta waktu itu bekerja di salah satu pabrik gula milik pemerintah kolonial. Kami bekerja bukan sebagai karyawan, tetapi sebagai kuli angkut tebu. Pekerjaan yang tidak memerlukan gelar pendidikan hanya cukup tenaga yang siap diperas. Pada suatu hari disaat aku dan kuli lainnya bekerja, hujan lebat tiba-tiba turun. Lekas kami pun mencari tempat berteduh. Warung di ujung ladang pun menjadi tujuannya. Setibanya disana Aku dan Sukarta langsung memesan sajian. Dua cangkir kopi dan semangkuk kacang tanah sangrai ialah pilihannya. Sajian kami datang agak lama karena memang kuli lainnya juga memesan. Sambil menunggu kami melihat ke arah pematang. Daun tebu yang berjumlah ribuan itu menari-nari dengan nikmatnya terkena terpaan angin sejuk dari arah barat. Syahdunya alam menguatkan lelahnya raga ini. Namun ketenangan waktu istirahat kami terganggu ketika sekelompok patroli Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (baca- KNIL) datang.

Terlihat mereka juga lelah dan basah. Kelompok itu terdiri dari 3 orang Belanda dan 2 orang Inlander –begitulah kami menyebut pribumi- bersenjata lengkap, dan mantol. Mayoritas kuli menunduk saat mereka datang, menolak mencari perhatian akan tetapi Aku dan Sukarta tetap awas!

Benar saja empat orang dari kelompok memang mencari masalah walau kami tetap diam. Yang lebih miris ketika aku melihat sendiri dua serdadu inlander itu juga berlagak semena-mena padahal sesama anak bangsa. Tapi tidak dengan satu serdadu belanda itu, sedari datang ia tidak duduk dengan kelompoknya. Ia memilih menepi kemudian mengeluarkan buku kecil dan pena dari ranselnya.

Terkejut benar mataku dan Sukarta saat ia malah menyapa kuli disebelahnya setelah beberapa menit menulis. Walau teman seperkulian kami itu tiada mampu untuk menjawab dengan bahasa sang serdadu  tapi bahasa tubuh memang bahasa universal manusia. Itikad baik sang serdadu menarik perhatian kuli yang lain tak terkecuali Aku dan Sukarta. Dengan bekal Dutch Basic yang kami pelajari dari kawan Frank, Sukarta memeberanikan diri mengobrol sedang aku diam dan mengawasi. Si Serdadu heran melihat Sukarta dengan lancarnya berbicara Dutch. Sorot mata keherannya diikuti sorot mata kuli-kuli lain terhadap Sukarta. Mungkin saja dibatin bertanya bagaimana bisa kuli yang kumal ini mampu berbahasa Dutch dengan lancar? Darimana ia memepelajarinya? Bukannya selama hidupnya hanya bertemu cangkul dan arit? Atau mungkin ia bangsawan yang jatuh kemudian menjadi kuli untuk meneruskan hidup? Atau tokoh politik buangan? Aku kira dengan Sukarta mengajak berbicara si serdadu akan berubah menjadi waspada.

Sempat arit yang kugegam juga berubah waspada. Tapi dugaanku salah malah mereka sangat enaknya mengobrol.

Dari sini kulihat keadaan dunia masa depan, yaitu peace! Mereka berkenalan dan merayap ke berbagi topik obrolan. Diketahui  nama serdadu itu ialah Jan, dan baru dua bulan berada di Tasik. Ia bercerita sebenarnya ia tak mau menjadi tentara akan tetapi paksaan lingkungannya dari dalam dan luar tak bisa ia bendung lagi. Ia pun akhirnya bertanya dimana Sukarta belajar Bahasa Belanda? Namun sebelum pertanyaan itu terjawab  4 serdadu lain mendatangi kami. Memang terlampau akrab akan membuat si pemecah gusar. Dengan nada membentak , sang pemimpin kelompok mengubah suasana yang tenang, kemudian menghampiri serdadu Jan dan menarik tangannya. Jan tersungkur ke tanah. “ Jangan mengobrol dengan mereka, mereka kuli kotor!! Kau nanti sakit jika terlalu lama!!”, ucap si kapten dengan bahasa Belanda. Jan pun berdiri mengambil buku dan pena yang jatuh, hanya buku yang bisa diambil karena tergesa sang kapten menarik kembali. Jan pun sekarang bersama kelompoknya. Kami juga kembali ke tempat semula.

