Oleh: Akbar Farhatani

Banyaknya kebijakan Kementerian dan Kampus sendiri membuat mahasiswa pendidikan teknik terjebak dalam bayang-bayang kelanjutan karir setelah masa studinya selesai.

Seperti yang kita ketahui bersama, UNY memang merupakan universitas eks Institut Keguruan Ilmu Pendidikan alias IKIP Yogyakarta. Setelah sebelumnya merupakan bagian dari Universitas Gadjah Mada sebagai Fakultas Pedagogik. Nama ‘universitas’ baru disandang pada tahun 1997.

Fakultas Keguruan Teknik atau FKT IKIP Yogyakarta (@unycommunity)

Masih segar dalam ingatan saya, setahun lalu saya mewawancarai dosen saya sendiri mengenai sejarah dan keterkaitannya dengan program studi anyar hari ini. Pada saat melebarkan sayap menjadi universitas, UNY berkesempatan untuk membuka program studi non-kependidikan (nondik). Hal ini bisa kita lihat di beberapa fakultas seperti FBS, FMIPA, dan FISE (kala itu FIS dan FE belum berpisah), yang langsung membuka program studi nondik.

FT? Tidak. FT lebih memilih untuk membuka prodi Diploma III ketimbang membuka prodi S1 nondik. Disinilah awal dari sebuah keputusan jangka panjang itu, yang akan saya bahas dalam tulisan ini.

Polemik gelar

Di medio 2006-2010 (kalau tidak salah, tolong dikoreksi), lulusan prodi S1 dari FT UNY adalah S,Pd.T atau Sarjana Pendidikan Teknik. Ada dua ijazah yang dikeluarkan: ijazah S1 sebagai ‘S,Pd.T’, satunya adalah ijazah D3 sebagai ‘Amd,T’ atau Ahli Madya Teknik. Banyak pihak menilai, bahwa hal ini adalah salah satu keuntungan dan penyebab tingginya daya tawar FT UNY.

Gambar: FT UNY

Mengapa gelar ‘Amd,T’ juga diberikan? Karena Sarjana Pendidikan Teknik memiliki keahlian dan keilmuan setara dengan D3. Hanya itu. Kemudian, konon Kemenristekdikti mengoreksi kebijakan ini sehingga semua lulusan prodi pendidikan teknik disamaratakan dengan lulusan dari prodi pendidikan lainnya seperti saat ini.

Peminat tinggi

Disukai atau tidak, UNY merupakan Lembaga Pendidikan Teknologi Kejuruan (LPTK) nomor satu di Indonesia. UNY juga nangkring di kluster pertama universitas di Indonesia. Sesekali juga masuk sepuluh besar, entah apapun itu standarnya, sebagai mahasiswa kita juga tahu—atas gembar-gembor birokrat yang masif—sekaligus bangga karenanya. Prestasi ini diganjar dengan diperolehnya akreditasi ‘A’ pada 2018 lalu.

FT masih didominasi prodi kependidikan (@unyofficial)

Diakui atau tidak, meskipun prodi-prodi di FT adalah prodi kependidikan, tapi prodi-prodi ini masih tetap menjadi favorit. Bahkan untuk prodi yang akreditasinya belum sempurna. Sebut saja Pendidikan Teknik Informatika—prodi-prodi kependidikan di FT mayoritas berakreditasi A—yang memiliki keketatan sekitar 1:57 di Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UNY 2018. Prodi Pendidikan Teknik Sipil & Perencanaan menyusul dengan rasio 1:40.

Ya, 1:57 itu ketat. Tolong jangan disandingkan dengan prodi di Fakultas Teknik dari kampus lain.

Apa artinya? Walaupun berstatus prodi pendidikan teknik, prodi-prodi di FT UNY masih memiliki daya tawar dan saing yang tinggi. Nama besar UNY sebagai universitas kependidikan memang besar, bahkan menurut penulis sendiri, lebih besar ketimbang universitas eks IKIP yang menyandang nama pendidikan.

Keketatan 1:57 yang dimiliki Pendidikan Teknik Informatika pada tahun lalu digadang-gadang akan tergeser dengan prodi non kependidikan yang telah dibuka pendaftarannya tahun ini.

Soal prodi anyar dan nasib prodi kependidikan

Di tahun 2019, FT UNY memutuskan untuk membuka prodi baru, dimana semua prodi baru ini adalah prodi non kependidikan alias Diploma IV alias Sarjana Terapan. Nantinya, Sarjana Terapan akan menyandang gelar S.Tr. Keempat prodi tersebut adalah Teknik Elektro, Teknik Manufaktur, Teknologi Informasi, dan Teknik Sipil.

Keempat prodi baru ini disambut dengan hangat oleh warga FT, bahkan bagi mahasiswa kependidikan sekaligus, termasuk saya. Bukan apa-apa, saya mendukung langkah ini karena saya mengetahui tidak banyak mahasiswa kependidikan yang berminat jadi guru.

