Rabu (21/8), DA mahasiswa baru  teknik elektro D4, menghadap tim advokasi guna mengeluhkan tentang  tindakan – tindakan yang dilakukan oleh Penegak Kedisiplinan ( PK ) yang dianggapnya terlalu berlebihan.

“Mereka teriak – teriak, suruh lari, suruh segala macem, berlebihan lah mas. PK terlalu berlebihan. Kalau untuk perlakuan fisik belum ada”, Ujar Ardiyanto

 Baginya, penegakan kedisiplinan yang dilakukan oleh PK terlalu mengarah ke ranah semi militer. Baginya, dalam ranah mendisiplinkan mahasiswa baru, cara yang dilakukan harusnya lebih humanis dan bersahabat.

Baca Juga: Tema Pendidikan Kerakyatan Mewarnai Parade Ormawa 2019

Menanggapi hal tersebut, tim advokasi PKKMB FT UNY  menerangkan bahwa tindakan tersebut masih dalam batas normal. Menurut hematnya, tindakan yang dilakukan PK selama masa PKKMB tidak ada yang melanggar peraturan yang telah dibuat sebelumnya.  “tindakan berlebihan ada banyak macam asal tidak bermain fisik dan mengeluarkan kata – kata kotor, kalau menurut saya sih masih dalam batas normal. Mungkin nanti bisa disampaikan kepada panitia dalam eval.”  , Ujar Bayu.

PK mengklarifikasi bahwa tindakan yang dilakukan telah sesuai prosedur

Saat ditemui di RB 5 pendidikan teknik sipil dan perencanaan, Zuhdan menerangkan bahwa tindakan yang dilakukan telah sesuai prosedur. Terkait hal-hal yang dianggap berlebihan oleh mahasiswa baru seperti teriakan dan arahan untuk berlari saat pengkondisian menurutnya hal biasa guna menegakkan kedisiplinan pada peserta PKKMB.

“Kalau sampai teriak pasti ada tahapannya, ngomong baik – baik, ngomong biasa, kayak contohnya cepet tapi kalau emang mahasiswanya tidak bisa suruh cepet harus dinaikan tensitasnya kan. Jadi kita bener – bener melihat situasi dan kondisinya” imbuh Zuhdan

Baca Juga: Pelayanan Medis PKKMB Cukup Memuaskan

Selain itu, dalam penegakan kedisiplinan tidak ada drama yang dibuat. Penegakan kedisiplinan yang dilakukan oleh PK bertujuan mendisiplinkan peserta. Lebih lanjut untuk militerisasi sendri dia tidak menampik adanya hal tersebut, namun cara yang dilakukan kelas berbeda karena unsur fisik tidak dimasukkan didalamnya.

“Kita tidak mengada-ada dan membuat–buat drama. Dari pihak PK sendri kita semua mencoba se-real mungkin, namun jika mereka yang istilah kasarnya menantang, kita akan tindak sesuai peraturan yang dibuat sebelumnya, selain itu untuk militerisasi kita tidak memungkiri, hanya saja kita tidak melakukan perlakuan fisik.”, pungkas Zuhdan.(Nia)