Tak terasa tarian di ladang tebu pun usai, pertanda kita kembali ke kewajiban. Kelompok Jan pun bersiap kembali berpatroli. Sukarta yang melihat kelompok itu bersiap-siap, segera melangkah menujunya tanpa takut. Ia sempat dicegah namun Jan yang paham akan maksud Sukarta itu  kemudian datang menghampirinya.

Sukarta tidak mempraktekan Dutch basicnya waktu itu karena situasi tidak sama dengan yang tadi. Kawanku kini menggunakan bahasa tubuh! Pena serdadu Jan yang tak sempat diambil itu disodorkan untuk dikembalikan. Namun Jan menolaknya, kuperhatikan Jan membisikan sesuatu pada Sukarta. Pena itu sekarang milik Sukarta kemudian mereka saling berjabat tangan dan zus.

Perpisahan akan dilanjutkan dengan lamunan. Dibawah sinar bulan bongkok Sukarta duduk termenung dengan memainkan pena hibah Jan. Aku mendekatinya sambil membawa perlengkapan melintingku. Diskusi dimulai!

“ Sedang memikirkan apa saudara? Terlihat serius sekali”

“Sedang memikirkan ucapan perpisahan Jan tadi, serta beberapa kemungkinan”, Jawab Sukarta.

“Apa yang dikata serdadu muda itu?”

Sukarta pun melirikku sebentar kemudian menyuruhku duduk, dia berucap pelan,” ini yang dikata Jan tadi Das , Saya sadar benar Anda bukan kuli biasa, Anda pasti pernah bertemu asbak dan kapur, maka dari itu gunakan pena ini sebagai lanjutannya, tinggal mencari tinta kemudian anda kembali ke diri Anda! Tegakan kebenaran sampai langit runtuh dan maafkan kami!”

                “Dasar Belanda, pandai benar menebakmu. Untung dia buka intel PID. Saudara juga salah, terlalu naif mengajak mengobrol dengan  dia dengan bahasanya pula. Untung pula ia serdadu yang berbeda .”

                “Karena ia berbeda maka aku  berani mengobrol Das, aku sudah bisa membaca air mukanya sedari awal datang, Ia seperti Frank.”

                “ Bisa saja saudara, nah mending sekarang gunakan saja pena itu untuk menulis puisi nan indah untuk Aini, hati ustadzah itu pasti akan luruh dan kembali ke dekapan saudara.”

                “ lebih baik kau diam Das,  aku tak akan termakan omonganmu ini , Aini dan aku sudah berbeda jalan pemikiran. Ia fokus ke agama sedangkan aku ke jalan lain. Ke jalan yang Aini dan orang tuanya menganggapnya jalan sesat. Tapi tak apa setidaknya orang sesat ini pun juga memiliki sesuatu yang ia percaya.”

Sukarta pun melanjutkan omongannya setelah hisapan rokok kawung pertamanya,” Aku akan kubuktikan bahwa jalan sesat ini akan membuat golongan seperti Aini dan orangtuanya sadar, bahwa nantinya jika ujung jalan sesat ini telah dicapai, rasa was2 jika keluar rumah yang selama ini akan hilang. Bapak Aini yang pimpinan pesantren itu tak perlu ke masjid dengan diawasi serdadu bersenjata. Tak perlu pula sembunyi2 untuk berdakwah. Tak perlu juga menyetor uang infaq untuk si Belanda . Karena kita akan menjadi bangsa yang merdeka!! ”

                “Iya saudara saya paham, jadi Maksud saudara seperti membantu pergerakan begitu? Hah takmungkin , hal itu hanya bisa dilakukan dengan perlawanan fisik bukan dengan pena!”