Hasilnya bisa kita lihat di SBMPTN 2019. Tiga prodi FT dengan peminat paling banyak pada SBMPTN 2019 adalah Teknik Sipil, Teknologi Informasi, dan Pendidikan Teknik Boga. Dua prodi tertinggi merupakan prodi baru yang bahkan akreditasinya masih dalam proses, dan akan didapat kira-kira setahun hingga dua tahun ke depan.

Teknik Sipil menjadi prodi FT paling diminati di SBMPTN 2019 (@unyofficial)

Bukan, bukan saya iri, sama sekali tidak. Justru saya sangat ingin menyampaikan pesan-pesan sebagai mahasiswa kependidikan semester tujuh kepada para mahasiswa baru prodi kependidikan, bahwa saya menyebut ini sebagai academic trap.

Iya, anda tidak salah baca, jebakan akademik. Kecuali, kalau anda adalah mahasiswa baru prodi kependidikan yang memang bercita-cita jadi guru.

Kultur UNY selama saya kuliah tiga tahun terakhir memang sangat mencerminkan universitas kependidikan. Kalau anda semua bercita-cita jadi guru, anda sama sekali tidak salah memilih UNY. Di sini kalian benar-benar ditempa menjadi guru yang baik dan benar. Tapi, jika kamu berargumentasi bahwa gelar S.Pd bisa bekerja di lapangan dengan mudah—walau anggapan ini tidak sepenuhnya salah mengingat banyak alumni yang terjun ke lapangan—namun kultur di sini tidak membimbingmu ke sana.

Semoga ini hanya perasaan saya saja.

Para dosen dan pemangku jabatan yang saya ajak berbincang mengatakan, keberadaan prodi nondik ini akan merangsang kultur yang lebih ‘teknik’ lagi. Saya sepenuhnya setuju dengan argumen ini. Tapi tidak dipungkiri, di tahun-tahun yang akan datang, prodi kependidikan akan dipangkas.

Singkat kata, UNY akan tetap mengikuti kemauan pasar.

Kenapa saya menyebut ini merupakan jebakan akademik? Karena mahasiswa baru tidak sepenuhnya mengenal prodi kependidikan teknik, dan apa pengaruhnya nanti di persaingan dunia kerja setelah lulus. Belum soal tantangan-tantangan ala mahasiswa kependidikan yang harus dilewati: micro teaching dan PLP. Bagi mahasiswa yang tidak cocok, tantangan ini bagaikan jembatan shiratal mustaqim yang sulit dilewati.

Apakah sudah cukup? Belum. Bahkan jika anda berniat menjadi guru, anda masih bersaing dengan teman-teman dari prodi nondik yang berminat jadi guru. Mengingat, Kemenristekdikti mengatur sejak 2013 bahwa Pendidikan Profesi Guru (PPG) membuka kesempatan kepada lulusan prodi nondik untuk mengikuti proses PPG. Dimana PPG berisi materi dan latihan yang sama dengan apa yang ditempuh lulusan prodi pendidikan untuk meraih gelarnya.

Banner promosi PPI (FT UNY)

Merasa tidak adil? Itu belum cukup. Program Profesi Insinyur (PPI) yang digunakan sebagai senjata oleh pemangku jabatan untuk menenangkan mahasiswa kependidikan yang resah (re: saya) soal masa depannya, nyatanya dibuka dengan syarat pernah aktif bekerja di bidang terkait selama tiga tahun. Baru bisa masuk PPI, yang lulusannya diganjar gelar Insinyur (Ir.).

Akhirnya, sebagai mahasiswa kependidikan, kita hanya pasrah menerima keadaan, tanpa ada gerakan sama sekali. Resah kalian hanya menguap di kamar kos.

Sementara ancaman berikutnya datang: Kemenristekdikti akan merubah nama prodi kependidikan teknik yang semula ‘Pendidikan Teknik’, menjadi ‘Pendidikan Vokasi’. Sejenak terbayang oleh saya, jika pergantian nama tersebut terjadi sebelum saya lulus.

“Kamu kuliah jurusan apa?”

Dengan ragu-ragu kamu menjawab.

“Pendidikan Vokasi Teknologi Bangunan.”

Justru disaat UNY membuka prodi vokasi, UAD membuka prodi bernama ‘Pendidikan Vokasi Teknologi Otomotif’.

Gambar: UAD

Tapi, semoga saja hanya saya yang merasakan keresahan ini. Kalian cukup mengerjakan tugas-tugas yang seabrek itu. Dan saran saya untuk mahasiswa baru, perbanyaklah skill, ikuti segala macam sertifikasi yang ada, kalau tetap ingin bekerja di lapangan.

Sambil berdoa, semoga regulasi tidak berubah lagi, ditengah paradoks pendidikan tinggi tingkat tinggi.