                “Itu yang kupikirkan saat ini Das!”

Malam yang semakin sunyi membuat otak kita semakin rame. Tak terhitung berapa lagi kami melinting daun jagung kering itu untuk dijadikan rokok. Kami memikirkan sebuah cara perjuangan, perjuangan tanpa pasukan ataupun senapan tapi tetap memberi dampak. Sempat Aku dan Sukarta berpikir untuk membikin brosur politik & ekonomi namun kami sadar atas ketidakmampuan diri sendiri.

Aku mengusulkan lain dengan poster, tapi kita keterbatasan dengan logistik kertas dan tinta. Ide Sukartapun muncul, ia terpikirkan membuat kartu pos kemudian disebarkan ke warga sekitar, setidaknya dengan itu akan terbuka pikirannya atas kebenaran yang sesungguhnya. Aku pun menanyakan akan hendak diisi apa kartu pos itu. Dalam hal ini konten ialah senjata!

                “ Kita akan isi dengan realita yang ada, kita gunakan keluhan teman seperkulian kita itu, atau kasus kesewenang-wenangan Belanda seperti mandor di pabrik kita yang congkak. Kita juga bisa memberikan kalimat-kalimat sederhana dan mudah diilhami yang menggugah perasaan, perasaan sama rasa. Dengan begitu massa akan berkumpul atas dasar senasib dan kemudian perjuangan yang lama tertidur itu akan bangun dan bergerak melawan arus!!”, ujar Sukarta berapi-api.

Kembali saya tanyakan bagaimana dengan logistik, terutama kertas. Memang dalam setiap hal yang ingin kita laksanakan jika itu bisa disusun maka jangan lakukan dengan terburu-buru. Apalagi dimasa darurat logistik seperti ini.

                “Kita bisa minta kertas semen bekas dari teman kita di kuli bangunan, toh sang mandor juga tak keberatan. Kemudian kita sobek kertas semen itu menjadi seukuran kartu pos. Jangan berpikiran stat Das. Dalam hal ini perlu kiranya melakukan apa yang dilakukan bangsa eropa selepas perang kemarin. Kalau disana tak ada ulat sutera padahal mereka butuh sutra maka mereka akan mencari tumbuhan kemudian  mengambil zat yang dikandungnya, dicampurlah zat untuk membuat sutranya mereka”

                “ Iya saudara benar, saya segan dengan akal sauadara lalu kita akan mulai kapan?”

                “ Penambang emas akan segera melarutkan batu yang didalamnya mengandung mas Das!” Sukarta menjawab.

Kamipun bergegas masuk ke rumah sewaan kami tersebut. Pintu kututup, pembagian tugas kami lakukan. Aku mencari kertas yang ada di gudang sedang Sukarta mengurus senjata. Ia membuka koper yang selama ini bertapa dikolong temat tidurnya. Isi kopernya itu selain sepucuk revolver ialah buku peninggalan keikutsertaanya bersama SI dahulu. Ada pula buku dari kawan Frank sebelum ia dibuang ke Guyana Belanda. Sukarta membaca seksama dan menandai jika ada kata yang bisa dijadikan senjata pada setiap buku yang haram beredar itu. Setelah tugas mengurus kertas selesai aku pun tak ketinggalan membantu Sukarta. Kuambil satu buku dan kusaring. Pekerjaan dimulai, Tunggu saja wahai tuan meneer percikan yang Aku dan Sukarta buat akan membuat kobaran dan melalap rumah nyamanmu…………   (bersambung)

Penulis: Airlangga

Editor: Fairuz